
Lisa mengutarakan pendapatnya, kondisinya yang serba salah membuatnya sulit memberikan pengertian kepada Dalfi. Baginya mendapatkan seorang suami seperti Dalfi, merupakan hadiah terindah yang diberikan Tuhan untuknya. Lisa tak ingin terlalu serakah dan menjadi wanita yang seakan lupa tentang asal usulnya. Akan tetapi hinaan dan cemooh orang-orang di kantor, berhasil membuat dirinya berkecil hati. Apalagi jika ada yang membandingkannya dengan Vania, dilihat sekilas saja perbedaan fisik antara keduanya sangat amat mencolok.
"Maafkan aku!" isaknya lagi.
Berulang kali Dalfi menghembuskan nafas berat, diraihnya tubuh Lisa, di peluknya tubuh mungil istrinya itu. Diusap nya perlahan lengan Lisa yang terasa dingin karena diterpa udara malam itu. Mencoba memberikan kehangatan didalam dekapannya.
"Sayang, apakah kamu tidak mempercayai ku, berarti selama ini kamu meragukan cinta yang kuberikan?" tanya Dalfi.
"Tidak! Aku sama sekali tidak meragukannya. Akan tetapi aku hanya merasa bahwa semua yang dituduhkan kepadaku memang benar adanya. Kecuali tuduhan jika aku sengaja menggoda dirimu tentunya," sanggah Lisa tidak ingin membuat Dalfi semakin marah.
"Satu hal yang harus kamu tahu, Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri. Aku mencintaimu dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirimu. Aku suka dirimu yang apa adanya. Tidak peduli jika orang mengatakan jika dirimu tidak cantik dan menarik. Tapi bagiku kamu orang tercantik dimataku. Aku telah memilihmu untuk menjadi pendamping hidupku. Jadi mulai sekarang tolong jangan kecewakan aku, jangan pernah menyimpan masalahmu sendiri. Tunjukkan kepada mereka bahwa dirimu memang layak mendampingiku."
Lisa merasa berada diatas awan, melayang-layang saat mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Dalfi.
Dalfi meraih tubuh Vania, membawanya duduk diatas pangkuannya. Diusapnya kedua pipi Lisa yang basah karena air mata yang terus mengalir.
"Maafkan aku! Jangan menangis lagi, mulai sekarang aku tidak ingin melihatmu meneteskan air mata!" lanjut Dalfi.
Dikecup nya kening Lisa, kecupan yang lembut dan dalam, seolah ingin mencurahkan seluruh cintanya.
"Aku berjanji kepada mu, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan pegang semua kata-katamu, jika kamu mengingkarinya, aku akan mengadukannya kepada Ayah dan Ibu," ucap Lisa penuh penekanan.
"Hahahah, sepertinya semua orang sudah beralih menjadi pendukungmu," kini gantian Dalfi yang tertawa mendengar ucapan polos yang keluar dari bibir Lisa. "Kenapa kau menggemaskan sekali."
Dalfi meraih tengkuk Lisa, satu kecupan singkat berhasil mendarat sempurna di bibir Lisa. Tatapan keduanya bertemu, saling melemparkan senyuman dengan wajah yang sama-sama merona. Kecup lagi dan kecup lagi, seakan mengisyaratkan satu kecupan saja tidak cukup.
__ADS_1
Dari satu kecupan beralih menjadi ciuman yang panas dan saling menuntut. Junior yang semula sudah tertidur, kini sudah bangun dengan sempurna.
"Pipi, aku malu," Lisa berbicara sambil menundukkan kepalanya.
Tanpa menjawab perkataan Lisa, diraihnya lagi bibi* mungil itu, tangannya pun seolah tidak ingin kalah, menjamah ke setiap lekuk tubuh yang dipahat sempurna, melanjutkan aktivitas favoritnya. Semilir angin malam seolah tidak mampu mendinginkan suhu panas tubuhnya yang bergejolak. Tanpa melepaskan pau*an, Dalfi menggendong tubuh Lisa yang mungil masuk kedalam. Dengan berat badan yang ringan, tentu saja itu sama sekali tidak membuat Dalfi kesulitan.
Merebahkannya diatas sofa yang empuk. Lisa menikmati setiap sentuhan dan belaian dari Dalfi. Seperti tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan sekali tarik baju tipis yang membalut tubuh Lisa sudah terlempar entah kemana. Dalfi membanjiri setiap inci tubuh Lisa, dengan tanda kemerahan bukti cinta.
"Ahhh, sakit!" pekik Lisa. Tatkala Dalfi dengan serangai nakalnya menggigit kedua tempat favoritnya.
"Maaf, Sayang! Aku khilaf," bisiknya mesra.
Dalfi sudah tidak tahan melihat tubuh mulus yang sudah polos didepannya. Kemudian melucuti seluruh pakaian yang masih membalut tubuhnya, segera menyalurkan hasratnya yang sudah berada di puncak kepala.
Dengan peluh yang sama-sama mengucur, mereka menuntaskan aktivitas malam itu disofa ruang kerja. Perut yang belum terisi, seakan tidak mempengaruhi tenaga yang keluar. Keduanya saling melepaskan rasa cinta yang membuncah dengan caranya sendiri. Entah kenapa setelah bertengkar, pertempuran seperti ini semakin panas dan menggairahkan.
"Biarkan saja! Aku lagi tidak ingin diganggu!" jawab Dalfi dengan posisi masih berada diatas tubuh Lisa.
"Iya, tapi lihat dulu, siapa tahu itu ayah dan ibu!" bujuk Lisa lagi.
"Saaayangg, Aku tidak suka dibantah!" Belum puas menjelajah tubuh mungil istrinya itu. Malah semakin erat mendekap tubuh Lisa.
Lisa hanya bisa diam, jika Dalfi sudah berkata seperti itu. Pasrah dengan apapun yang dilakukan Dalfi dengan tubuhnya. Tanpa menggubris suara bel pintu yang terus ditekan, mereka melanjutkan pertempuran itu ke ronde berikutnya.
Ting tong
__ADS_1
Ting tong
Ting tong
Satu kali, dua kali, hingga sudah kesekian kalinya bel pintu dirumah itu dipencet oleh Sekretaris Kim.
"Jam berapa ini, apakah mereka sudah tidur?" sungut Sekretaris Kim didepan pintu apartemen Dalfi. Ditangannya menjinjing dua buah bungkusan berisi makanan yang dipesan oleh sang bos.
Saat baru tiba dirumahnya, Dalfi mengirimkan pesan untuk membelikan makan malam. Memintanya untuk segera mengantar, karena takut Lisa akan kelaparan setelah siap mandi. Didalam hati, Sekretaris Kim sudah mengeluarkan seribu sumpah serapahnya. Kenapa tidak sekalian pas pulang tadi, singgah dulu sebentar untuk membeli makan malam. Apakah Tuan Dalfi tidak tahu jam macet dikota sebesar ini. Mendengus kesal dalam hati.
Sudah lebih dari lima belas menit Sekretaris Kim berdiri didepan pintu. Beberapa kali mencoba melakukan panggilan ke nomor Dalfi, tetapi berulang kali operator yang menjawab panggilan. Ah, bodoh amat lebih baik aku pulang dan beristirahat. Mungkin besok aku akan mendapatkan sedikit siraman rohani dari Tuan Dalfi setelah ini.
Akhirnya Sekretaris Kim membawa langkahnya untuk kembali pulang ke rumah. Bungkusan makanan yang dibawanya tadi, diberikannya kepada satpam dipos security.
Sedangkan yang berada didalam rumah, dengan santainya melanjutkan aktivitas mereka tanpa perasaan bersalah. Hanya perasaan cinta yang dipenuhi dengan bunga-bunga asmara, yang terlihat dimata keduanya.
"Pi... sudah, aku lelah!" ucap Lisa dengan mata yang setengah terpejam. Dalfi sama sekali tidak melepaskannya barang sedetik pun. Bagaikan singa yang berhasil mendapatkan buruannya, yang tanpa sedikitpun memberikan celah untuk kabur. "Besok aku harus kembali bekerja."
"Besok kamu tidak perlu pergi bekerja lagi! Kamu adalah istriku, dan tugasmu hanya melayani kebutuhan ku, hanya aku yang boleh memberikanmu perintah!" tegas Dalfi tanpa mau menerima penolakan. Malah semakin erat membenamkan ciumannya di ceruk leher Lisa.
"Tapi...,"
"Besok berdandan lah yang cantik seperti biasanya saat dirumah, datanglah kekantor pada waktu jam makan siang."
"Memangnya aku jelek ya saat memakai seragam Office Girl?" ragu Lisa bertanya.
__ADS_1
"Kau selalu cantik dalam pakaian apapun. Sekarang tidurlah!" ucap Dalfi seraya merapikan selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"He'em," jawab Lisa sambil melirik jam diatas nakas yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.