
Lisa terlelap dalam tidurnya, setelah matanya lelah mengeluarkan air mata. Bayang-bayang wajah Vania yang hanya berbalut selimut, terus menghantui pikirannya. Perasaan marah, sedih, kecewa, cemburu, campur aduk menjadi satu.
Butiran-butiran air mata tanpa bisa dikontrol terus saja menetes dari kedua matanya. Seakan memiliki sumber mata air yang tidak akan pernah ada habisnya, walaupun dilanda kemarau berkepanjangan.
Sakit hati karena dibohongi dan dikhianati, terasa lebih menyakitkan daripada rasa sakit yang dialaminya saat mengetahui ibunya telah meninggal karena kecelakaan.
Ingin rasanya dia pergi dari rumah ini secepatnya, menghilang dari hadapan Dalfi. Akan tetapi, dia tidak tahu kemanakah harus mencari tempat untuknya bersembunyi. Lisa merasa sangat jijik, jika membayangkan adegan-adegan panas yang sudah terjadi didalam kamar hotel itu.
Karena lelah dengan pikirannya sendiri, akhirnya dengan wajah yang sembab dan kamar yang sangat berantakan, dia tertidur dengan pulasnya.
"Mas?" setengah tersadar dia memanggil nama suaminya.
Wangi tubuh Dalfi yang tiba-tiba menyeruak di hidung, sudah seperti obat penenang untuknya. Pelukan hangat yang sudah beberapa hari ini dirindukannya, terasa sangat nyata dialam mimpinya.
"Tidurlah, Sayang! Maaf aku telah membuatmu meneteskan air mata," bisik Dalfi di telinga Lisa sambil mempererat pelukannya.
Saat membuka pintu kamar, hatinya yang bergemuruh seketika kembali tenang. Saat mengetahui keberadaan istrinya, yang sudah terlelap dikamar. Dengan tempat tidur berantakan penuh dengan tissu yang berserakan.
Dalfi yang sudah sangat merindukan Lisa, terus saja naik ke tempat tidur, memeluk dan menciumi kening Lisa dengan lembut. Ikut merebahkan badannya yang letih, memejamkan matanya, dan tertidur disamping Lisa tanpa mengganti pakaiannya.
Seperti baru sesaat tertidur, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ayah dan Ibu sengaja tidak membangunkan anak dan menantunya itu untuk pergi sarapan. Ibu sudah menceritakan kejadian semalam kepada ayah.
"Bi, biarkan saja mereka bangun sendiri, jangan diganggu, ya!" pesan Ibu kepada pelayan.
Ibu sudah bersiap untuk pergi ke acara bakti sosial yang diadakan oleh Asosiasi istri-istri para pengusaha.
"Siapkan saja dulu makanannya, nanti kalau mereka ingin makan, baru dipanaskan lagi," ucap Ibu sembari berjalan menuju mobil.
"Jika mereka bertanya tentang kami, katakan pada mereka, mungkin malam ini kami tidak akan pulang, jadi tidak usah menunggu untuk makan malam," lanjut Ibu menenteng tas berbahan kulit buaya, berwarna sama dengan busananya.
__ADS_1
"Baik, Nyonya! Apakah Tuan juga akan ikut ke acara bakti sosial?" tanya Bibi pelayan dengan sopan.
"Iya, Tuan akan menyusul nanti. Oh iya, dan satu lagi, laporkan semua kegiatan Dalfi dan Lisa selama saya tidak ada dirumah. Segera hubungi jika ada sesuatu hal yang terjadi." Titah Ibu.
Sebenarnya Ibu khawatir dengan keadaan anak dan menantunya. Tetapi, Ibu juga tidak mungkin membatalkan jadwal yang sudah direncanakan dari dua bulan sebelumnya.
"Baik, Nyonya! Hati-hati dijalan!" ucap Bibi seraya menutup pintu mobil.
Sedangkan Dalfi dan Lisa yang sejak tadi dibicarakan oleh Ibu, malah semakin mempererat pelukannya. Keduanya masih bergumul diatas tempat tidur, merasakan badan yang sangat lelah, padahal tidak melakukan apa-apa.
Lisa yang masih belum tersadar sepenuhnya, merasakan tubuhnya sedang dipeluk seseorang. Perlahan mencoba membuka matanya, bayangan wajah Dalfi nyata berada didepan matanya.
"Apakah ini mimpi?" mengerjapkan matanya sambil tangannya membelai wajah Dalfi. Ditelusurinya setiap inci wajah suaminya, yang sudah lima hari ini dirindukannya.
Dibelainya kedua mata Dalfi, lalu turun kehidung kemudian diusapnya perlahan bibir Dalfi menggunakan ibu jarinya. Ditangkupkan kedua telapak tangannya dipipi Dalfi, dikecupnya lembut bibir suaminya itu.
"Jika ini mimpi, kumohon biarkanlah seperti ini sebentar saja," lirihnya.
"Kenapa kau tega mengkhianatiku, Mas!" isak Lisa dengan suara lirih. "Aku tahu pernikahan kita hanya sebatas pernikahan kontrak, tapi setidaknya hargailah perasaanku," tangisnya semakin menjadi.
Lisa mengendorkan pelukannya, dipukulnya dada Dalfi berulang kali. "Pergi! Pergi dari hadapanku! Aku tidak ingin melihatmu, walaupun hanya dalam mimpi sekalipun," Lisa mendorong tubuh Dalfi agar menjauh darinya. Beranjak bangun dari tidurnya. Namun kini dirasa pelukannya malah semakin erat.
"Maaf.. maafkan aku, Lis! Aku bersumpah tidak terjadi apa-apa malam itu," ucap Dalfi memeluk sambil duduk. Hatinya sempat berbunga, saat Lisa mengecupnya.
"Ternyata ini bukan mimpi! Ini benar-benar kamu, Mas." Batin Lisa tak percaya.
Wajah keduanya sama-sama sembab, dengan mata yang agak sedikit bengkak. Kedua mata Lisa bengkak karena terlalu banyak menangis, sedangkan Dalfi karena kurang tidur.
"Lepaskan aku! Aku sesak, tidak bisa bernafas!" Lisa memberontak, mencoba meregangkan pelukan Dalfi.
__ADS_1
Dalfi terpaksa melepaskan pelukannya, karena Lisa terus saja mendorong tubuhnya dengan marah.
"Sayang, Maafkan aku! Aku akan membuktikan bahwa itu hanya akal-akalan Vania," duduk berhadapan sambil memegang kedua tangan Lisa.
"Sudahlah, Mas! Seharusnya aku yang minta maaf! Mungkin aku yang salah mengartikan setiap perhatianmu. Lagipula pernikahan kita hanya sementara saja!" ucap Lisa yang sudah mengubah posisi duduknya di tepi ranjang.
Dalfi ikut turun dari tempat tidur, berjongkok diatas lantai, menghadap kearah Lisa dan meletakkan kepala dipangkuannya.
"Lis, taukah kau bahwa aku sangat merindukanmu, aku sangat tersiksa saat kau tidak ada didekatku. Cukup sekali ini saja, kita harus berjauhan. Jika kedepannya aku ada urusan keluar kota, aku akan selalu membawamu untuk menemaniku." Menatap kedua mata istrinya dengan intens.
"Terserah kau saja, Mas! Permisi, aku ingin kekamar mandi," usirnya secara halus. Tertatih-tatih Lisa mencoba berjalan kekamar mandi.
"Ayo, aku gendong!" bujuk Dalfi.
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" ketus Lisa.
"Akan aku ambilkan tongkatmu," beranjak berdiri.
"Tidak usah! Aku tidak ingin memakainya lagi," tolak Lisa. Bergegas menghilang kedalam kamar mandi.
"Huftt!, memang sudah seharusnya jika kamu marah, tapi yang terpenting buatku, kamu tidak pergi dari rumah ini," gumam Dalfi menghela nafasnya kasar.
Didalam kamar mandi, Lisa melamun saat menatap wajahnya didepan cermin. Perasaan kurang percaya dirinya kembali mencuat keluar.
"Walaupun aku tidak secantik mantanmu, setidaknya kamu bisa mengatakannya padaku jika kamu masih mencintai Vania. Aku rela jika harus melepaskanmu. Dan juga tolong jaga sikapmu, jangan memberikanku perhatian yang berlebih. Aku takut salah mengartikannya lagi."
Lisa masih belum bisa mempercayai setiap perkataan Dalfi. Hatinya bimbang dan galau, mana yang harus dia percayai. Baginya sungguh mustahil, cinta yang sudah dibina cukup lama, akan kalah dengan perasaannya pada wanita yang baru saja ditemuinya.
Vania berpacaran dengan Dalfi hampir empat tahunan, sedangkan Dalfi baru mengenalnya beberapa bulan.
__ADS_1
"Maaf, seharusnya aku menyambutmu dengan senyuman terbaikku setelah beberapa hari kau sibuk bekerja. Tapi, sekarang malah sebaliknya yang kau dapatkan. Aku memang istri yang tak berguna."