
"Ya ampun, Fi! Ingat, ini masih siang. Taulah yang pengantin baru, tapi ya jangan diruang keluarga kayak gini dong," sindir Bu Rini.
Lisa beringsut menyembunyikan wajahnya didada Dalfi.
"Tanggung nih, Bu! Ibu ini kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja" sahut Dalfi dengan santai nya. "Dalfi keatas dulu ya." Masih setia menggendong Lisa, sedangkan yang digendong seakan ingin segera menghilang dari hadapan mertuanya.
"Mas, udah! Turunin nggak! Lisa malu,Mas." Tukas Lisa setelah sampai dikamar.
"Awas hati-hati!" menurunkan Lisa dari gendongannya. "Ngapain malu, Sayang? Kita kan nggak ngapa-ngapain," Dalfi duduk ditepi ranjang dengan salah satu kaki berada diatas kasur.
Ditatapnya wajah Lisa yang masih merona karena malu. Diusapnya pipi istrinya itu dengan lembut.
"Mas mau ngapain lagi? Udah ya nggak usah pegang-pegang lagi!" Lisa menggerutu jika teringat dengan kejadian dibawah.
"Sayang, ciuman yuk!" ajak Dalfi sedikit merayu.
"Nggak!" jawab Lisa singkat.
"Heleh, mulutnya aja yang bilang nggak mau, tapi pas dicium dinikmati juga, keenakan ya?" canda Dalfi sambil menoel dagu Lisa.
"Hih, apaan sih! Nggak lucu tau. Mandi dulu gih, bau banget," pura-pura menutup hidung dan mengibaskan tangannya, mengusir Dalfi.
"Oke, Sayang! Mas mandi dulu, habis itu kita lanjutkan lagi yang sempat tertunda tadi." Dalfi menebar tatapan genitnya sebelum berlalu kekamar mandi.
"Nggak.. ogah banget." Lisa melempar bantal kearah Dalfi, tapi sayang bantalnya malah jauh terpental, tidak tepat mengenai sasaran.
Dalfi yang melihatnya, tertawa terbahak-bahak sambil berceloteh.
"Idihh malu-malu tapi mau ya! Hahaha." Segera menghilang masuk kekamar mandi.
Lisa yang memperhatikan tingkah lucu suaminya itu tanpa sadar ikut senyum-senyum sendiri. Ini adalah senyuman pertamanya yang memang tulus dari hatinya, sejak dirinya berkenalan dengan Dalfi.
"Hahaha ternyata ada ya orang kayak gitu, Luarnya aja yang sok-sok an jaga image tapi daleman nya somplak." Batin Lisa.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu untuk membersihkan diri, Dalfi keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang terlilit dipinggangnya.
Lisa yang mendapati pemandangan yang tidak biasa, seperti mendapat rejeki nomplok. Terpaku seketika dengan mulut yang menganga, serasa terhipnotis dengan wajah Dalfi yang bersih dan dada yang bidang. Tak lupa otot-otot perutnya yang berbentuk kotak-kotak membuatnya terkesima.
__ADS_1
"Iya, aku memang sudah ganteng dari lahir," ucap Dalfi yang sudah berdiri dihadapan Lisa. Sedikit menunduk untuk mensejajarkan wajahnya dengan wajah Lisa.
Aroma shampoo dan sabun yang menguar, berhasil membuyarkan lamunan Lisa. Lagi-lagi wajah Lisa bersemu merah. Seketika Lisa menundukkan kepalanya karena malu sudah ketahuan memandangi Dalfi.
"Mas, cepetan gih pakai baju!" ucap Lisa demi menutupi kecanggungannya. Lisa merasa dibuat salah tingkah jadinya.
"Aku pakai disini aja ya!"
"Jangannn!" teriak Lisa kaget.
Dalfi yang sedang berdiri didepan meja rias tertawa terkekeh, dengan santainya mengoleskan body lotion ke tubuhnya. Sengaja memperlambat proses ganti baju untuk sekedar menjahili Lisa.
"Mas! Cepetan pakai baju!" sungut Lisa lagi.
"Iya-iya,Hahaha." Berjalan menuju ruang ganti. "Sayang, tadi kamu sudah makan belum?" tanya Dalfi setengah berteriak dari dalam ruang ganti.
"Belum!" sungut Lisa.
Ya iyalah! Orang lagi asyik ngobrol, tau-tau nongol aja, terus ngusir orang pula. Suka-suka hati main gendong kekamar. Gimana mau makan coba?" menggerutu didalam hati.
"Kenapa belum makan, hmmm?" sahut Dalfi yang sudah siap berpakaian. Mendekat menghampiri Lisa yang sudah berubah posisi menyadarkan kepalanya diranjang.
"Oke, tunggu disini! Mas akan kembali sebentar lagi!" ucap Dalfi.
"Mau ngapain, Mas?" tanya Lisa penasaran.
"Ada deh.." seperti biasa mengerlingkan matanya.
"Halah, pakai rahasia segala! Sudah cepatan sana ambilin makannya, lapar!" usir Lisa setengah tertawa.
*****
Dua minggu kemudian.
Suasana dikantor cukup kacau.
Dalfi yang mendapatkan laporan dari Sekretaris Kim mendadak geram. Karena ulah dari salah satu karyawannya, kini nama besar perusahaannya yang harus kena imbasnya.
__ADS_1
Kepala proyek yang ditugaskan untuk mengawasi pembangunan infrastruktur, sudah menggelapkan sebagian anggaran demi kepentingan pribadinya.
"Maaf, Tuan! Untuk masalah ini, Anda sendiri yang harus turun tangan untuk meredam emosi para warga dan juga para pekerja!" terang Sekretaris Kim membacakan laporan ditangannya.
"Lalu bagaimana dengan hasil dari tinjauan mu kemarin, Kim." Duduk bersandar dikursi, memijit pelan kepalanya yang mendadak pusing.
"Hasil dari tinjauan saya kemarin, proyek digarap dengan asal-asalan. Dana yang sudah kita keluarkan dengan hasil kontruksinya sungguh tidak memenuhi syarat. Jalan tol yang baru selesai dikerjakan, tidak layak untuk dipakai. Dan juga gaji sebagian para pekerja belum dibayarkan," Kim menerangkan hasil analisa yang sudah dia kumpulkan selama dua minggu terakhir.
"Maksudnya?"
"Iya, Tuan! Sebagian dana sudah dikorupsi dan bahan-bahan yang digunakan untuk pembangunan jalan tol tidak sesuai dengan proposal yang diajukan," Kim memaparkan dengan sangat jelas.
"Jadi maksudmu mereka mengganti kualitas bahan bangunan dengan harga yang lebih murah," tukas Dalfi.
"Iya, Tuan! Dan juga komposisi dari material yang digunakan juga tidak seimbang. Untuk sementara sudah dilakukan pengujian, dan hasilnya tidak layak untuk dioperasikan," tegas Sekretaris Kim.
"Ban*sat, kurang ajar!" menggebrak meja kerjanya. "Cari orangnya segera,Kim!" perintah Dalfi. Tangannya yang terkepal sampai memperlihatkan urat nadinya.
"Sudah,Tuan! Kami akan melakukan pengejaran meskipun tersangka kabur sampai keluar negeri," jawab Sekretaris Kim.
"Entah apa yang ada dipikiran orang-orang itu. Apakah nyawa orang tidak ada harganya dimata mereka? Bagaimana jika keluarga mereka sendiri yang sedang melewati jalan itu dan terkena imbasnya?". Dalfi mengutarakan isi pikirannya kepada Sekretaris Kim.
Dalfi masih tidak habis pikir dengan pemikiran segelintir orang yang mementingkan perutnya sendiri. Tidak dipungkiri nya, memang dana yang digelontorkan cukup fantastis nilainya. Sungguh sangat menggoda iman para pelaksana proyek, sehingga mereka tidak segan untuk mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan.
Saat sedang serius mengecek laporan, terdengar pintu diketuk. Nampak staff wanita berdiri didepan pintu.
"Maaf, Tuan! Pak Direktur menunggu anda secepatnya diruangannya," ucap staff wanita itu.
"Baiklah! Aku akan segera kesana," kata Dalfi.
Staff itu mengangguk dan menutup pintu dengan pelan.
"Sepertinya Presdir juga sudah tahu masalah ini." Dalfi berkata sambil melihat Sekretaris Kim yang masih setia berdiri ditempatnya.
"Tentunya, Sekretaris Presdir juga sudah mendapatkan laporannya," terang Sekretaris Kim.
"Baiklah, aku akan segera menemui Presdir dan menyelesaikan masalah ini secepatnya." ucap Dalfi sebelum beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Lisa sayang, kenapa susah sekali untuk mengajakmu pergi bulan madu. Huh kenapa aku jadi kangen sama kamu." Gerutu Dalfi dalam hati.