
"Dan ternyata, sekarang aku harus berbesar hati mengakui kekalahan!" ucap Lisa lagi, saat melihat wajah Dalfi yang masih kebingungan.
"Maksudnya?" kening Dalfi berkerut, sedang mencoba mencerna pernyataan yang keluar dari mulut Lisa.
"Hahahaha," Lisa tergelak saat mengingat tingkahnya sendiri waktu itu. "Maafkan aku, Mas! Aku terlalu sombong dan angkuh saat pertama kali mengenalmu. Hingga dengan kepercayaan diri yang tinggi, aku menantang mu dan mengatakan jika aku tidak pernah akan jatuh ke dalam pelukanmu. Tapi kenyataannya...," Lisa membenamkan wajahnya didada bidang suaminya. Mengakui setiap kebodohan yang telah dia lakukan.
"Berarti Mas yang sudah memenangkan taruhan ini!" ucap Dalfi bangga.
Lisa enggan menjawab, semakin tertunduk malu mendengar ucapan Dalfi.
"Karena Mas pemenangnya, maka Mas berhak mendapatkan hadiah!" Dalfi memiringkan sedikit tubuhnya.
"Apa?" Seketika menatap wajah Dalfi. "Dengan harta yang kamu punya, tentu saja tidak sulit untuk membeli hadiah yang kamu inginkan." Begitu pikir Lisa.
"Hadiah ini tidak bisa sembarangan dibeli. Dan hanya kamu yang bisa mewujudkannya. Hari ini kamu harus menuruti semua keinginan Mas!" senyuman menggoda terbit menyeringai.
Tatapan penuh gairah kembali menghiasi raut wajah Dalfi. Dengan cekatan langsung menyerbu bibir Lisa. Menghujani nya dengan sejuta kecupan sayang.
Lisa yang mendapatkan serangan mendadak, hanya bisa terbelalak kaget.
"Aaaaaaaa tidak! Aku capek!" Lisa sedikit mengelak. Buru-buru menarik selimut, dan berlari kedalam kamar mandi.
"Sayang, kamu tidak boleh curang! Kamu harus menerima hukumanmu!" Dalfi yang tidak mengenakan apapun,berlari mengejar Lisa. Menyusulnya kedalam kamar mandi.
Dan setelahnya, hanya terdengar suara gelak tawa keduanya dan gemericik air yang mengiringi ritual mandi ala sepasang insan yang dimabuk cinta.
****
Keesokan paginya.
"Mas?" dengan suara serak khas bangun tidur, Lisa memanggil Dalfi.
"Iya, Sayang?" jawab Dalfi.
__ADS_1
Parfum yang menyeruak, berhasil mengganggu indera penciuman Lisa. Saat membuka mata, ditatapnya punggung Dalfi yang sedang bercermin, Dalfi sudah siap berpakaian rapi.
"Hari ini Mas ke kantor, ya? tanya Lisa lagi. Kemudian melilitkan selimut ke badannya, berjalan menghampiri Dalfi.
"Kata Kim hari ini ada rapat yang tidak bisa ditunda, jadi dengan terpaksa Mas harus berangkat ke kantor," ucap Dalfi yang sudah membawa Lisa kedalam pelukannya.
"Kok terpaksa sih, Mas! Kalau kerja yang ikhlas dong," membetulkan simpul dasi yang kurang rapi.
"Lagian siapa sih yang rela ninggalin istrinya yang cantik ini sendirian, makanya jika bukan meeting penting, rasanya hari ini malas sekali kekantor," sungut Dalfi sambil menoel gemas hidung Dalfi.
"Mas, aku boleh kerja lagi ya?" pinta Lisa dengan manja. Sengaja dibuatnya seperti itu, agar Dalfi mengijinkannya pergi mencari pekerjaan hari ini.
"Jangan hari ini, Sayang! Kamu pasti capek kan?" ucap Dalfi sambil menyelipkan anak rambut Lisa kebelakang telinga.
"Terus kapan, Mas? Aku juga sudah rindu melakukan aktifitasku seperti biasanya," rengek Lisa mencoba membujuk Dalfi.
"Iya, Sayang, minggu depan saja! Sekalian Mas akan mencarikan universitas yang bagus untukmu." Semakin gemas melihat kepolosan istrinya, sengaja memencet hidung Lisa agak keras. "Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, Mas akan berusaha secepatnya menyelesaikan pekerjaan ini dan langsung pulang."
"Awww, Mas, sakit!" spontan tangan Lisa memukul dada Dalfi. "Sekarang saja ya, Mas! Aku benar-benar tidak perlu istirahat, aku tidak capek, aku baik- baik saja," sedikit merayu lagi, berusaha berbohong mengatakan tentang kondisi badannya segar bugar, demi mendapatkan ijin dari Dalfi.
"Benarkah? Kamu tidak lelah?" dengan mata berbinar, senyuman menawan dan menggoda mendadak mengembang sempurna menghiasi wajah Dalfi. Kembali mengeratkan pelukannya, dan melabuhkan bibirnya keleher jenjang Lisa. "Ah, Sepertinya Kim bisa memindahkan jadwal hari ini kelain hari!" lirih Dalfi pelan.
"Aaaaaa, tidak! Ampun Mas!" tertawa geli sembari mendorong dada Dalfi, agar menjauh darinya. Tentu saja tenaga Lisa tidak sebanding dengan Dalfi. Semakin dia mendorongnya, semakin Dalfi menghujaninya dengan kecupan. "Masss, sudah! Aku lelah!"
"Katanya tidak lelah! Semakin kita rajin, semakin ayah dan ibu akan cepat mendapatkan hadiah dariku, cucu yang menggemaskan!"
Lisa segera menghambur menjauhi Dalfi saat ada kesempatan, namun tentu saja Dalfi tidak akan melepaskan Lisa semudah itu. Seperti dua orang anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Tidak akan berhenti sebelum ada yang tertangkap.
"Mas, sudah! cepetan berangkat, nanti terlambat!" melemparkan bantal kearah Dalfi yang berada samping ranjang disisi sebelah.
"Ayolah, Sayang! Mas masih kuat kok!" menaik turunkan alisnya, dengan senyuman khasnya.
"Aaaaa, Tidak!" pekik Lisa saat Dalfi berhasil menangkapnya. Dengan nafas yang terengah-engah, tersenyum menatap suaminya yang juga ngos-ngosan.
__ADS_1
"Haahahhahah," tawa keduanya bersamaan, sesaat setelah menyadari tingkah mereka yang kekanak-kanakan.
Ting.. tong
Bunyi bel, membuyarkan keromantisan mereka di pagi hari ini. Sekretaris Kim dengan setelan jasnya yang rapi, mengetuk-ngetukan telunjuknya pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya saat Dalfi sudah membukakan pintu.
"Maaf, Tuan! Sepertinya kita sudah sangat terlambat!" dengus Sekretaris Kim kesal.
Sudah lebih dari satu jam, Sekretaris Kim menunggu dilobby. Karena yang ditunggu tidak kunjung terlihat batang hidungnya, dengan berat hati dia menyusul naik keatas, setelah beberapa panggilan telepon darinya diabaikan oleh Dalfi.
"Lima menit lagi!" ucap Dalfi segera menghilang dari balik pintu. Berpamitan pada Lisa.
"Tuan, apakah AC di apartemen anda rusak!" tanya Sekretaris Kim saat melihat sekilas kening Dalfi yang berpeluh.
"Mungkin! Suhu didalam apartemen panas sekali, bisa jadi pendingin ruangannya rusak," jawab Dalfi santai, melangkahkan kakinya masuk kedalam lift.
Pekerjaan hari ini lebih cepat selesai dari waktu yang telah ditentukan. Kesepakatan antara kedua belah pihak untuk menjalin kerjasama, telah disepakati tanpa adanya masalah yang rumit.
Senyuman yang mengembang tak pernah lepas dari wajah Dalfi. Suasana hatinya yang tengah berbunga-bunga, ikut berjasa dalam memudahkan kelancaran dalam negosiasi dengan pihak customer.
"Tuan, sepertinya hari ini Anda sedang berbahagia?" tanya Sekretaris Kim yang melihat Dalfi dari balik kaca spion.
"Makanya cepatlah menikah, agar kau tahu apa yang sedang kurasakan," cetus Dalfi tanpa berniat menjawab pertanyaan Sekretaris Kim.
"Jika setiap hari suasana hati Tuan seperti ini terus, kemungkinan besar saya akan secepatnya menyusul anda menikah," sindir Sekretaris Kim dari balik kemudinya.
"Sialan kau!" memakinya dan menendang kursi sopir. "Minggu depan Lisa mulai bekerja di perusahaan, carikan posisi sesuai dengan riwayat pendidikannya sekarang, Aku tidak ingin kau memberikan pekerjaan yang terlalu melelahkan. Dan juga carikan universitas yang terbaik untuknya." Perintah Dalfi.
"Kan Nona Lisa bisa saja langsung menjadi asisten pribadi Anda dikantor!" timpal Sekretaris Kim memberi saran.
"Huffffttt, Kalau aku maunya, Lisa menjadi asisten pribadiku saja dirumah. Dia hanya cukup melayani kebutuhanku tanpa harus lelah mengeluarkan tenaga. Tapi Sayangnya dia tidak mau! Dan juga, untuk sementara rahasiakan dulu identitasnya dikantor. Itu juga permintaannya!" tutur Dalfi dengan detail.
"Tapi pekerjaan apa dikantor yang tidak melelahkan untuk tamatan SMA?" tanya Sekretaris Kim bingung.
__ADS_1
"Itu urusanmu!" sahut Dalfi cepat.