
Sendirian saja, Pak?" sapa Ardan ketika sampai dipos security. Kemarin dia sempat berkenalan walaupun hanya sebentar.
"Eh, iya Tuan! Sebenarnya sama Pak Supri, tapi sekarang lagi gantian makan siang," jawab Pak Basuki.
"Boleh saya gabung disini, Pak?"
"Tentu saja, silahkan! Mari masuk sini!" menggeser sedikit kursi yang didudukinya, agar Ardan bisa leluasa ikut duduk didalam pos.
"Pak Basuki sudah berapa tahun kerja disini?". Menarik sebuah kursi. Ardan sengaja pergi ke pos security untuk mencari teman mengobrol. Rasanya sudah tidak nyaman jika dia harus ikut ibunya menemani mengobrol dengan Lisa.
" Sudah lama sekali, Tuan. Mungkin sekitar 20 tahunan."
Sebenarnya tugas Pak Basuki dirumah itu sebagai tukang kebun yang merawat semua tanaman di taman, termasuk juga ikut merawat tanaman Bu Rini. Yang bisa dibilang, hampir semua tanamannya membutuhkan perawatan dan pengawasan yang ekstra.
"Panggil Ardan saja, Pak! Tanpa perlu tambahan Tuan."
Pandangan Ardan menyapu sekeliling pos. Ruangan dengan lebar 3x2 meter itu tampak nyaman dan cukup membuat penghuninya betah.
Walaupun perabotan didalamnya tidak lengkap, tapi dapat dikatakan layak dijadikan tempat kerja. Nampak ada sebuah TV, dispenser air dan beberapa minuman sachet serta kipas angin yang sepertinya tidak pernah dimatikan. Serta buku catatan untuk mengetahui siapa saja tamu yang datang berkunjung.
"Ah ya nggak boleh begitu, Tuan ini kan temannya Tuan Dalfi."
"Kalau begitu, panggil saja Mas! Saya risih kalau dipanggil dengan sebutan Tuan." Ardan tidak ingin terlalu basa basi. Menurutnya dia bukan orang yang pantas menerima panggilan seperti itu.
Angin sepoi-sepoi dari pepohonan yang rapi berjajar semilir menerpa wajah Ardan. Cukup menyejukkan, mengingat siang ini matahari sangat terik.
"Kak Ardan? Kakak lagi ngapain disini?" Ardan menoleh mencari darimana sumber suara yang memanggilnya.
Ratna yang kebetulan datang membawakan kopi hitam untuk Pak Basuki, langsung menyapa ketika tahu siapa tamu yang sedang berbincang dipos.
Huh! Gadis ini lagi..
"Ah, Aku lagi ngobrol sama Pak Basuki! Kamu ngapain disini? Sudah nggak ada kerjaan ya!" tanya Ardan langsung pada intinya.
"Aku mengantarkan pesanan Pak Bas!" Menjunjung tinggi nampan yang dibawanya sambil tersenyum. "Pak Bas, makan dulu gih! Biar Ratna yang bantuin jaga dipos."
" Beneran nggak apa-apa?" sahut Pak Basuki sumringah. Dia sudah tidak sabar menunggu Pak Supri yang dari tadi belum juga kelihatan batang hidungnya.
"Iya, cepatan sana. Tapi jangan lama-lama!" tukas Ratna.
__ADS_1
Pak Bas segera menghambur pergi kedapur. Perutnya yang keroncongan sudah tidak dapat dikondisikan lagi.
"Kak Ardan sudah makan? Kenapa nggak duduk didalam saja? Disini panas banget. Kakak masih ingat kan sama aku." Ratna mencoba membuka topik pembicaraan. Tetapi pikirannya sedang sibuk membayangkan saat pertama kali bertemu.
Ini pertemuan kedua mereka setelah tidak sengaja berkenalan saat resepsi kemarin. Tentunya berkenalan versi dirinya sendiri. Ratna yang sedang fokus berjalan, tidak sengaja menumpahkan nampan yang dibawanya ke baju Ardan. Saat sedang bertugas membawa hidangan, kakinya tersandung tumpukan kabel.
Brug
Ratna jatuh terjerembab, tangannya membentur batuan koral. Beruntung ada Ardan yang membantunya berdiri. Akan tetapi semua hidangan yang dibawanya berhasil mengotori baju Ardan.
"Aaaa ya ampun, Tuan! Maaf, maafkan saya, Tuan! Saya tidak sengaja, Saya mohon! Jangan beritahu Tuan Dalfi. Saya masih mau bekerja disini!" ucap Ratna memohon.
Sangking kagetnya langsung saja membungkuk dihadapan Ardan. Tangannya sibuk membersihkan baju Ardan dengan tissu. Tak kalah sibuk dengan mulutnya yang terus nyerocos minta maaf.
"Awas minggir! Singkirkan tanganmu!" pikiran Ardan yang sedang kalut, bagaikan api yang disiram bensin dengan kejadian ini.
"Ah, ****! Sial banget aku hari ini."
Penampilan nya sungguh sangat berantakan persis seperti suasana hatinya. "Bisa tidak matanya dipakai betul-betul?" bentak Ardan.
"Ma-maafkan saya, Tuan!" ucap Ratna terbata-bata.
"Tunggu,Tuan! Silahkan ikut saya!" tanpa menunggu jawaban dari Ardan, Ratna langsung menarik paksa tangan Ardan menuju ruang Laundry.
"Hei, mau ngapain lagi sih!" bentaknya.
Ardan yang kaget tangannya ditarik, tidak sempat membantah. Mengikuti kemana Ratna akan membawanya. Sesaat tadi, dia sempat malu karena banyak pasang mata yang memperhatikan. Begitulah mereka berkenalan dengan cara yang tidak disengaja.
"Hei, Kesambet kamu ya! Ngapain senyum-senyum sendiri! Nggak jelas banget sih!" tanya Ardan. Menepuk pelan kepala Ratna dengan koran yang sedang dipegangnya. Tepukan Ardan sukses membuyarkan lamunan Ratna.
"Hah! Apa!" Ratna tersentak kaget, dengan wajah yang merona malu karena ketahuan melamun. " Kak, baju yang kemarin itu sudah bersih. Nanti Ratna akan ambilkan!"
Ardan menghela nafas dalam. Mengingat kejadian kemarin.
"Maafkan sikapku kemarin! Aku tidak bermaksud membentakmu!" ucap Ardan datar.
"Ah, tidak apa-apa! Justru harusnya aku yang minta maaf karena telah mengotori baju Kakak" ucap Ratna.
Menghela nafas lagi. " Waktu itu, pikiran ku sedang kalut, sebenarnya aku tidak ingin datang menghadiri undangan kemarin" cerita Ardan.
__ADS_1
"Kakak suka dengan Nona Lisa?" sahut Ratna.
"Iya" sambil matanya melihat air mancur di taman."Eh, kenapa aku jadi curhat sama kamu!" berpaling menatap Ratna, tersadar dengan ucapannya.
"Tidak perlu khawatir, aku bisa jaga rahasia!" sembari bergaya seakan-akan sedang mengunci mulutnya. "Mata tidak akan pernah bisa berbohong" timpal Ratna.
" Tanganmu sudah sembuh?" tanya Ardan memcoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Ah, ini! Hanya luka kecil. Tidak masalah" menunjukkan sikunya yang masih dibalut dengan plester. "Kakak sudah lama ya menyukai Nona Lisa, sejak kapan kalau boleh tahu?"
Melirik Ratna sekilas, sebelum membuang jauh pandangannya keluar.
"He eh, Entah sejak kapan aku mulai menyukainya, perasaan itu timbul dengan sendirinya" ungkap Ardan menceritakan kegalauan hatinya.
"Lalu kenapa Nona Lisa tidak membalas perasaan kakak?". Ratna yang duduk berhadapan dengan Ardan, bisa melihat langsung perubahan sikap Ardan ketika sedang membicarakan Lisa.
" Dari pertama kali kita bertemu, Lisa sudah menganggap ku sebagai kakaknya. Tidak ada perasaan lebih baginya." Angin yang keluar dari kipas berhasil membuat rambut Ardan sedikit berantakan, tetapi itu sama sekali tidak menganggu ceritanya. " Eh, kenapa malah jadi keenakan ngobrol!
Beranjak pergi meninggalkan Ratna sendirian. Bermaksud masuk kedalam menyusul ibunya.
"Hahaha tenang saja, Kak! Aku siap menerima curhatan Kakak" berlari mengejar langkah Ardan yang sudah jauh didepan.
"Sudah sana! Suka ya kau makan gaji buta" ledek Ardan tanpa menoleh.
Ratna hanya bisa terkekeh menahan tawa melihat tingkah laku teman majikannya itu. Sebelum akhirnya berbelok memilih jalur yang berbeda dengan Ardan.
Dirinya langsung menuju kedapur.
"Lhah kok kamu sudah ke sini? Aku kan belum selesai makan" teriak Pak Bas.
"Pak Bas sih! Kelamaan makannya" balas Ratna.
"Terus siapa yang jaga dipos?" sahut Pak Bas.
"Nggak ada!" terang Ratna dengan entengnya.
"Haduh! Matilah aku, Tuan besar bisa marah, kalau tau dipos nggak ada orang!.
"Si Supri ini juga malah sibuk pacaran."
__ADS_1