Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
bab 6 Mengantarmu Pulang


__ADS_3

Pagi hari setelah sarapan, Dalfi langsung berpamitan dengan orang tuanya.Wajahnya yang tampan terlihat semakin menawan.Nampak serasi dengan setelan jas berwarna silver yang dipadukan dengan kemeja hitam dan dasi berwarna senada.Motif garis pada dasi menambah kesan elegannya.Rencananya sebelum pergi kekantor,Dia akan menemui Lisa.


"Bu,Aku berangkat dulu ya!" ucap Dalfi setelah menyeka mulutnya dengan tissu.


Cup


Tak lupa mencium Ibu bebeberapa kali sebelum berangkat.


" Hati-hati, Nak! kalau bisa nanti sore pulangnya kerumah saja ya!" Ibu mencoba membujuk Dalfi.


"Baiklah! Akan aku usahakan!" ujar Dalfi sambil berlalu pergi. Ibu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya.


Dalfi memilih berangkat sedikit lebih pagi, agar tidak terjebak macet. Karena jarak dari rumah kekantor berlawanan arah.Begitu juga jarak antara kantor dan rumah sakit memakan waktu setidaknya 45 menit.


Setibanya dirumah sakit, Dalfi langsung memarkirkan mobilnya. Sekretaris Kim nampak sudah menunggu didepan lobby.Dalfi sudah menghubungi nya terlebih dulu, meminta bantuannya untuk mengurus proses administrasi.


Sementara itu didalam ruang inap.


Setelah melalui serangkaian proses pemeriksaan, hari ini Lisa sudah diperbolehkan pulang.Selang infus ditangannya sudah dilepas sedari tadi. Tinggal menunggu proses administrasi selesai.


Setelah itu, baru diperbolehkan pulang.


Lisa sedang ditemani Bu Yuyun yang tengah sibuk menyusun barang, merapikan baju dan menata perlengkapan yang akan mereka bawa. Semua dimasukan kedalam tas besar, agar mudah membereskannya.


"Lis,ibu keluar dulu ya sebentar! Ardan beli sarapan dimana sih? dari tadi kok lama banget!" gerutu Bu yuyun karena sudah terlalu lapar. Dia berinisiatif menyusul Ardan keluar.


"Iya,Bu!".


" Kamu nggak apa-apa kan sendirian? ".


Lisa hanya menganggukkan kepala."Terima kasih,Buk! sudah menjaga dan menemani selama dirumah sakit" Lisa yang sangat tertolong dengan bantuan Bu Yuyun hanya bisa mengucapkan terima kasih.


Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Ibu dan Kak Ardan.


"Iya sudah,Nak Lisa! kuping Ibu jadi panas karena ucapan Terima kasihmu diulang terus" balas Bu Yuyun tersenyum,kemudian pergi setelah menutup pintu.


Beberapa saat setelah bu Yuyun keluar, datanglah Dalfi.


Tok


tok

__ADS_1


tok


Dalfi mengetuk pintu dan membukanya.Sejenak Lisa terpesona dengan penampilan Dalfi. Tanpa sadar wajahnya merona merah, tetapi buru-buru tatapannya diubah menjadi mode sinis lagi.


"Ada perlu apa Tuan kemari? Bukankah cukup Sekretaris Kim saja yang mengurus semuanya? " tanya Lisa dengan ketus.


"Aku yang akan mengantarkan mu pulang, Nonaaa!" dengan santai Dalfi menjawab pertanyaan Lisa.


"Cukup panggil Lisa saja, Tuan! aku tidak butuh embel-embel yang lainnya" imbuhnya.


" Baiklah! kalau begitu kau juga bisa memanggilku Dalfi! "


"Maaf, tapi mungkin agak kurang pantas jika aku memanggilmu seperti itu!" ucap Lisa datar.


"Terserah kamu saja! aku sedang malas berdebat!".


Bersamaan dengan itu,terdengar suara pintu diketuk.Dokter yang didampingi seorang perawat masuk kedalam membawakan kursi roda. Dokter menyerahkan hasil pemeriksaan Lisa, dan menjelaskan beberapa hal.


"Ini hasil Laboratorium Nona Lisa! Untuk sementara waktu,Nona harus memakai tongkat dulu kalau mau berjalan. Dan sebelum luka Anda benar-benar pulih, sebaiknya batasi dulu aktivitas anda. Kedepannya Nona harus beberapa kali lagi melakukan kontrol" ucap dokter menjelaskan.


"Apakah ada yang ingin ditanyakan? " tanya Dokter itu.


" Tidak, Dokter! Terima kasih sudah membantu saya" ucap Lisa.


"Ayo! aku bantu berjalan ke kursi roda" ucap Dalfi menawarkan diri.


"Tidak usah, Aku akan menunggu kak Ardan saja! "jawab Lisa tanpa melihat wajah Dalfi.


dasar cewek keras kepala...! Dih sombongnya! padahal jelas-jelas butuh bantuan


" Sepertinya,Kamu betah ya berlama-lama disini?" tanya Dalfi.


Lisa diam saja tidak menggubris ucapan Dalfi. Dia merasa malas dan jengah bertemu Dalfi.Lisa yang duduk di tepi ranjang mengalihkan pandangannya keluar jendela. Dan dengan tiba-tiba tubuhnya serasa melayang. Dalfi langsung saja membopongnya ala bridal style.


" Aaaaaa.. apa yang kamu lakukan! turunkan aku! Dasar pria gila,nggak waras! "teriak Lisa sambil tubuhnya meronta.


Arghhh dasar lelaki kurang ajar umpat nya dalam hati


Suara teriakan Lisa yang cukup keras, mampu membuat gendang telinga Dalfi berdengung.Dengan hati-hati Dia mendudukkan Lisa di kursi roda.Wajah Lisa nampak merah padam menahan amarah. Dalfi yang melihatnya hanya bisa terkekeh dalam hati.


"kenapa dia lucu sekali"

__ADS_1


"Dasar breng*ek! Anda sengaja ya mencari kesempatan!. Dasar Oom tua tukang mes*m!" saking kesalnya Lisa tidak dapat menahan emosinya.


" Hufft! berat juga kamu ya! " masih dengan santainya dalfi menjawab. "Harusnya kamu itu berterima kasih. Sudah ditolong malah menghina orang. Kenapa mesti marah sih?"


Lisa yang mendengar ucapan dalfi langsung mendelikan matanya. Rasanya seperti keluar kepulan asap putih dari kepala Lisa. Kaki kirinya yang tidak cedera, secara spontan langsung menendang kaki Dalfi.


Bughh!


"Dasar orang kaya! jangan seenaknya sendiri ya! " tendangan nya tepat sasaran,akan tetapi lebih tepatnya mengenai bekas luka Dalfi.


"Awwwwww,. Arghhhh!" Dalfi hanya bisa meringis menahan sakit.


Dia merasakan kakinya kebas. Tiba-tiba terhuyung jatuh terduduk disamping ranjang. Kepalanya disandarkan ditepian ranjang dengan salah satu tangannya digunakan sebagai bantalan dahi.


" Huh! cowok apaan ini!.Ditendang begitu aja langsung tumbang! "Lisa tersenyum mengejek.


Dalfi hanya bisa merasakan kakinya berdenyut hebat.Tidak diperhatikannya lagi suara Lisa yang mengoloknya.


Lisa hanya diam saja memperhatikan reaksi Dalfi. Dia bersungut-sungut berdebat dengan dirinya sendiri didalam hati.


Kenapa ekspresi nya seperti itu? Aku kan menendang sekenanya saja,tanpa pakai tenaga juga.Ehh! Dia beneran kesakitan ya? Serius apa pura-pura sih! Jangan bilang kalau kamu hanya mau ngerjain aku nih!


Akan tetapi, seketika itu juga Lisa terperanjat.Sejenak terbengong saat melihat bercak merah yang nampak semakin basah dicelana Dalfi.Kini perasaan bersalahnya muncul.


"Tu.. tuan! apakah Anda baik-baik saja! kaki Anda berdarah" dengan terbata-bata Lisa bertanya pada Dalfi.


Belum sempat Dalfi menjawab, sekretaris Kim yang baru saja sampai bersama Ardan langsung ikut terkejut. Dengan sigapnya di papahnya tubuh Dalfi naik keatas ranjang. Dan segera berlari keluar memanggil dokter. Ardan yang ikut merasa khawatir memberikan tatapan penuh tanya pada Lisa.


Lisa yang tau arti dari tatapan itu, hanya bisa diam menundukkan kepala.


Hufffttt sepertinya akan ada drama panjang lagi


"Maaf,Tuan Dalfi! sepertinya Anda harus dirawat dulu sampai luka Anda pulih.Saya takut terjadi infeksi nantinya" kata dokter setelah memeriksa Dalfi.


"Tidak apa dokter! hentikan saja pendarahannya.Tidak perlu harus sampai dirawat. Saya bisa mengatasinya!" ucap Dalfi.


"Kim! kirimkan saja dokter dan beberapa staf medis,lebih baik aku menjalani perawatan dirumah.Tolong urus semuanya! " perintah dalfi pada sekretaris Kim.


"Dan tentu saja, aku ingin Nona Lisa bertanggung jawab atas semua ini! " lanjutnya sambil menatap tajam ke arah Lisa.


Lisa duduk tertegun diatas kursi roda dan hanya bisa menggigit bibir saat mendapat tatapan penuh intimidasi.

__ADS_1


Kenapa jadi aku yang disalahkan!


__ADS_2