
Dalfi baru bisa memejamkan matanya setelah pukul tujuh malam. Setelah dia meminum segelas teh hangat, yang dia pesan tadi. Rasa kantuknya yang tak tertahan, akhirnya dapat tersalurkan. Tubuhnya yang lelah, membuat tidurnya seperti orang yang mati suri.
Drttt.. Drtt.. Drtt
Hp yang bergetar diatas nakas, sama sekali tidak mengganggu aktivitasnya malam itu. Dalfi tidur dengan posisi telentang, tanpa mengenakan baju, hanya celana boxer saja yang melilit dipinggangnya.
Tit
Bunyi alarm pintu dibuka, terdengar derap kaki melangkah, pelan , seperti maling yang tengah mengendap-endap.
Senyuman licik tersungging dibibir orang itu. Dengan gesit, segera melakukan aksinya dengan cepat. Satu persatu dia melepaskan pakaian dalamnya, dan dengan sengaja dihamburkannya kesembarang arah.
Begitu juga dengan heels yang dia kenakan, sengaja dia lemparkan begitu saja. Tak lupa, dia menghampiri meja dan melihat isi gelas yang sudah tandas tak bersisa.
"Maaf, Sayang! Tapi ini hanya untuk berjaga-jaga," batin Vania.
Setelah itu, Vania kembali keatas ranjang. Melambai-lambaikan telapak tangannya, untuk sekedar memastikan bahwa Dalfi benar-benar tertidur. Kemudian beranjak dari tempat tidur, dan berjalan menuju pintu.
"Ayo, cepat sini masuk!" memanggil kedua temannya yang sudah menunggu diluar. "Aku mau foto dan video yang jelas," titah Vania kepada temannya yang bernama Lulu, yang kebagian tugas memegang kamera.
"Cepetan, keburu ada orang yang datang," lirih Sella yang bertugas menjaga pintu, nampak waspada.
"Iya!" sahut Vania.
Dengan cekatan dia melepaskan gaunnya dan naik ke atas ranjang. Memberikan beberapa tanda lipstik dengan bibirnya dibeberapa bagian tubuh Dalfi, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Vania tidur memeluk Dalfi, dengan pundaknya yang sengaja dia biarkan terbuka. Dan menempelkan dadanya ketubuh Dalfi, sehingga nampak kedua gunung kembarnya yang sedikit mencuat keatas karena terhimpit.
"Lisa!" gumam Dalfi yang berada dialam bawah sadarnya, dan semakin mempererat pelukannya.
"Sialan! Seperti apa rupa wanita ja*ang itu, sampai mampu membuatmu tergila-gila," umpat Vania memaki dari dalam hati.
"Van, sudah! Aku sudah dapat videonya!" ucap Lulu sambil mengacungkan jempolnya.
Vania hanya mengibaskan tangannya, menyuruh kedua temannya itu keluar dulu.
Dalfi yang mengira bahwa itu Lisa, semakin memperat pelukannya. Begitupun dengan Vania, sudah lama dia merindukan belaian lembut tangan Dalfi. Hingga tanpa disadarinya, dia ikut terbuai dalam kehangatan pelukan malam ini.
Drttt.. Drttt
Suara getaran HP kembali berbunyi, Vania sedikit mengendurkan pelukannya. Meraih Hp Dalfi dari atas nakas.
"25 panggilan video tak terjawab. Hmmm, Istriku sayang!" batin Vania. Diotaknya langsung terbesit rencana licik.
"Jangan panggil aku, Vania! Jika aku tak bisa mendapatkanmu lagi." Vania membuka HP milik Dalfi. "Ternyata masih sama paswordnya," ucap Vania sambil menekan nomor Lisa.
__ADS_1
Tut
Baru dering pertama, panggilan langsung tersambung. Nampak wajah Lisa yang tersentak kaget, saat mengetahui ada seorang wanita yang sedang mengangkat telepon suaminya.
"Hallo, kenapa, Mbak?" tanya Vania santai, sengaja menurunkan selimut untuk memperlihatkan dadanya.
"Dimana, Mas Dalfi?" ketus Lisa.
"Mas Dalfi? Maksudmu Dalfi Winata, dia tunanganku!" sahut Vania setengah memekik.
"Dimana dia?" mata Lisa mulai berkaca-kaca.
Vania segera menghadapkan layar handphonenya kearah Dalfi. Diperlihatkan bagian dada Dalfi yang penuh dengan noda lipstik. Vania sengaja menyingkapkan selimut yang menutupi setengah tubuh Dalfi.
"Kami sedang bersenang-senang disini. Lihatlah, Dalfi sedang tertidur pulas. Dasar, menggangu saja!" cela Vania.
"Maaf, jika aku sudah menggangu kalian," Lisa langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Dalfi yang mendengar suara berisik, langsung terbangun. Dengan kepala berdenyut, seketika terperanjat kaget, saat melihat Vania yang duduk diatas ranjang tanpa menggunakan busana.
"Apa yang kau lakukan disini!" bentak Dalfi marah sambil merampas HP dari tangan Vania. Kepalanya yang pusing, sudah tak dihiraukannya lagi.
"Kau yang memanggilku kemari. Apakah kau lupa?" isak Vania berpura-pura sedih.
"Enyah kau dari hadapanku! Keluar!" suara Dalfi menggema memenuhi setiap sudut kamar itu.
Dalfi membuka HPnya dan mengecek panggilan yang masuk. Dan membaca beberapa pesan yang belum terbuka.
Maaf, tadi hpnya dikamar
Mas, masih sibuk ya
Sudah makan belum?
Mas, lagi kemana sih? Angkat dong!
Dalfi membaca beberapa rentetan pesan dari Lisa yang masuk.
"Arghhh, sialan!" Dalfi membanting HP nya keatas lantai
******
Sejak siang tadi, aku terlibat perbincangan yang seru dengan mertuaku, hingga aku tidak terlalu memperhatikan keberadaan benda pipih kesayanganku itu. Sesampainya dikamar, saat membuka HP.
"Hah, Ada telepon dari Mas Dalfi, tiga kali lagi," batinku merasa bersalah.
__ADS_1
Saat aku hendak berniat menelepon Dalfi, terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
"Maaf, Nona! Tuan dan Nyonya akan menunggu anda untuk makan malam!" kata Bibi pelayan.
"Baiklah, aku mandi dulu! Aku akan kesana nanti!" jawabku. Seharian berada diluar ruangan, cukup membuat badanku terasa lengket.
Maaf, tadi HPnya dikamar
Aku mengetikkan pesan pada Mas Dalfi, berharap menunggu balasan. Tetapi hanya centang satu yang terpampang dilayar HP.
Mas, masih sibuk ya!
Karena pesannya masih belum terkirim, kemudian aku meletakkan HP diranjang.
"Aku akan menelepon Mas Dalfi nanti saja, sehabis makan malam. Lebih baik sekarang aku mandi dulu!"
Aku menyelesaikan makan malamku dengan cepat, dan segera berpamitan tidur, karena sepanjang hari ini memang sungguh melelahkan bagiku. Kuharap ayah dan ibu memaklumi sikap tidak sopan ku ini. Hihihi
Setelah melihat pesannya belum juga terbaca, aku berinisiatif menelepon Mas Dalfi. Berulang kali tidak ada jawaban. Perasaan khawatir dan cemas mulai menjalari seluruh tubuh. Pikiran buruk juga ikut mulai bermunculan.
"Apa aku telepon Sekretaris Kim saja," batinku. Tapi setelah mencari-cari nama didaftar kontak, Aku sama sekali tidak menemukan nama Sekretaris Kim.
"Alamak, aku kan belum minta nomornya Pak Kim,"
Berulang kali kucoba mengirimkan pesan dan beberapa kali pula, aku mencoba melakukan panggilan, tetapi hasilnya tetap nihil.
Aku terperanjat kaget, saat aku sibuk dengan pikiran negatif, hpku tiba-tiba berdering. Panggilan masuk dari Mas Dalfi tersambung. Hatiku sedikit lega, pikiran buruk yang muncul tadi seketika sirna.
Saat layar terbuka, sontak mataku terbelalak. Bukan sosok ini yang aku cari, dimana Mas Dalfi berada.
"Vania," jeritku dalam hati.
Siapa yang tak kenal dengan model cantik itu. Akan tetapi, apa yang sedang terjadi? Seorang wanita cantik tanpa memakai busana, hanya memakai selimut untuk menutupi tubuhnya, dengan rambut yang berantakan. Didalam kamar seorang pria dewasa.
Dengan santainya, Dia memperlihatkan posisi Dalfi yang sedang tertidur, dengan noda lipstik hampir memenuhi seluruh tubuhnya.
"Sudah kuduga, dia pasti masih menyimpan perasaan padanya." Pikirku.
Tanpa terasa buliran air jatuh dari pelupuk mataku. Aku menangis dalam diamku. Kecewa, itu sudah pasti, kenapa kau lakukan itu, disaat aku mulai mencintaimu. Mungkin tidak akan begitu menyakitkan, jika perasaan ini belum muncul.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
M**ohon dukungannya, jangan lupa like, dan komentar nya... kalau mau kasih gift juga boleh hohoho
Karena like mu adalah penyemangat ku!
__ADS_1
Terima Kasih**