
Emosi Lisa sedikit mereda, setelah Ratna datang ke kamarnya dan mengajaknya mengobrol. Saat sedang menunggu Ratna yang sedang membuatkan jus untuknya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan yang masuk.
Lisa langsung tersentak kaget, saat melihat isi pesan singkat itu. Seketika matanya terbelalak, memandangi gambar Vania yang begitu mesranya sedang menci*m bibir Dalfi.
Amarahnya kembali tersulut. Bagaikan daun kering yang terbakar, dan yang sudah hampir padam, akan tetapi dengan sengaja kembali disiram dengan minyak. Agar api yang keluar lebih panas.
Lisa menutup ponselnya dengan cepat, dan sengaja meletakkannya begitu saja diatas meja. Ruangan kamar berhawa sejuk karena pendingin, seketika medadak mengeluarkan hawa panas.
Lisa mencoba menghirup dan menghembuskan nafasnya perlahan secara berulang kali. Demi menetralkan deguban jantungnya yang semakin kencang.
"Sepertinya aku membutuhkan udara segar!" batinnya. Dengan langkah yang tertatih, Lisa keluar dari kamar menuju kolam ikan disamping rumah.
Ratna yang melihat Lisa keluar dari kamar, terburu-buru menghampirinya. "Nona, anda mau kemana?" tanya Ratna dengan membawa segelas jus diatas nampan.
"Aku jenuh didalam kamar!" sahut Lisa. "Hmm, bawakan jus nya ke taman! Sekalian tolong ambilkan ponselku diatas meja!" pinta Lisa sambil tersenyum manis.
"Baik, Nona!" ucap Ratna berlalu pergi menuju kamar.
Setelah mengambil ponsel, Ratna terlihat setengah berlari mengejar Lisa. Berjalan mendampinginya, untuk memastikan Lisa sampai dibangku taman tanpa terjatuh.
"Apakah saya boleh menemani Nona?" tanya Ratna sembari meletakkan jus dan ponsel diatas meja.
"Tidak usah! Sepertinya aku ingin sendiri!" Lisa menolak permintaan Ratna dengan halus.
"Kalau begitu, Saya permisi!" ucap Ratna kembali kedapur.
__ADS_1
"Terima kasih!" sahut Lisa.
Beberapa menit duduk dipinggir kolam, terdengar derap langkah kaki yang sedikit berat mendekat kearahnya. Lisa melirik Dalfi yang nampak berlari dari kejauhan, datang mendekatinya.
Lisa sama sekali tidak menghiraukan kedatangan Dalfi, bahkan hanya mendengarkan suaranya saja sudah membuatnya sangat gondok.
"Apa ini,Mas? Tolong jelaskan padaku?" Lisa membuka pesan gambar dari ponselnya, dan menunjukkannya kepada Dalfi.
Dalfi tercengang dengan mata yang nyaris melotot, tapi sepersekian detik menghela nafasnya dengan pelan.
"Apa yang terjadi, tidak seperti yang terlihat dalam gambar itu?" jelas Dalfi. "Aku hanya menemuinya sebentar saja. Aku memintanya untuk tidak mengusik kehidupan kita lagi!"
"Tapi, kenapa mesti di apartemen sih?" marah Lisa. Nada ketus mulai keluar dari mulutnya.
"Dan juga, lihatlah foto ini lagi, Mas!" pinta Lisa. "Mas sepertinya bahagia saat Vania menci*mmu?" selidik Lisa dengan menyipitkan matanya.
"Kamu cemburu ya?" goda Dalfi sambil menaik turunkan alisnya.
"Idih, Jangan kepedean deh!" tukas Lisa memalingkan wajahnya. Tangannya kembali melemparkan makanan ikan kedalam kolam.
"Bilang aja kalau cemburu, Sayang!" ejek Dalfi dengan memasang muka semanis mungkin.
"Nggak! Sudah sana jauh-jauh deh! Aku masih marah hlo, Mas!" Lisa berusaha menyembunyikan hatinya yang sedari tadi bergejolak.
Dua hari berturut-turut, isi pikiran Lisa dibuat semrawut oleh dua orang sepasang mantan tunangan yang belum berhasil move on. Entah kenapa, jika hati sedang tak karuan, segala kegiatan yang dilakukannya terasa sangat melelahkan. Semuanya menjadi serba salah, karena hal sepele sedikit saja bisa membuat emosinya ikut naik.
__ADS_1
"Ya sudah kalau masih marah! Sebenarnya Mas tadi cuma mau ngasih ini kekamu!" sambil mengangkat beberapa kantong plastik yang diletakkannya diatas meja. "Padahal Mas tadi sengaja mampir ke taman, hanya sekedar untuk membelikanmu ini!" mulutnya yang monyong menunjuk kearah bungkusan.
Lisa melirik sekilas tangan Dalfi yang menggantung membawa tentengan.
"Ini ada seblak pedas level 10, ada gado-gado, terus ada siomay dan juga sop buah porsi jumbo. Beneran nih kamu nggak kepengen? Kalau nggak mau, aku kasih sama bibi aja nih!." Sesaat menoleh melihat ekspresi Lisa.
"Aku mau! Aku mau!" pekik Lisa dalam hati.
"Bi..!" teriak Dalfi memanggil pelayan.
"Jangan!" sergah Lisa cepat. "Sini, aku mau!" ucapnya menahan malu.
Dalfi sebisa mungkin menahan dirinya untuk tidak tertawa. "Ini nih kalau sok jual mahal!" ejek Dalfi.
"Ini niat mau ngasih nggak sih! Kalau nggak niat, mending bawa masuk deh!" Lisa yang mendengar ucapan Dalfi kembali merajuk.
"Sayang, sudah dong marahnya!" bujuk Dalfi yang sudah menggeser kursinya, di genggamnya erat kedua tangan Lisa.
Memegang dagu Lisa, meminta Lisa agar menatap dirinya. "Sayang, maafin Mas, ya! Mungkin kedepannya, Vania akan lebih banyak mengganggu hubungan kita. Dan juga akan lebih sering membuatmu emosi dan marah. Aku tahu dengan benar, bagaimana sifat Vania. Empat tahun menjalin hubungan dengannya, membuatku tahu dan paham betul akan sikapnya! Mas mohon! Apapun yang terjadi nanti, kamu harus selalu mempercayai perkataan Mas!" ucap Dalfi serius.
Lisa diam memperhatikan ucapan Dalfi. Dia tidak tahu, harus memberikan jawaban yang seperti apa. Pikiran dan hatinya sama-sama sedang kacau, sulit mencerna kejadian yang baru-baru saja terjadi.
Baginya masih sulit untuk menentukan keputusan, disaat hatinya sedang galau. Terlebih lagi perasaannya pada Dalfi yang baru saja mulai bersemi, tetapi sudah terpaksa harus goyah terkena badai.
"Dan ada lagi yang ingin aku beritahukan kepadamu!" Dalfi menggantung ucapannya. Nampak berpikir untuk tidak melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1