Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 50 ILuVyu


__ADS_3

"Astaga! Sudah pukul empat sore. Kenapa dia tidak membangunkanku!"


Lisa tersentak saat melihat jam yang menempel didinding kantor Dalfi. Melihat ke setiap sudut ruangan, mencari dimana sosok suaminya berada. Akan tetapi setelah menelusuri kesetiap sudut, sosok yang dicari tak juga dapat ditemuinya.


"Kemana dia pergi, seharusnya dia kan membangunkanku dulu sebelum pergi!" Lisa bersungut kesal didalam hati, melangkah menuju kamar mandi. Sedikit merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan. "Hufftt Bagaimana kalau tiba-tiba ada orang yang datang dan melihatku tertidur disofa?"


Lisa keluar dari ruangan kantor dengan wajah yang sedikit kesal. Dengan santainya dia keluar, hendak menuju tempatnya bekerja. Pasti Bu Mirna akan marah dan menginterogasiku dengan sejuta pertanyaan. Begitu pikirnya. Tatapan beberapa orang yang iri kepadanya, yang juga fans garis keras dari Dalfi Winata seolah sudah menjadi hal biasa baginya.


Mereka sengaja meninggikan nada bicara saat Lisa berjalan melewati meja kerjanya.


"Lihatlah si Lisa itu, Bukannya bekerja, dia malah enak-enakan menghabiskan waktunya didalam sana. Pasti tadi dia sibuk merayu Tuan Dalfi!" tuduh staff itu sarkas.


"Iyalah, apalagi ada Sekretaris Kim yang menjadi back up nya," imbuh kawannya lagi.


Lisa yang sudah terlanjur kesal dengan semua tuduhan itu, merasa seperti mendapatkan tempat untuk melampiaskan kemarahannya.


"Hei, jika kalian memang penasaran, kenapa tadi tidak ikut masuk saja kedalam. Siapa tahu Tuan Dalfi akan lebih tergoda dengan rayuan kalian!" ucap Lisa tidak mau kalah.


"Dasar wanita tidak tahu malu, harusnya Sekretaris Kim tidak sembarangan menerima karyawan dengan status pendidikan rendah sepertimu. Sudah jelek, tidak tahu sopan santun pula!" staff itu menghina Lisa didepan beberapa karyawan lainnya.


"Walaupun aku tidak cantik seperti kalian, tapi kenyataannya Tuan Dalfi lebih menyukaiku. Percuma saja kau menghabiskan banyak uangmu untuk perawatan agar terlihat cantik, sedangkan Tuan Dalfi melirikmu saja tidak sudi!"


Lisa mengambil nafas perlahan, demi meredam gemuruh didalam hatinya. "Oh ya, kalau bisa lakukan perawatan untuk mulutmu juga, agar tidak sembarangan menuduh orang tanpa bukti!"


"Mau bukti apa lagi, sudah jelas, kan, buktinya, semua orang melihat bahwa kau sering menghabiskan waktumu diruangan Tuan Dalfi daripada menyelesaikan pekerjaanmu! Untuk apa coba, seorang karyawan rendahan berlama-lama didalam sana!" balas staff itu.


"Hah, selalu saja aku yang kena fitnah, kenapa tidak ada orang yang berani membicarakan Mas Dalfi sih," batin Lisa.


"Kenapa diam saja, benar kan yang aku katakan tadi!. Orang sepertimu lah yang merusak citra perusahaan menjadi kotor. Melamar pekerjaan menggunakan koneksi, sesudah diterima malah enak-enakan merayu Tuan Dalfi," staff itu merasa besar kepala, karena sudah memberikan bukti yang Lisa minta.


"Hahah, percuma saja menjelaskan sesuatu kepada orang yang berhati iri dengki sepertimu, buang-buang waktu ku saja!" ucap Lisa seraya berlalu pergi.

__ADS_1


"Hei, jangan sombong dulu! Tunggu saja kau akan dibuang layaknya sampah jika Tuan Dalfi sudah bosan padamu. Aku akan sangat menantikan hari itu tiba!" pekik staff itu penuh emosi saat melihat Lisa tak menggubris ucapannya.


"Dan aku akan menunggu permintaan maafmu kalau tuduhanmu itu tidak benar!" balas Lisa sebelum masuk kedalam lift.


Staff yang tadi berteriak terlihat tersulut emosi. Beberapa orang lainnya hanya diam saja, dan sebagian lainnya ada yang berbisik-bisik, memperhatikan tanpa ada yang berani melerai ataupun ikut campur.


"Sudah biarkan saja! Kenapa kamu malah membuat keributan seperti ini. Jika Tuan Dalfi mendengar, kita pasti akan terkena masalah nanti," suara Ria yang sedang berusaha menenangkan temannya itu. Diambilnya segelas air putih, " Duduk dan minumlah! Tenangkan dirimu!".


Lisa masih berada didalam lift yang membawanya turun, dalam suasana hati yang tak karuan, dia membuka ponselnya dan membaca pesan yang baru saja masuk.


(Sayang, kamu dimana?)


Nampak Lisa memainkan jemarinya, mengetikkan pesan balasan.


(Waktu kerja sudah selesai, aku mau pulang!)


(Aku tunggu ditempat biasa) Dalfi


(Sayangg, tunggu aku, sebentar lagi meeting selesai)


Lisa memasukkan ponselnya kedalam saku, terasa berat untuk membawa jemarinya menekan qwerty ponselnya sekedar membalas pesan dari Dalfi.


Saat Lisa keluar dari lift, sudah banyak orang yang bersiap merapikan tempat kerjanya. Bergegas dengan waktu, agar tidak terjebak macet dijalan.


"Kau darimana saja?" tanya Bu Mirna saat melihat Lisa masuk kedalam pantry.


"Maaf, Bu!" hanya itu saja yang dapat Lisa ucapkan, sambil menundukkan kepalanya.


"Sudahlah, Kau selesaikan sisa pekerjaan disini setelah itu baru boleh pulang. Itu hukumanmu karena kau sudah menghilang beberapa jam!" perintah Bu Mirna.


Sebenarnya Bu Mirna sudah tahu kemana perginya Lisa. Akan tetapi demi menjaga wibawa dan menghindari tuduhan karena berlaku tidak adil, Bu Mirna terpaksa memberikan hukuman. Dan mempersilahkan OG dan OB yang lain untuk pulang lebih awal.

__ADS_1


Akhirnya pekerjaan Lisa selesai. Setelah lebih dari dua jam dia berkutat dengan peralatan kebersihan. Karena hari ini jadwal kuliahnya kosong, Lisa berencana untuk segera pulang ke rumah dan membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket. Tanpa mengganti baju seragamnya, Lisa menyambar tasnya dan pergi keluar dari ruang pantry.


Sudah beberapa kali ponselnya berdering, panggilan masuk dan pesan singkat dari Dalfi memenuhi layar ponselnya. Ah, Abaikan saja! Paling juga dia sudah pulang duluan karena tidak sabar menungguku. Begitu gumam Lisa setelah melihat panggilan terakhir sekitar 30 menit yang lalu.


"Kak Ardan!" panggil Lisa dengan suara yang cukup nyaring. Terlihat Ardan sedang mengobrol dengan beberapa temannya.


Hari sudah menjelang malam saat Lisa baru saja turun. Dan suara Lisa berhasil menyita perhatian beberapa karyawan yang masih nampak lalu lalang disekitar lobby. Walaupun jam kerja sudah lama usai, masih ada segelintir orang yang hanya sekedar mengobrol ataupun sedang menunggu jemputan.


"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Ardan. Diperhatikannya penampilan Lisa dengan teliti, sedikit berantakan. "Tumben lembur?"


"Hari ini sungguh sangat melelahkan!" jawab Lisa singkat.


"Ayo, Kakak antar pulang!" ajak Ardan dengan tanpa canggung. Langsung menggandeng tangan Lisa.


"Terima Kasih, tapi itu tidak perlu!" suara serak dan berat, terdengar dari belakang. Seketika membuat tengkuk Lisa menjadi merinding.


Dalfi berdiri tepat di tengah-tengah antara Lisa dan Ardan. Melepaskan genggaman tangan Ardan, dan dengan posesifnya melingkarkan salah satu tangannya dipundak, mendekatkan tubuh Lisa kedalam dekapannya.


Sontak pemandangan itu membuat histeris para wanita yang masih berada di sekitar lobby. Bahkan ada yang sempat berteriak tidak percaya. Sedangkan karyawan lelaki hanya menganggukan kepala dan tersenyum tipis. Ardan terlihat biasa saja menyaksikan itu.


"Bukankah sudah kukatakan, aku akan menunggumu!" ucap Dalfi santai.


"Tapi aku.."


cup


Dalfi sedikit memamerkan kemesraan dengan memberikan sebuah kecupan di kening. "I Love You, istriku tersayang!"


Lisa hanya terpaku dengan bola mata yang hampir terkeluar, kaget dengan semua perlakuan Dalfi yang mendadak. Mulutnya bisu, terasa kelu untuk mengeluarkan kata. Hingga saat tangannya ditarik oleh Dalfi, baru setengah dari kesadarannya pulih.


"Ayo, kita pulang! Sekretaris Kim sudah menunggu."

__ADS_1


Dalfi menggandeng tangan Lisa, masuk kedalam mobil yang sudah sejak tadi menunggu didepan lobby. Meninggalkan kantor dengan kehebohan yang baru saja dia ciptakan.


__ADS_2