
Lisa yang sebelumnya merasa senang karena bisa segera pulang mendadak menjadi kelu tak bersemangat.Dibenturkan kepalanya berulang kali dikaca mobil. Tak Lupa sambil melantunkan makian didalam hati untuk Dalfi.Sekarang dia hanya bisa pasrah memikirkan kelanjutan hidupnya. Kata-kata Dalfi pagi tadi terus terngiang-ngiang di otaknya.
"Aku tidak mau tahu!.Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu! " ucap Dalfi sambil menunjuk lukanya.
"Loh kok, Aku! Anda yang duluan berbuat kurang ajar! " bantah Lisa. Dia merasa tidak terima mendapatkan tuduhan palsu.
"Memangnya apa yang aku perbuat? Bukankah Aku sudah berbaik hati membantu mu!.
" Maaf! saya tidak mau. Anda memang pantas mendapatkannya! "ucap Lisa sambil tersenyum ketus.
" Baiklah!"
Mengalihkan pandangan ke sekretaris Kim.
"Kim! buatkan aku surat tuntutan atas kasus penganiayaan. Dan aku mau jangan sampai dia lolos!" sambil menudingkan jarinya ke wajah Lisa.
Lisa yang tidak pernah berurusan dengan hukum langsung ciut nyalinya. Apalagi yang menjadi lawannya orang kaya dan punya kekuasaan.
Aaaaaaa! Dosa apa yang aku buat, kenapa bisa bertemu orang gila ini!. Ibuu ,bisakah kau kirimkan malaikat penolong.
Sekretaris Kim fokus mengemudikan mobil. Jalanan yang sedikit lengang,membuat laju mobil meluncur bebas tanpa hambatan. Tapi itu hanya berlaku untuk Dalfi,tidak berlaku sama sekali bagi Lisa.
Rasanya mobil melaju sangat lambat hampir tak bergerak. Dalfi yang duduk disebelah Lisa hanya bisa menahan senyum melihat gerak geriknya.
"Bolehkah kita pergi ke makam ibuku dulu?" Lisa yang dari tadi diam, akhirnya berani bersuara. Sedikit menoleh ke arah Dalfi, sekedar melihat reaksinya.Karena yang ditanya diam saja, Dia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan ucapannya.
"Bisakah kau tunggu sebentar lagi! Setidaknya sampai kamu bisa berjalan lagi tanpa tongkat".
" Tapi...? Itukan membutuhkan waktu yang cukup lama, jika harus menunggu sampai aku pulih" sambil meremas jarinya mencoba membujuk Dalfi.Menundukkan kepala tanpa berani melihat lawan bicaranya.
"Hemmm.. bersabarlah! Setidaknya tunggu aku sembuh! Aku sendiri yang akan mengantarkan mu kesana."
Lisa hanya diam saja mendengar jawaban Dalfi. Dia mengerti dengan kondisinya yang seperti ini, pastinya akan sangat menyusahkan orang. Terlebih lagi Dalfi juga sedang terluka kakinya.
Setelah hampir satu jam melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah. Para pelayan dengan sigap membantu Dalfi. Mereka saling bertatapan penuh tanya tatkala melihat seorang gadis turun bersama tuannya.Mereka hanya bisa mengeluarkan uneg-uneg nya dalam hati.
"Siapa gadis itu? kenapa memakai tongkat? "
"Dapat darimana lhah orang ini.Tuan muda kesambet apa ya kok mau dapat yang modelan kek gini"
__ADS_1
"tapi semakin dilihat Nona ini semakin cantik"
Lisa yang baru saja menginjakkan kakinya merasa takjub tak percaya.Dia yang terpana dengan kemewahan rumah dalfi hanya bisa menatap penuh kekaguman.Seumur hidup baru kali ini Dia menapakan kakinya di rumah mewah. Biasanya paling banter hanya bisa mengagumi melalui televisi saat sedang melihat sinetron.
"Ehem! Awas! Air liur mu menetes! " ucap Dalfi setengah berbisik ditelinga Lisa.
Deheman Dalfi seketika membuyarkan lamunan Lisa.Secara spontan dia mengelap mulutnya yang terbuka.
Apaan sih!
Lisa melayangkan tatapan tajam ke arah Dalfi. Sementara yang ditatap hanya bisa terkekeh dalam hati.
Ekspresi wajah Lisa langsung berubah ketika melihat ketiga pelayan yang berada didepannya. Dia yang mendapatkan tatapan seperti itu menjadi risih tentunya.Sekretaris Kim yang seakan mengerti langsung berkomentar.
"Perkenalkan! ini Nona Lisa! kalian harus melayaninya dengan baik. Jika sampai saya mendengar Nona mengeluh, kalian akan menerima konsekuensinya! " Sekretaris Kim memberikan perintah sekaligus mempertegas ucapannya.
"Baik, Tuan! " para pelayan menjawab sambil menundukkan kepalanya. Kemudian pergi mengambil barang dibagasi dan membawanya ke kamar tamu.
"Panggilkan dua orang pelayan lagi! Nona Lisa lebih banyak membutuhkan bantuan. Antarkan kekamar tamu dilantai bawah!" Dalfi memberi perintah.
Lisa yang merasa diperlakukan secara berlebihan hanya bisa tersenyum sambil menganggukan kepala kepada pelayan.
"Panggil saja aku Lisa! kalian tidak perlu memanggilku Nona!".
Hufftttt
Lisa yang mendengar jawaban pelayan, hanya bisa memutar bola matanya malas.
" Istirahatlah di kamarmu! Jika butuh sesuatu, Kamu bisa memanggil para pelayan!" ucap Dalfi berlalu pergi meninggalkan Lisa.
Sekretaris Kim menundukkan kepalanya sebelum ikut pergi. Dia harus segera kembali ke kantor karena tentunya banyak jadwal meeting yang harus diubah.
Para pelayan memapah Lisa menuju kamar tamu. Sempat dibuat takjub saat memasuki halaman depan, kini dirinya lebih terkejut saat melihat isi rumah. Interior yang mewah dominan warna emas putih dan coklat menghiasi setiap sudut ruangan. Lampu gantung dan hiasan meja yang terbuat dari kristal tertata rapi di ruang tamu. Nampak sangat menyilaukan dimatanya.
"Apakah rumah sebesar ini, hanya Tuan Dalfi saja yang menempati? tanyanya pada pelayan.
" Tidak, Nona! masih ada Tuan besar dan Nyonya yang tinggal disini. Tapi sekarang Nyonya sedang ada kegiatan diluar.Dan Tuan besar ada dikantor tentunya" ucap pelayan menjelaskan.
"Ini kamar kamar Anda, Nona! Jika anda membutuhkan kami, langsung saja hubungi lewat telepon ini" imbuh pelayan itu.
__ADS_1
"Iya, Terima kasih".
Setelah para pelayan pergi, Lisa membaringkan tubuhnya diranjang.Disentuhnya sprei yang halus dan wangi.
Rumah sebesar ini hanya ada tiga orang yang menempati ditambah para pelayan. hufftt !! Dunia kita memang sangat berbeda.
Sambil membandingkan dengan kesehariannya.Hari ini sangat melelahkan baginya.Setelah cukup lama menginap dirumah sakit.Rindu akan rumah seakan tak terbendung.Tapi nyatanya, Dia harus terdampar di istana mewah bak tak berpenghuni yang bahkan tidak pernah ada dalam bayanganya.
Cukup lama Lisa mencari posisi yang tepat,mencoba membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya tapi hasilnya sia-sia.Karena Dia bosan, akhirnya dia mengambil tongkatnya dan berjalan keluar kamar. Dia ingin sekedar duduk menghirup udara segar di taman samping rumah. Rumah besar yang sepi ini membuatnya menjadi suntuk.
Dari tempatnya duduk sekarang ini, dilihatnya beberapa pelayan yang sedang bekerja. Memotong rumput dan membersihkan kolam.
"Lisa! Khalisa Almira,kan?"
Lisa yang merasa namanya dipanggil merasa terkejut.
"iya! " dengan heran ditatap nya gadis yang memanggilnya tersebut. "Maaf, Anda mengenal saya? "
"Aku ,Ratna. teman SMP mu!".
Lisa masih berusaha mengingat, karena dari dulu dia jarang mempunyai teman.Tapi Lisa merasa cukup senang,setidaknya ada yang diajak mengobrol disaat sendirian dirumah ini.
"Maaf, tapi aku tidak ingat!"
"Apa yang kamu lakukan disini? dan itu kakimu kenapa?" sambil melihat kondisi Lisa a
dari atas sampai bawah.
"Ah, ini.! ceritanya cukup panjang. Kalau kamu? " tanya Lisa sambil memperhatikan penampilan Ratna.
"Aku disini bekerja paruh waktu.Kedepannya kita akan sering bertemu!" ucapnya sambil tersenyum. Lisa yang mendengarnya mangut-mangut saja.
"Eh! Aku harus kembali bekerja. Nanti kita bisa mengobrol lagi bye..!" Ratna buru-buru pamit setelah melihat Bu Rini berjalan menuju arahnya.
" Nak Lisa,kenapa ada diluar?" Buk Rini datang mengahampiri Lisa. "Sudah, sudah kamu duduk saja!".
Lisa yang berniat ingin berdiri tapi ditahan oleh Bu Rini.
"Iya, Nyonya! Perkenalkan saya Lisa!" sambil meraih tangan Buk Rini dan menciumnya.
__ADS_1
"Panggil saja, Ibu! Ayo,kita kedalam, Ayah sudah menunggu kita! " ajak Bu Rini sambil menggandeng tangan Lisa.
"Ada yang harus kita bicarakan!" Bu Rini melanjutkan kata-kata nya.