Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 28 Kecewa


__ADS_3

Dalfi segera berlari menuju kekamar atas untuk melakukan ritual mandinya juga. Membersihkan seluruh badannya yang sudah ternoda. Memastikannya benar-benar bersih dari sisa sentuhan tangan Vania. Menggosok kulit dan kepalanya dengan sabun, sampai terlihat bekas kemerahan pada tubuhnya karena terlalu keras digosok.


Dengan cepat dia menyelesaikan mandinya, berusaha agar selesai lebih dulu daripada Lisa. Dalfi segera turun untuk kembali kekamar.


"Kenapa tidak aku bawa tadi beberapa helai bajuku kebawah," batin Dalfi nyang sudah ngos-ngosan karena harus olahraga naik turun tangga.


Dalfi yang sudah terlihat rapi dan wangi, lalu duduk menunggu disofa didalam kamar. Dia mengenakan kaos oblong warna abu yang pas dibadannya, dan celana chinos pendek selutut warna hitam. Duduk dengan menyilangkan salah satu kakinya, sibuk berkirim pesan dengan Sekretaris Kim.


Lisa tertegun saat keluar dari kamar mandi, rasanya matanya dipenuhi dengan cahaya kemilau yang menyilauka mata karena pancaran aura yang keluar dari tubuh suami gantengnya.


"Aku rindu wajah itu! Sejak kapan dia menjadi semakin tampan," batin Lisa bengong.


"Kau sudah selesai, Sayang!" ucap Dalfi saat melihat Lisa yang berdiri mematung didepan pintu, menghampiri Lisa dan memberikan ciuman dikeningnya. Menghirup aroma rambut Lisa yang masih setengah basah.


"Aku bantu keringkan rambutmu," tawar Dalfi.


"Tidak perlu, biarkan saja! Nanti juga akan kering sendiri!" balas Lisa dengan nada datar.


"Tapi nanti kau bisa sakit!" menepikan anak rambut Lisa yang tergerai kedepan.


Kriukkkkk krukkk krukkk


Belum sempat Lisa menjawab, suara perutnya sudah mewakili isi pikirannya. Perutnya sudah lebih dulu ikut bergejolak meluapkan amarah. Dalfi yang mendengarnya hanya tersenyum geli.


"Baiklah, ayo kita makan dulu!" ajak Dalfi.


Tanpa menjawab ajakan Dalfi, keduanya kini berjalan beriringan menuju ruang makan.

__ADS_1


Dalfi yang merangkul pundak Lisa, mencoba berjalan pelan menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah kaki Lisa yang masih sedikit terpincang-pincang.


"Kemarin, kenapa kau tidak memberitahuku, kalau kau pindah kekamar bawah!" tanya Dalfi.


"Aku rasa itu tidak terlalu penting!" tukas Lisa.


"Semua tentangmu teramat sangat penting bagiku, sekalipun itu hal yang sepele." Tukas Dalfi. "Taukah kamu, semalam aku begitu frustasi saat tak menemukan keberadaanmu dikamar kita," jawab Dalfi dengan sabarnya.


Lisa hanya terdiam mendengarkan perkataan Dalfi, hatinya masih merasa jengkel dengan kejadian kemarin.


Dalfi menarik kursi pelan saat mereka sudah berada di meja makan, lalu mempersilahkan Lisa untuk duduk. Dengan cekatan melayani segala keperluan Lisa diatas meja makan.


"Mas, aku bisa mengambilnya sendiri!" menghadang tangan Dalfi yang sudah terjulur memegang sendok nasi.


"Kamu duduk saja yang manis, Sayang! Hari ini aku akan menjadi pelayan tuan putri seharian penuh," ucap Dalfi meletakkan piring didepan Lisa.


Lisa menahan dirinya agar tidak tertawa, "Bagaimana mungkin aku bisa marah, jika perhatian sekecil ini saja sudah membuatku luluh." Batin Lisa senang.


"Ini kebanyakan, Mas!" sungut Lisa yang melihat isi dalam piringnya. " Mas, sengaja ya, ingin membuatku gemuk!" timpalnya.


"Makanlah! Aku tahu, pasti semalam kamu mengeluarkan begitu banyak tenaga untuk memakiku," ucap Dalfi mencoba mencairkan suasana hati Lisa. "Iya, Kan?"


Lisa mendengus kesal, malas menjawab pertanyaan Dalfi. Tanpa banyak bicara, Lisa mengambil sendoknya dan mulai menyuapkan nasi kemulutnya.


Perutnya terasa melilit karena kelaparan. Semalam karena tergesa-gesa ingin menelepon Dalfi, Lisa hanya makan sedikit. Ditambah sekarang, jam sudah menunjukkan pukul satu siang, jadinya hari ini agendanya sarapan dirangkap dengan makan siang sekalian.


Selama makan, keduanya tak banyak bicara. Fokus mengisi perutnya sendiri, sesekali Dalfi melirik Lisa, mengambilkan lagi beberapa potong udang tempura kedalam piring Lisa.

__ADS_1


"Sudah, Mas! Perutku sudah penuh, kenyang!" kata Lisa datar sambil memegangi perutnya.


"Oke, habiskan makananmu yang masih tersisa!" ucap Dalfi.


"Maaf! Apakah hari ini mau terapi, Non?" tanya Kak Rika yang tiba-tiba datang sambil membawakan piring berisi potongan buah. Meletakkannya diatas meja


"Tidak, Kak! Sepertinya badanku terlalu capek!Silahkan saja, jika kakak ingin ijin keluar." Jawab Lisa masih mengunyah sisa nasi di mulutnya.


Rika dan Sita kemarin sudah meminta ijin kepadanya, untuk mengambil cuti selama 3hari. Sekedar untuk bertemu dengan keluarga dan teman-temannya dirumah sakit. Selama membantu terapi Lisa, baru kali ini mereka mengajukan cuti.


"Terima kasih, Nona! Kami pamit pergi dulu!" ucap Rika kegirangan.


"Ayo, kita pergi jalan-jalan juga!" ajak Dalfi setelah melihat Rika yang sudah menghilang kearah dapur.


Mata Lisa nampak berbinar senang saat mendengarkan ajakan Dalfi. Karena itu sudah menjadi keinginannya sejak lama.


"Nggak mau! Hari ini aku lagi malas, Aku lagi nggak ingin kemana-mana.!" tolak Lisa dengan angkuhnya.


"Beneran nggak mau ke mall? Kemarin kudengar ada yang bilang sudah bosan berada dirumah terus!" bujuk Dalfi sambil menatap mata Lisa dengan menaikturunkan kedua alisnya.


Lisa menahan diri untuk tidak tertawa, melihat wajah Dalfi yang terus menggodanya. Berusaha mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Aku mau kekamar!" Lisa sudah beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya.


"Sayang, habiskan dulu makananmu!" pinta Dalfi.


Lisa terus saja berjalan, tanpa memperdulikan perkataan suaminya itu.

__ADS_1


Dia berteriak didalam hatinya, "Ah, sialan! Kenapa mesti sekarang sih! Aku kan masih marah."


"Huftt, Rupanya dia masih merajuk!" sungut Dalfi kembali melanjutkan makannya.


__ADS_2