Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 51 Cemburu (Part 1)


__ADS_3

Kecanggungan sangat terasa didalam mobil. Dalfi yang tadi bersikap romantis, berubah menjadi dingin. Suasana mencekam tiba-tiba terasa mengiringi perjalanan pulang kali ini. Dalfi melemparkan pandanganya keluar jendela. Melihat jalanan yang penuh sesak dengan para pengendara yang hilir mudik.


Lisa memandang Sekretaris Kim dari kaca spion, seolah ingin bertanya ada apa dengan sang bos yang mendadak berubah sikap. Sekretaris Kim seperti tahu apa yang sedang dirisaukan oleh Lisa, hanya mampu berkata tidak tahu menahu dari gerakan bola matanya dan ekspresi wajahnya.


Keadaan seperti ini, berlangsung sampai mereka tiba di apartemen.


"Pipi.." panggil Lisa dengan suara manja. Melemparkan tasnya ke sofa dan berlari memeluk Dalfi sesaat setelah pintu tertutup.


Dalfi masih diam saja, enggan menjawab panggilan dari Lisa. Tanpa sedikitpun melihat wajah Lisa, membuang pandangan ke sembarang arah. Karena merasa tidak ada tanggapan dari Dalfi, akhirnya Lisa mencoba untuk mengajaknya berbicara. "Pipi, kenapa diam saja, kamu marah padaku?"


"Aku akan istirahat sebentar diruang kerjaku!" Dalfi melepaskan pelukan Lisa dan berjalan menjauhinya.


Lisa nampak memikirkan penyebab dari kemarahan suaminya itu, sehingga dia tega mendiamkannya seperti ini. Biarkan saja dulu, aku akan mandi dan memasak makan malam. Mungkin dia butuh waktu untuk menyendiri. Siapa tahu dengan begitu dia tidak akan marah kepadaku lagi. Lisa berlalu pergi kekamar dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena keringat.


Setelah satu jam menghabiskan waktu untuk membersihkan diri. Lisa membawa langkah kakinya menuju kedapur. Ruangan itu tidak terlalu luas namun memiliki perabotan yang cukup lengkap. Niatnya memasak berubah, saat melihat ada note tertempel di pintu kulkas. Tulisan tangan Ratna tersusun rapi, mengatakan bahwa Ibu membawakan beberapa menu kesukaan Dalfi, diletakkannya didalam kulkas dan tinggal menghangatkan jika hendak makan.


Ibu memang berhati malaikat, selalu tahu apa yang sedang dibutuhkan. Batin Lisa. Tanpa membuang waktu, Lisa segera mengeluarkan dua buah menu didalam kotak plastik dan memanaskan nya sebentar. Dengan cekatan menyajikannya diatas meja makan. Setelah semuanya siap, bergegas Lisa menghampiri ruang kerja Dalfi.


Lisa nampak sedikit galau, berjalan mondar mandir didepan pintu. Antara masuk atau tidak. Selesaikan sekarang atau biarkan saja. Dengan hati-hati Lisa mengetuk pintu.

__ADS_1


"Pipi..," panggil Lisa dari balik pintu. Suasana hening, tidak ada sahutan. Sekali lagi mengetuk pintunya, menempelkan daun telinganya demi memastikan bahwa Dalfi masih berada didalam. "Pipi, apakah aku boleh masuk?"


Lagi-lagi tidak ada sahutan. Sejenak Lisa ikut terdiam, berpikir sedang apa Dalfi didalam. Kenapa tidak menjawab, apakah dia sudah keluar. Pertanyaan yang bisa dilontarkan didalam hatinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lisa langsung saja menekan handle pintu, kepalanya celingukan, mencari dimana Dalfi berada.


Dilihatnya kursi kerja dan sofa yang masih rapi, seketika matanya langsung tertuju pada pintu balkon yang terbuka. Dengan langkah pelan, Lisa mendekat kearah Dalfi. Dilihatnya punggung lebar suaminya yang masih terbungkus dengan kemeja kerja dengan lengan baju yang dilipat sebatas siku, Dalfi sedang menikmati semilir angin malam yang menyapu wajahnya.


"Pipi...?" ucap Lisa seraya memeluk Dalfi dari belakang. "Kamu marah ya? maaf jika aku sudah membuatmu tersinggung." Mengeratkan pelukan, menempelkan wajahnya demi bisa menikmati aroma tubuh yang khas maskulin.


Dalfi menghembuskan nafas sejenak, kemudian memilih duduk disofa panjang sambil menyandarkan tubuhnya. Lisa frustasi karena merasa diabaikan, ini sudah yang kedua kalinya pelukannya ditepis. Didalam hati, Lisa sudah sangat menggerutu kesal. Mungkinkah hanya karena panggilan dan pesan yang tidak dijawabnya, Dalfi tega mendiamkannya.


"Mas!" Langsung naik keatas pangkuan Dalfi, kedua tangannya memegang wajah Dalfi, sehingga hidung keduanya saling bersentuhan. "Katakan apa salahku, aku paling tidak suka jika kamu mendiamkanku seperti ini.


"Apa? menggoda bagaimana?" tanya Lisa bingung.


Walaupun dalam keadaan marah, jika dihadapkan dengan posisi seperti ini, lelaki mana yang bisa tahan dengan godaan tubuh seksi dari makhluk Tuhan yang bernama wanita. Lisa memakai lingeri berwarna hitam, dengan rambut tergerai berantakan yang masih setengah basah. Tubuhnya yang harum dan kulitnya yang putih mulus, berhasil membangunkan juniornya.


"Kamu sengaja membujuk ku dengan berpakaian seksi kan?" Dalfi berusaha menahan diri agar hatinya tidak mudah luluh. Aku sudah sangat tergila-gila saat melihatmu dikantor saat hanya memakai seragam OG, apalagi sekarang. Dalfi bergumam dalam hati.


"Apa sih, Mas! Kan Mas sendiri yang mengisi lemari pakaian ku dengan baju model yang sama. Sekarang, jangan mengalihkan topik, kenapa Mas mendiamkanku seperti ini!" tegas Lisa.

__ADS_1


"Duduklah dulu!" menepuk tempat kosong disebelahnya, menyuruh Lisa untuk pindah. Dalfi takut akan menerkam Lisa dulu karena tidak mampu menahan hasratnya.


"Aku sudah duduk!" jawab Lisa tanpa merubah posisinya, malah semakin menempelkan tubuhnya kedada Dalfi, mengalungkan kedua tangannya. Mencoba menahan senyumnya. Aku kan genit kepada suamiku sendiri, tidak ada salahnya kan. Pikiran dalam benaknya.


"Aku cemburu!" memalingkan wajahnya, mukanya memerah mencoba menahan gengsinya. Tidak mudah baginya untuk mengakuinya.


Lisa yang mendengar jawaban konyol dari Dalfi, seketika tertawa terbahak. "Hahahah kenapa Mas mesti cemburu?" bergantian antara menutup mulut dan memukul pundak Dalfi. "Maaf, maaf," berhenti tertawa, saat melihat Dalfi cemberut.


"Aku tidak suka ada orang lain yang menyentuhmu, terutama Ardan! Kau bisa menceritakan masalahmu kepadanya, tetapi kenapa tidak denganku. Aku kan suamimu, seharusnya aku adalah orang pertama tempatmu berkeluh kesah!" Dalfi meluapkan segala kekesalan dihatinya.


Lisa mengubah posisi duduknya, turun dari pangkuan Dalfi dan memilih duduk di sampingnya. Di genggamnya kedua tangan Dalfi, "Maafkan aku, Mas! Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya tidak ingin menjadi beban untukmu!" ucap Lisa menundukkan kepala.


"Sayang, apa yang kamu bicarakan? apakah kau tahu, aku sudah berjanji didepan pusara kedua orang tuamu, bahwa aku akan selalu menjaga dan melindungimu, aku tidak akan membiarkan siapapun berani menyakitimu. Tapi apa yang sudah kamu lakukan, kamu lebih rela berbagi masalahmu dengan Ardan ketimbang denganku, Aku ini suami sah mu, seharusnya kamu hanya berbagi suka dukamu kepadaku saja!" ucap Dalfi memperjelas perkataannya.


Lisa menundukkan kepalanya, tidak berani memandang Dalfi, diam seribu bahasa. Dalfi mengambil nafas, merasakan genggaman tangan Lisa yang berubah dingin. "Setelah ijab qobul terucap, sepenuhnya kamu sudah menjadi tanggung jawabku. Semua masalahmu, sekarang menjadi masalahku juga. Aku lebih senang jika kamu menggantungkan hidupmu dipundakku. Dengan seperti itu, aku selalu merasakan dibutuhkan olehmu. Apakah kamu tidak pernah mengganggap ku ada, sehingga lebih memilih berkeluh kesah dengan orang lain?"


"Maaf, maafkan aku! Aku hanya merasa takut!" ucap Lisa, matanya mulai mengembun, bersiap menumpahkan isi didalamnya.


"Apa yang kamu takutkan?" mengangkat dagu Lisa, nada bicaranya sudah berubah lembut.

__ADS_1


"Jika aku bergantung kepadamu, aku takut semua yang dibicarakan oleh orang-orang itu akan menjadi kenyataan. Kau akan membuangku jika sudah bosan. Bukankah kau tahu, status kita berbeda, pernikahan kita pun terjadi karena keterpaksaan. Aku takut kehilanganmu, dan merasakan sakit hati, Aku tidak ingin jika suatu saat semua itu benar terjadi!" ungkap Lisa dengan suara terisak.


__ADS_2