Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 53 Tidak biasanya


__ADS_3

Desas-desus dengan cepat menyebar melalui satu mulut ke mulut yang lainnya. Kejadian kemarin malam membuat orang yang tidak menyaksikannya secara langsung menjadi penasaran. Kehebohan terjadi dibeberapa divisi. Banyak yang membumbui cerita semalam, dengan cerita versi masing-masing.


Karena saking gemparnya, bahkan ada yang rela berdebat dengan security hanya demi ingin melihat rekaman CCTV, membuktikan bahwa cerita yang mereka dengar memang benar-benar terjadi.


Dalfi masuk kedalam gedung perkantoran dengan langkah tegas.Suara bisik- bisik yang tadi sempat terdengar seketika lenyap, saat melihat Dalfi datang bersama Sekretaris Kim yang berada dibelakangnya. Pagi ini, raut wajah ramah yang suka tersenyum kepada setiap karyawan yang menyapanya mendadak sirna, berubah menjadi wajah datar nan garang. Tidak ada karyawan yang berani menyapa Dalfi ketika bertembung dengannya, bahkan hanya untuk sekedar tersenyum. Mereka hanya berani menundukkan kepala tanda hormat.


"Kosongkan jadwal ku setelah makan siang! Batalkan semua meeting pagi ini!"


"Tapi pagi ini Anda punya jadwal meeting dengan klien yang penting!" ucap Sekretaris Kim seraya memencet tombol buka pada pintu lift.


Dua perintah yang keluar dari mulut Dalfi, berhasil membuat Sekretaris Kim menjadi kelabakan. Pasalnya klien yang akan mereka temui ini sudah lama membuat janji temu.


"Terserah kau mau buat alasan apa, tunda meeting nya sampai besok!" ucap Dalfi memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana.


Sikap angkuh sang CEO mendadak kumat. Keputusan sepihak dan tidak dapat diganggu gugat seperti ini lah, yang sering membuat Sekretaris Kim terkadang ingin berubah menjadi PowerMan yang memiliki sejuta kekuatan ajaib.


"Baik, Tuan!" jawab Sekretaris Kim patuh. Mau tak mau, dia harus menuruti perintah atasannya.


Selalu saja seperti ini terus kejadiannya. Dia yang bermasalah dengan wanita, tetapi kenapa aku yang selalu dibuat kalang kabut. Sekretaris Kim hanya bisa menghujat sang bos dari dalam hati, pasrah menerima takdir.


Dalfi memasuki ruang kerjanya dengan mencoba menahan amarah yang sudah beberapa bulan terakhir ini ditahannya. Hinaan dan cacian yang dilontarkan mereka kepada Lisa, berhasil membuatnya naik pitam. Jika bukan karena menghargai keputusan istrinya, tentu saja sudah dari hari sebelumnya masalah itu diselesaikannya.


Beberapa berkas sudah siap tersusun rapi diatas meja kerjanya. Untuk agenda hari ini, Dalfi hanya akan fokus memeriksa laporan. Membubuhkan tanda tangan di berkas yang memerlukan tanda tangannya. Dirinya merasa enggan keluar dari kantor, sebelum memberikan hukuman bagi para pembully.


Sementara itu di apartemen, Lisa baru saja terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara berisik dari vacum cleaner yang menyala. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Perutnya yang belum terisi sama sekali dari semalam, meronta-ronta seakan menabuh genderang mengajaknya berperang. Dengan masih berbalut selimut, Lisa melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Selamat siang, Nona!" sapa Ratna setelah melihat Lisa yang sudah rapi keluar dari kamarnya.


"Sudah sangat siang ternyata!" terkekeh malu didepan Ratna.


"Saya akan memanaskan sarapan Nona terlebih dahulu. Tadi Tuan Dalfi berpesan, agar jangan menganggu istirahat Anda. Jadi saya tidak berani membangunkan Anda!" ucap Ratna sopan.


"Tuan Dalfi sudah pergi, jadi kau tidak perlu bersikap sopan seperti itu!" balas Lisa santai. "Teruskan saja pekerjaanmu, biar aku yang mengurus sarapanku!"


"Kau tidak bekerja hari ini!" tanya Ratna seraya menyapu. Piring yang berada ditangannya tadi, kini sudah berpindah tempat ketangan Lisa. Dia baru berani bicara santai jika Lisa sudah memberinya ijin.


"Tuan Dalfi tidak mengizinkan ku bekerja lagi, tapi makan siang nanti dia menyuruhku untuk datang kekantor!" Mengunyah sepotong roti bakar yang diolesi dengan selai coklat.


"Kenapa?"


"Entahlah, sepertinya aku sudah membuat banyak kekacauan," ujar Lisa geli. "Mulai hari ini mungkin kita bisa berangkat bersama ke kampus. Kegiatan ku sekarang hanya harus rajin kuliah dan lulus secepatnya dengan nilai yang memuaskan."


"Oh, tidak apa-apa! Aku tahu bagaimana rasanya terdesak kebutuhan sehingga membuat kita harus bekerja lebih keras! Semangat!" ucap Lisa yang mengepalkan telapak tangannya.


"Eeee maaf kalau boleh tahu, setelah dari kantor, kau akan kemana lagi?" tanya Ratna.


"Mungkin aku akan langsung pulang. Kenapa?" Lisa menjawab sambil membersihkan piringnya yang sudah kosong.


"Ah, tidak ada!"


"Kalau kau sudah selesai, sebaiknya langsung kembali ke rumah utama saja. Jadi waktumu untuk beristirahat masih tersisa banyak. Aku akan menyiapkan makan siang sebelum kekantor!" kata Lisa.

__ADS_1


"Aku akan membantumu dulu!" tawar Ratna yang sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Ah, tidak perlu. Aku bisa menyiapkannya sendiri!" tolak Lisa secara halus.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit!" Ratna menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya. Mengecek ponsel dan membalas beberapa pesan singkat, sebelum berpamitan keluar dari apartemen.


Lisa tiba dilobby kantor, sepuluh menit sebelum jam makan siang tiba. Penampilannya sungguh sangat berbeda dari sebelumnya. Setiap mata yang melihatnya berhasil dibuatnya takjub.


Walaupun hanya memakai riasan tipis dan rambut yang digerai ala kadarnya, namun penampilannya yang elegan mampu membuat siapa saja terpana. Semua yang dipakainya hari ini merupakan barang keluaran merk ternama, kecuali tas bekal makan siang berwarna pink bergambar hello kitty.


"Apakah aku harus membuat janji dulu untuk bertemu Tuan Dalfi?" tanya Lisa sopan kepada resepsionis yang bertugas.


"Maaf, Nona! Kami hampir tidak mengenali anda! Silahkan saja langsung menuju ruangan CEO!" jawab resepsionis itu menundukkan kepala, keberanian seketika menciut menghadapi gadis yang sedang berdiri didepannya.


"Terima Kasih, aku akan langsung keatas!" Lisa dengan santainya langsung menuju lift. Pandangan mata tajam penuh intimidasi dari para fans garis keras, seakan tidak mampu melumpuhkannya.


Dulu mereka sangat senang saat Vania masih berstatus sebagai pacar Dalfi, pesona kecantikan serta prestasi yang dimiliki olehnya, seolah mampu mengimbangi kepopuleran seorang Dalfi Winata. Sekarang keadaan seperti berbanding terbalik, Lisa yang notabene hanya seorang gadis biasa dengan asal usul yang tidak jelas berhasil menggeser posisi Vania dihati Dalfi dengan mudahnya.


Aku tidak rela jika Lisa menjadi istri Tuan Dalfi. Pasti Tuan Dalfi sudah terkena ilmu hitam dari gadis kampungan itu. Begitu protes yang keluar dari mulut mereka. Tanpa dihiraukan ocehan yang lalu lalang di telinganya, Lisa terus melangkahkan kakinya.


Saat tiba di lantai yang dituju, suasana sepi dan hening langsung menyambutnya.


"Apakah mereka sudah pergi keluar makan siang, kenapa sepi sekali?" gumam Lisa dalam hati.


Tanpa membuang banyak waktu, Lisa mengetuk pintu dengan hati-hati. Saat pintu terbuka, spontan matanya terbelalak.

__ADS_1


"Mas, apa yang sedang kamu lakukan?" pekik Lisa histeris.


__ADS_2