
Dalfi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang cukup lengang. Tidak sampai lebih dari 30 menit, Dalfi sudah memarkirkan mobilnya di basement gedung itu.
Masih didalam mobil, Dalfi sekali lagi menghubungi Sekretaris Kim yang masih berada di kota S. Untuk memastikan keberadaan Vania dan menanyakan tentang barang buktinya.
"Hallo, selamat siang, Tuan!" suara Sekretaris Kim diseberang sana.
"Apakah kau sudah mengirimkan bukti dan videonya?" tanya Dalfi memastikan.
"Sudah, Tuan! Anda bisa mengecek pada kotak masuk email anda," jawab Sekretaris Kim.
"Bagaimana dengan kelanjutan proyek kita yang disana?" Dalfi melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobilnya.
"Semuanya sudah aman, Tuan! Semuanya berjalan sesuai dengan arahan Tuan kemarin!"
"Baiklah, Jika sudah selesai, segera kembali kesini. Aku akan menemui wanita itu dulu!" ucap Dalfi menutup panggilan teleponnya.
Dalfi mengantongi HP nya, dan berjalan masuk ke lobby apartemen. Dengan mengenakan topi dan menutupi wajahnya dengan masker, serta memakai kacamata hitam. Dia bergegas menuju pintu lift khusus barang disamping tangga darurat.
Setelah pintu lift terbuka, Dalfi langsung memencet angka 20. Dalfi berusaha berlagak seperti orang biasa, agar tak memicu perhatian para wartawan yang sedang menunggu Vania keluar dari apartement.
Sebelumnya Dalfi menolak keras jika harus menemui Vania di apartemen. Akan tetapi, Dalfi yang ingin masalah ini cepat selasai, terpaksa harus mengalah. Akan lebih merepotkan jika menemui Vania disuatu tempat selain apartemennya, karena para wartawan pasti akan mengikutinya kemanapun mereka pergi.
Alhasil, disinilah Dalfi berada sekarang. Didepan pintu apartemen Vania.
Tit
Dalfi memencet bel, terdengar suara derap langkah kaki Vania yang sedang berlari menuju kearah pintu.
Setelah pintu dibuka, seketika saja Vania menarik tangan Dalfi untuk masuk kedalam, langsung memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya.
Dalfi yang sempat tertegun kaget, langsung bereaksi saat Vania berhasil menciumnya. Didorongnya tubuh Vania, hingga terduduk diatas lantai.
"Arghhh!!" pekik Vania. "Sayang, kenapa kau tega mendorongku!" menjulurkan kedua tangannya kearah Dalfi, berharap Dalfi mau membantunya berdiri.
Dengan santainya, Dalfi langsung masuk kedalam dan duduk di sofa, tanpa menghiraukan rengekan Vania.
"Cepat hapus berita bohong itu dari sosial media," ucap Dalfi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Berita bohong apa, Sayang! Itu yang memang terjadi diantara kita, dan aku tidak merekayasanya," perlahan berdiri menghampiri Dalfi.
Dalfi menghela nafasnya kasar.
"Aku tidak ingin mempunyai hubungan apapun denganmu lagi. Hubungan kita selesai, setelah kau dengan liciknya mengkhianatiku!" tuding Dalfi marah.
"Aku mencintaimu, Sayang! Dan aku tidak akan pernah mencabut berita itu." Vania kekeh dengan pendiriannya. "Itu caraku untuk bisa mendapatkan mu kembali."
Dalfi mengeluarkan HP dari kantongnya, dan mengirimkan beberapa pesan ke nomor Vania.
Tring.. Tring..
Vania terbelalak saat membuka hpnya. Ketika melihat isi pesan yang dikirim Dalfi ke nomor nya, dan itu berhasil membuatnya tak berkutik.
"Pergi turun ka bawah sekarang! Dan buatlah klarifikasi tentang pernyataanmu itu!" tukas Dalfi.
"Aku tidak mau!" sahut Vania cepat. Sambil terus memperhatikan video, yang memperlihatkannya sedang bermesraan dengan seorang lelaki.
"Hah, sialan! Jadi selama ini aku sudah dibuntuti," batin Vania.
"Sayang, maafkan aku! Tapi kulakukan itu, karena aku sangat mencintaimu!" Vania mencoba mengeluarkan air mata buayanya. Membelai lengan Dalfi dengan lembut.
Ditepisnya tangan Vania dengan kasar, menggeser sedikit tubuhnya. "Baiklah, jika itu maumu!" Dalfi segera beranjak dari tempat duduknya. "Jangan kau salahkan aku, jika aku berbuat diluar dari yang kau bayangkan!"
"Tunggu dulu!" memegangi tangan Dalfi. "Baiklah, Aku akan turun sekarang!" isak Vania sedih. "Tapi, benarkah rasa sayangmu terhadapku sudah hilang tak bersisa?" sekali lagi mencoba merayu Dalfi.
"Jika pernah berani mengusik kehidupanku lagi! Atau akan aku pastikan karirmu akan hancur selamanya," beranjak keluar dari apartemen tanpa menoleh sama sekali.
"Arghhhhh!! sialan kau, Dalfi!" teriak Vania sekencang-kencangnya, setelah tubuh Dalfi lenyap dibalik pintu. Melemparkan semua benda yang berada di dekatnya, meluapkan emosi membakar tubuhnya.
"Tapi, aku tidak akan pernah membuatmu bahagia bersamanya. Kau hanya milikku seorang!" ucap Vania dengan wajah yang berantakan, riasan matanya luntur terkena air mata.
Vania mencoba mengatur nafasnya yang menggebu, diusapnya lelehan airmata yang membasahi pipinya.
"Sel, apakah kau berhasil mengambil fotonya tadi?" ucap Vania memanggil Sella yang sedang bersembunyi di dapur.
"Ini, coba lihatlah!" kata Sella sambil menunjukkan galeri hpnya.
__ADS_1
"Akan aku kirimkan pada istrinya!" menyunggingkan senyuman licik sambil memencet nomor Lisa. Mengirimkan foto dirinya yang sedang berpelukan dan mencium Dalfi tadi.
"Perbaiki riasanku, dan temani aku kebawah!" pinta Vania.
"Untuk apa kau turun kebawah! Kau mau cari mati ya!" cegah Sella, menarik tangan Vania agar duduk.
"Apa kau tidak dengar ucapan Dalfi tadi, hah!" bentak Vania frustasi.
"Iya, aku mendengarnya! Tapi, ini kan terlalu cepat jika kita membuat klarifikasi sekarang!" timpal Sella tak kalah bingungnya.
"Tidak apa-apa! Sepertinya akan lebih seru jika kita mengusik Dalfi melalui istrinya yang polos itu. Hahaha" sambil terkekeh, Vania pergi ke kamarnya, bersiap untuk menemui para wartawan.
"Memangnya, Video apa yang dikirimkan Dalfi padamu tadi?" Sella mengikuti Vania menuju kamar, membantunya untuk bersiap.
"Histtt!" mendengus kesal. "Dia mendapatkan foto-foto saat aku berselingkuh dengan Erik si baji*gan itu. Dia juga sudah mendapatkan kesaksian dari resepsionis yang memberiku kunci kamar Dalfi. Dan pelayan hotel bodoh, yang membawakan teh kekamar Dalfi," sungut Vania lagi.
"Mungkin kamu yang terlalu terlena, hingga tak memikirkan rencana cadangan. Kau kan tahu yang dilawan adalah Tuan Dalfi. Aku penasaran, kau bilang apa sama resepsionis itu?" tanya Sella sambil mengoleskan lipstik warna nude ke bibir Vania.
"Tunanganku sudah menghamili ku, dan dia berniat lari dari tanggung jawabnya. Jika dia tidak memberikanku kuncinya, aku akan memberikan rating terendah untuk hotelnya, dengan menggunakan backingan nama artisku. Dan aku bilang sama resepsionis itu, dia akan ikut bertanggungjawab jika terjadi sesuatu dengan kandunganku," ucap Vania santai.
Sella hanya menggeleng-gelengkan kepala, tidak percaya dengan ide gila temannya itu. Tanganya masih sibuk membenahi make up Vania.
"Rias wajahku dengan riasan ala kadarnya saja, seolah-olah kita sedang bersedih," pinta Vania.
"Iya, aku tahu!" sahut Sella cepat.
Selang beberapa menit, Vania sudah berada di lobby apartemen. Para wartawan langsung berlari menghampirinya, saat mengetahui kedatangan Vania. Mereka menyalakan kamera dan menyodorkan microphone kehadapan Vania.
"Bagaimana tanggapan anda tentang foto-foto yang sudah beredar?"
"Benarkah anda sudah tidur dengan CEO itu?"
"Apakah CEO itu mau bertanggungjawab jawab?"
"Siapa yang berani membocorkan foto-foto tersebut?"
Para wartawan saling berebut melontarkan pertanyaannya. Berdesak-desakan saling berlomba untuk mendapatkan gambar yang paling jelas.
__ADS_1