Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 13 Kedatangan Vania (part 1)


__ADS_3

Sesampainya dikantor, Dalfi sudah sibuk berkutat dengan lembaran-lembaran kertas dihadapan nya. Banyak laporan yang harus diperiksa. Belum lagi setumpuk berkas yang butuh tanda tangannya.


Dia harus menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkannya selama beberapa minggu terakhir. Apalagi sebentar lagi dia akan mengajukan cuti, tentu saja pekerjaannya semakin menumpuk. Belum satu jam dia duduk di meja kerja, penampilannya sudah acak-acakan. Dia melepaskan jas, mengendorkan sedikit ikatan dasi dan menggulung lengan kemeja sampai sebatas siku.


Tring


Suara dering HP berhasil memecah konsentrasinya. Disambar nya benda pipih diatas meja. Nampak wajah cantik Lisa terpampang menghiasi wallpaper HPnya. Foto itu diambilnya diam-diam saat resepsi kemarin. Sedikit heran ketika membuka pesan dari nomor yang tidak dikenali. Setelah membacanya, dia baru tahu ternyata Bu Yuyun yang mengirimkan pesan.


"Kenapa tidak menghubungi Lisa saja? Astaga, aku lupa belum membelikannya HP".


Dalfi baru sadar setelah teringat tentang HP. Lisa hanya membawa satu tas berisi baju saat dia membawanya kerumah. Semua barang berharga Lisa lenyap saat kecelakaan itu. Entah siapa yang tega mengambil kesempatan diatas penderitaan orang lain.


Tak perlu menunggu waktu yang lama, langsung ditekannya nomor telepon rumah.


tuttt


Baru dering pertama, sambungan telepon langsung terhubung.


"Hallo! Dengan kediaman Tuan Winata disini. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bibi pada lawan bicaranya.


"Berikan telepon pada Lisa!" perintah Dalfi.


Bibi yang sudah paham betul dengan suara Dalfi, langsung cepat beraksi.


"Baik, Tuan!". Berjalan cepat menuju ke tempat Lisa berada. " Maaf, Nona! Ini Tuan Dalfi ingin bicara" sambil menyerahkan gagang telepon.


"Hallo"


"Hallo! Istriku Sayang! Kamu lagi apa? Aku kangen!"


"Dasar! Oom tukang lebay!" batin Lisa karena malas meladeni Dalfi.


"Hari ini Bu Yuyun akan datang menjengukmu ke rumah" ucap Dalfi melanjutkan kata-katanya.


"Hah! Sekarang?

__ADS_1


" Tidak, sekarang. Dia bilang setelah makan siang"


"Kenapa mendadak sekali?"


"Mana aku tahu! Oh ya nanti akan ada kurir datang mengantarkan HP untukmu. Dan juga jangan lama-lama menemui Bu Yuyun, aku tidak ingin kamu terlalu capek. Ingat! Jangan dekati Ardan. Aku tidak suka". Panjang lebar Dalfi memperingatkan.


"Iya.. iya.. tahu".


" Oke, Sayang! Aku lanjut kerja dulu. I Love You Istriku! bye"


"Oke, bye"


Dalfi memutuskan sambungan telepon setelah Lisa mematikannya terlebih dahulu. Kemudian kembali fokus dengan laporan di mejanya.


Sementara itu di lobby bawah. Sebuah mobil berhenti didepan gedung perkantoran.Setelah memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus dewan direksi. Seorang wanita cantik berambut panjang sedikit kecoklatan,memakai kaca mata hitam nampak keluar dari mobil. Mengenakan Blazer berwarna krim dipadukan rok mini diatas lutut. Nampak sangat elegan, sehingga membuat fokus orang disekitarnya tertuju padanya. Dengan menenteng tas hitam kecil, dia berjalan menuju meja resepsionis.


"Selamat pagi! Apa Pak Dalfi ada diruangannya?" tanyanya sopan pada resepsionis.


"Selamat pagi! Ada, Nona! Silahkan anda langsung menuju ruangannya" jawab resepsionis dengan sopan. Langsung saja mempersilahkan naik tanpa memberikan pertanyaan yang berbelit-belit. Setelah tahu siapa yang datang berkunjung.


Dia adalah Vania Soraya. Wanita berumur 27tahun. Seorang model terkenal sekaligus pacar dari CEO angkasa group. Berperawakan tinggi,langsing, berkulit putih dan berhidung mancung. Model internasional dengan segudang keahlian, yang tak perlu diragukan lagi prestasinya.


Ting


Bunyi pintu lift terbuka. Seorang staff wanita yang berada didepan ruang Dalfi langsung berdiri,tersenyum menyambutnya. Ruangan Dalfi berada di lantai paling atas. Bukan sembarangan tamu yang boleh menggunakan lift khusus. Jadi otomatis jika lift berbunyi menandakan tamu penting yang datang berkunjung.


"Apakah aku boleh masuk?" tanyanya langsung tanpa basa basi.


"Silahkan, Nona!"


Dengan sekali ketukan pintu,Vania langsung menerobos masuk tanpa menunggu dipersilahkan. Matanya langsung tertuju pada Dalfi yang juga sedang menatapnya tajam. Aura kemarahan langsung terpancar, kejadian di apartemen jelas tergambar dibenaknya.


Setelah menutup pintu dengan sempurna, Vania berjalan pelan tapi pasti menghampiri Dalfi. Dia akan meminta maaf, kalau perlu sampai sujud pun akan dia lakukan demi meluluhkan hati sang kekasih.


"Sayang" ucap Vania dengan mata berkaca-kaca. "Aku rindu padamu! Apakah kamu tidak merindukanku?"

__ADS_1


Vania sudah siap dengan air matanya, karena Dia tahu betul jika kekasihnya itu pantang melihat wanita menangis. Bagaimanapun caranya , bujuk rayu akan dia keluarkan agar Dalfi memaafkannya.


"Sayang, aku minta maaf! Malam itu aku sedang mabuk, aku tidak sadar sepenuhnya" lirih Vania. "Aku sudah beberapa kali mencoba menemuimu, tapi Sekretaris Kim selalu mengusir ku".


Dalfi sama sekali tidak bergeming dengan ucapan Vania. Matanya tetap fokus pada berkas yang berserakan di mejanya, tanpa menoleh sedikitpun. Malas meladeni wanita yang sudah menorehkan luka dihatinya.


Karena merasa diabaikan, Vania langsung saja mendekati Dalfi, duduk diatas pangkuannya. Mengalungkan kedua tangannya di leher Dalfi dan memeluknya erat. Dalfi ingin memberontak, mendorong jauh Vania agar menyingkir dari hadapannya, tapi dia urungkan karena tidak ingin menyakiti wanita itu.


"Sayang, aku mohon maafkan aku! Aku sudah menerima hukuman ku!". Menangis terisak sambil membuka kacamata. " Lihatlah!".


Dengan posisi yang intim seperti itu, dengan wajah yang hanya berjarak beberapa centi. Mau tak mau Dalfi harus menatap Vania. Dilihatnya mata Vania yang lebam, memar biru bekas tinju nampak sangat jelas. Hatinya yang keras sedikit melunak. Matanya yang sedari tadi memancarkan api, seketika padam. Tanpa sadar tangannya mengusap mata Vania. Tidak dipungkiri, empat tahun bersamanya tentu saja banyak kenangan indah yang sudah tercipta.


"Sayang, aku benar-benar minta maaf! Aku sudah berlaku curang kepadamu. Aku sudah berkhianat, aku juga sudah membuatmu masuk rumah sakit! Aku mohon! Aku mencintaimu, Aku ingin memperbaiki semuanya. Kita mulai dari awal lagi. Izinkan aku menebus semua kesalahanku!" Air mata jatuh berderai dari pelupuk mata Vania.


Tangan Dalfi merespon cepat,memegang pipi Vania dan mengusap air mata dengan jari tangannya. Walaupun mulutnya tidak berkata apapun, tapi dari reaksinya Vania tahu bahwa kekasihnya sudah luluh.


"Apakah kamu mau memaafkanku?" tanya Lisa lagi.


Dalfi masih saja tidak bergeming, dia sibuk dengan pikiran nya sendiri. Tanpa aba-aba, dengan berani Vania mencium bibir Dalfi. Toh, dalam pikirannya,bukankah dulu, dia sering berciuman dengan Dalfi dengan posisi seperti ini.


Manis, pikir Vania.


Ciuman yang semula hanya sebatas dibibir, kini semakin dalam dan lebih dalam lagi. Bibir keduanya berpautan, saling me*umat,seakan saling menumpahkan kerinduan yang sudah lama terpendam. Hingga memunculkan gairah pada keduanya. Berhenti sejenak, sekedar menghirup nafas, tersenyum dengan tatapan mata saling bertemu.Kemudian berciuman lagi dengan lebih intens. Hingga....


Tringg... Tringg


Bunyi HP Dalfi berhasil membuyarkan kegiatan dua insan yang tengah melepaskan kerinduan. Dengan nafas tersengal, Dalfi melepaskan tangannya dari pinggang Vania, dan mendorongnya agar sedikit menjauh. Vania sedikit heran mendapat perlakuan seperti itu.


Panggilan video dari nomor tak dikenal lagi. Ditekannya ikon telepon berwarna hijau.


Bersambung..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Jangan lupa beri dukungan agar author tambah semangat.

__ADS_1


Aku tunggu Like, gift dan komentarnya. Jangan lupa vote ya.. Terima kasih**.


__ADS_2