Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 40 Marah


__ADS_3

Hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka pulang kerumah. Sedari tadi Dalfi hanya diam membisu, mengemudikan mobilnya dengan kencang. Mencengkeram kemudinya dengan erat, mencoba membuang perasaan emosinya.


Jika saja kemudi itu terbuat dari kaca yang tipis, mungkin sudah sejak tadi akan pecah berkeping-keping. Karena sangking eratnya Dalfi mencengkeram. Dalfi memilih diam tak bersuara karena dia hanya takut, tidak dapat mengontrol emosinya yang meluap. Karena kejadian tadi, jantungnya seakan saling berlomba, berpacu dengan kecepatan mobilnya.


"Mas, tolong pelankan mobilnya, aku takut!" lirih Lisa sambil memegang lengan Dalfi.


Dalfi sama sekali tidak menghiraukan ucapan Lisa, terus saja fokus mengemudikan mobilnya, tanpa sedikitpun mengurangi kecepatannya. Yang dia inginkan saat ini hanya cepat sampai kerumah.


Selang beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tiba didepan rumah. Mobil berdecit karena rem yang mendadak diinjak secara paksa. Untung saja Lisa dengan sigap berpegangan pada handle yang berada diatas pintu mobil. Jika tidak, mungkin kepalanya sudah membentur dashboard didepannya.


Dalfi langsung masuk kedalam rumah, setelah menutup pintu mobil dengan membantingnya cukup keras.


"Tuan Dalfi kenapa ya, tidak biasanya Tuan pulang sambil marah seperti itu?" ucap Pak Basuki yang sedari tadi memperhatikan dari ruang security.


"Lha mana aku tahu! Sudah, tidak usah ikut campur urusan orang!" jawab Pak Supri yang baru saja duduk, setelah menutup pintu gerbang.


Lisa masih duduk tertegun didalam mobil. Jantungnya yang belum berdetak normal karena diajak mengebut, kini tambah berdetak lebih kencang setelah mendengar pintu mobil yang ditutup dengan kasar.


"Mas Dalfi kenapa sih? Kenapa marah sampai sebegitunya, toh aku kan juga baik-baik saja!" gerutu Lisa dalam hati.


Lisa mengusap sisa air matanya sebelum masuk kedalam rumah. Suasana rumah sudah sepi, hanya ada beberapa lampu yang hidup dengan pencahayaan yang temaram.


"Huftt, untung saja Ayah dan Ibu sudah tidur!" batin Lisa. Menatap lesu seisi ruangan yang nampak sunyi.


Dengan tertatih-tatih Lisa menaiki tangga, menuju kamar. Keadaan kamar gelap gulita, hanya ada suara gemericik air yang terdengar, menandakan Dalfi sedang berada didalam kamar mandi. Lisa pun memilih duduk disudut ruangan, meringkuk memeluk kedua lututnya tanpa berniat menghidupkan lampu. Kembali terisak, mengingat semua kejadian yang terjadi beruntun begitu cepat.


Sedangkan Dalfi yang berada didalam kamar mandi, sedang berdiri didepan wastafel, membasuh muka dan mengusapnya secara kasar. Berulang kali menghembuskan nafas, demi menetralisir emosinya.


"Hufftttt," menghela nafasnya. "Sepertinya aku sudah terlalu berlebihan tadi," ucap Dalfi memandangi wajahnya didepan cermin.

__ADS_1


Mengambil nafas dan menghembuskannya lagi. Setelah dirasa emosinya sudah dapat ia kuasai, Dalfi kemudian membuka pintu kamar mandi, berniat menyusul Lisa kebawah.


Akan tetapi, belum sempat Dalfi keluar kamar, sayup-sayup dia mendengar suara isakan tangis.


"Sayang?" panggil Dalfi lirih, mencari darimana asal sumber suara berada. Mendekati nakas, dan menyalakan lampu utama kamar.


Melihat ke setiap sudut ruangan, akhirnya pandangan berhenti tepat di sebelah sofa yang berbatasan dengan pintu kaca balkon. Melihat Lisa yang sedang menangis, kemudian berjalan mendekatinya.


"Sayang, maafkan sikap Mas tadi! Mas sudah keterlaluan kepadamu," duduk dihadapan Lisa, menarik tangannya dan mengangkat dagunya dengan lembut. Melihat mata Lisa yang sembab sejenak, lalu membawa tubuhnya kedalam pelukan.


"Iya memang! Aku rasa, Mas memang sudah terlalu berlebihan," menepis pelukan Dalfi, berdiri, kemudian berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang, tunggu! Sekali lagi Mas minta maaf!" menyusul Lisa kedalam kamar mandi.


"Aku hanya tidak sabar menunggumu, aku ingin segera menyusul mas kesana, Itu saja! Sekedar Mas tahu, karena aku terlalu antusias dan terlalu senang, aku jadi kurang berhati-hati tadi," ucap Lisa sesenggukan didepan wastafel.


"Sudah lama sekali, aku merindukan suasana diluar rumah. Apa Mas tahu, bagaimana perasaanku tadi, saat Mas mendoakanku untuk memakai tongkat lagi?" telisik Lisa menatap tajam Dalfi melalui cermin.


"Maaf sayang, bukan begitu maksudku! Aku hanya terbayang kejadian saat kecelakaan malam itu. Aku akui, aku menyesal sudah membentakmu. Aku sudah banyak membuat kesalahan kepadamu."


Menghirup aroma tubuh Lisa yanga harum dari ceruk lehernya.


"Mas!" Lisa yang merinding mendengar hembusan nafas Dalfi, langsung memutar tubuhnya, hingga posisi wajah mereka berjarak hanya beberapa senti saja.


"Sayang, Aku sangat mencintaimu! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadamu lagi. Jangan pernah tinggalkan aku. Tadi saat mendengarmu berteriak dan melihatmu jatuh terduduk, pikiran Mas sudah membayangkan sesuatu yang buruk sudah terjadi, Mas takut dirimu terluka dan jika itu sampai terjadi, sampai kapanpun aku tidak akan berhenti menyalahkan diri sendiri! Aku terlalu mengkhawatirkanmu," ucap Dalfi yang sudah mendaratkan ciuman dikening.


"Tapi, aku mohon, jangan memarahiku seperti tadi, jujur aku sangat takut!" gumam Lisa.


"Maafkan aku!" kata Dalfi. Mengusap lelehan airmata Lisa.

__ADS_1


Kini tatapan keduanya saling beradu, hembusan nafas Dalfi semakin terdengar menderu. Diciummya kening Lisa, kemudian turun kedua bola matanya bergantian kanan dan kiri, hingga berakhir dibibir Lisa yang nampak ranum.


Dari yang hanya sekedar ciuman biasa, kini menjadi ciuman yang menuntut. Lisa yang belum pernah merasakan ciuman, terasa kaku diam tak berkutik. Hanya mengikuti permainan Dalfi. Ingin menolak, tetapi ada perasaan yang berdesir dihatinya yang menginginkan lebih.


Setelah menikah, baru kali ini Dalfi memberanikan diri mencium bibir Lisa.


"Sayang, ambil nafas!" tegur Dalfi saat melihat wajah pucat Lisa.


Lisa nampak terengah-engah, saat Dalfi melepaskan pautan bibirnya.


Dalfi hanya tersenyum melihat Lisa, kemudian kembali meluma* bibir Lisa tanpa jeda. Tangannya sudah aktif membuka resleting baju Lisa.


Lisa yang menikmati setiap sentuhan Dalfi, merasa terbuai. Dengan cepat bisa mengimbangi permainan bibir suaminya itu. Hingga dari hanya sekedar ciuman biasa menjadi ciuman panas yang penuh hasrat. Ciuman sudah berhasil membangkitkan gairah mereka berdua.


"Mas, sudah!"


Lisa terkesiap seketika, saat tangan hangat Dalfi membelai punggungnya.


"Maaf, aku belum siap!" ucap Lisa sambil mendorong Dalfi keluar dari kamar mandi. Dan menguncinya dari dalam.


"Sayang!" pekik Dalfi. Hasratnya yang sudah Diubun-ubun, harus rela dipendamnya lagi.


"Hufftt, ayolah Dalfi! Sedikit lagi berhasil, tapi malam ini kamu harus bersabar dulu!" batin Dalfi menyemangati dirinya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


**Maaf teman-teman, kalau baru bisa update sekarang. Kalimantan panas banget, jadi otak pun ikut panas, nggak bisa diajak buat mikir.


Sekali lagi maaf ya kalau up nya lambat**.

__ADS_1


__ADS_2