
"Oke, baiklah Tuan Putri! Kita mau makan dimana?" Dalfi bertanya.
Dari pertama kali saat keluar dari rumah, akhirnya tiba juga saatnya ketika Dalfi yang harus gantian bertanya tentang arah tujuan mereka.
"Hmmm, Mas marah ya?" agak memutar badannya menghadap kearah Dalfi.
"Kenapa mesti marah?"
"Sepertinya aku mengacaukan kencan makan malam romantis kita?" sahut Lisa cepat. "Tapi maaf, walaupun aku menghabiskan sampai sepuluh piring spaghetti, sepertinya itu tidak akan bisa mengenyangkan perutku. Ya harap maklum, perutku akan merasa terus kelaparan jika belum terisi nasi!" ucap Lisa dengan senyuman yang agak dipaksakan karena sungkan.
"Justru Mas yang merasa bersalah, karena tidak bertanya tentang pendapatmu dulu!"
"Tapi terimakasih Mas, pengalaman ini nggak akan pernah aku lupakan!"
"Kalau begitu sekarang kita mau kemana?" Dalfi bertanya sambil mengurangi laju mobilnya.
"Aku mau makan nasi goreng pedas disekitaran taman kota X, boleh?" Lisa balik bertanya pada Dalfi. Memastikan kalau keinginannya itu tidak merepotkan Dalfi.
"Siap, Bos!" Dalfi mengarahkan setir mobilnya menuju taman kota X, yang terletak tak jauh dari lokasinya sekarang berada.
Karena jalanan sepi, tak sampai sepuluh menit mobil Dalfi sudah berada di taman kota. Dalfi memperlambat laju mobilnya, sambil celingukan melihat kekanan dan kekiri, mencari penjual nasi goreng gerobak yang masih mangkal didaerah itu.
__ADS_1
"Itu Mas!" tunjuk Lisa yang mengarah pada penjual nasi goreng yang berada diseberang jalan.
Dalfi mengarahkan pandanganya sesuai dengan arah jari telunjuk Lisa. Nampak hanya ada satu gerobak penjual nasi goreng yang masih buka, dikerumuni beberapa pelanggan yang sedang mengantri.
Sejenak Dalfi memperhatikan suasana disekitaran penjual itu.
"Sayang, kamu yakin mau makan disini?"
Lisa hanya menganggukan kepalanya, perutnya yang terasa lapar seakan semakin memberontak saat melihat kepulan asap yang berasal dari gerobak penjual itu. Membayangkan betapa nikmatnya makan nasi goreng dipinggir jalan saat malam hari, ditemani segelas es teh dan kerupuk udang. Tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali, Tanpa disadarinya Lisa menelan air liurnya.
"Kita makan dimobil saja ya?"
"Kenapa, Mas jijik ya?" tanya Lisa ragu.
"Tapi Mas, aku ikut ya! Aku kan sudah lama nggak makan dipinggir jalan," rengek Lisa setengah memohon.
"Sayang, angin malam itu tidak bagus untukmu! Lagian kamu lihat disana, ada banyak mata lelaki yang pasti akan melirikmu!" cegah Dalfi lagi. Membuka pintu mobil dan segera menyeberang, menghampiri penjual nasi goreng, membaur dengan para pelanggan yang lainnya.
Lisa hanya menatap punggung Dalfi yang menjauh.
Sepuluh menit berlalu..
__ADS_1
Karena dirasa sudah cukup lama Dalfi tidak segera kembali, Lisa berinisiatif untuk menyusulnya. Lisa menyambar jas yang tersampir dikursi, dan memakainya. Kemudian membuka pintu mobil dan segera turun menyusul Dalfi.
Wushhh hembusan angin malam bertiup setelah pintu mobil terbuka, menerpa wajah Lisa yang masih terlihat segar. Bagaikan seekor burung yang terlepas dari sangkarnya, dengan perasaan senang Lisa sedikit berlari ingin menyusul Dalfi.
Tinnnn
Suara klakson motor yang nyaring, seketika mengagetkan Lisa yang hendak menyeberang jalan.
"Woi, kalau jalan dipakai dong matanya!" teriak pengendara motor memaki. Setelahnya kabur, menghilang ditikungan depan.
Dalfi yang juga terkejut mendengar teriakan pemotor tadi, langsung membelalakan matanya.
"Lisa!" pekik Dalfi.
Tergesa-gesa menghampiri Lisa yang sudah terduduk terkulai lemas, tanpa menghiraukan panggilan pedagang nasi goreng yang memegang uang kembalian.
"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Dalfi panik, mengecek seluruh bagian tubuh Lisa.
Lisa hanya diam tak menjawab. Tangannya gemetaran karena kaget. Baru dua langkah dia menjejakkan kakinya hendak menyeberang, suara klakson dari motor yang tiba-tiba lewat berhasil membuatnya jantungan.
Dengan sigap, Dalfi menggendong tubuh Lisa masuk kedalam mobil. Setelah memastikan tidak ada luka serius.
__ADS_1
"Kan, Mas sudah bilang, tunggu saja dimobil! Kenapa kamu keras kepala, hah!" bentak Dalfi.
Karena sangking paniknya, tanpa sengaja Dalfi malah memarahi Lisa.