
"Lis, kamu kenapa, Nak? Kok mukamu pucat begitu?" tanya Ibu yang terus memperhatikan raut wajah menantu satu-satunya dirumah ini.
Pagi ini, mereka sedang sarapan bersama dimeja makan.
"Ah, tidak Bu! Mungkin aku hanya kurang tidur saja!" dalih Lisa beralasan. Meraba pipi dan bibirnya pelan.
"Fi, memangnya semalam kalian pulang pukul berapa? Lihatlah Lisa jadi kelelahan karena kamu mengajaknya pergi hingga larut malam!" marah Ibu kepada Dalfi. "Jangan diajak pulang larut malam dulu, Fi! Lisa itu baru saja sembuh."
"Iya!" jawab Dalfi sambil menganggukan kepalanya, kemudian ikut memperhatikan Lisa. Tanpa menoleh kearah Ibu sama sekali.
"Setelah sarapan, sebaiknya kamu istirahat saja ya, Sayang! Ibu tidak mau melihatmu sakit," lanjut Ibu berbicara pada Lisa.
"Eh, tapi maaf Bu, hari ini aku ingin pergi keluar sebentar saja, boleh?" lirih Lisa agak ragu.
"Kemana?" tanpa sadar Dalfi mengejutkan Lisa dengan suaranya yang mendadak tinggi. "Eh, Maaf! Aku antar ya?" pinta Dalfi.
"Tidak usah, Mas! Aku bisa pergi sendiri kok, Aku akan memesan taxi online saja," tolak Lisa lembut.
Pikirannya terbayang kejadian penolakannya semalam didalam kamar mandi, tiba-tiba perasaan canggung dan sedikit rasa bersalah terbesit di hatinya.
"Pokoknya Mas yang akan mengantar kemanapun kamu mau pergi! Kebetulan hari ini minggu. Mas sama sekali tidak punya agenda kerja!" lanjut Dalfi.
"Lisa, apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu dirumah, tengoklah wajahmu sudah sangat pucat seperti itu. Lebih baik kamu istirahat dulu, perginya ditunda lain kali saja, ya!" ucap Ibu mencoba menasehati.
__ADS_1
"Tapi ini tidak bisa ditunda lagi, Bu! Lisa hanya sebentar saja, setelah itu Lisa akan langsung pulang!" kekeh Lisa.
"Memangya kamu mau kemana sih, Sayang? Kamu kan lagi...,"
" Ehem,"
Ayah yang dari tadi diam saja, tiba-tiba berdehem. Membuat Ibu tidak jadi meneruskan ucapannya.
"Kamu tidak perlu terlalu khawatir, Bu! Lisa bukan anak kecil lagi, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri!" ucap Ayah mengusap lembut punggung tangan istrinya. " Dan Nak Lisa, sebaiknya biar Dalfi yang mengantarkanmu, dia kan suamimu, dia juga yang bertanggung jawab dengan keselamatanmu. Mumpung dia lagi libur, kamu bisa menjadikannya sopir pribadimu seharian ini," kata Ayah tersenyum melihat Lisa.
"Baiklah, Ayah!" balas Lisa lagi, menuruti kata Ayah. Ada benarnya juga ucapan mertunya itu.
Mereka menyelesaikan sarapan pagi ini dengan tenang. Setelah itu sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Kan Mas sudah janji akan mengantarkanku ke makam ibu jika aku sudah sembuh. Mas lupa, ya?"
"Maaf, Sayang!" Dalfi menepuk dahinya pelan. Kemudian melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Mas, ini kenapa tidak dibuang dulu! pasti sudah basi, sayang sekali kan jadi mubazir makanannya!" tunjuk Lisa ke bungkusan yang berbalut kantong plastik hitam diatas dashboard.
"Pasti dikira isinya apaan, jadi Pak Bas tidak berani membuangnya!" membuka kaca mobil, dan membuangnya ketempat sampah.
Setelah lebih dari satu jam terjebak macet, akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Hamparan rerumputan hijau terbentang luas, menyejukkan mata yang memandang. Kompleks pemakaman mewah yang tertata rapi terdiri dari beberapa blok, yang sudah ditanami pohon hias. Tanah dan batu nisan ditata apik rata dengan tanah, jauh dari kesan menyeramkan.
__ADS_1
"Mas, kita mau kemakam siapa?" tanya Lisa ragu.
"Katanya tadi mau kemakam Ibu?" Dalfi malah balik bertanya.
"Tapi kan..?"
"Sudah ikut Mas saja!" menggandeng erat tangan Lisa, berjalan beriringan menuju blok yang ditunjukkan petugas tadi.
Ini sudah kesekian kalinya, Lisa dibuat ternganga dengan semua bentuk perhatian Dalfi. Tanpa terasa, airmatanya menetes saat melihat nama ibunya tertulis diatas batu nisan dihadapannya. Disampingnya tertulis nama almarhum ayahnya. Tidak terlintas dalam benaknya sedikitpun, jika ibunya akan dimakamkan di area komplek pemakaman elit seperti ini.
"Terima kasih Mas, sudah memberikan tempat peristirahatan yang terbaik untuk almarhum ibu!" kata Lisa kepada Dalfi.
"Ibumu kan ibuku juga, Sayang! Dan aku jugalah yang menyebabkan semua ini terjadi," sesal Dalfi yang sudah berjongkok dan menabur bunga keatas pusara.
"Sudahlah kita tidak perlu membahasnya lagi!" Lisa duduk diatas sebuah kursi kecil yang sudah disiapkan oleh Dalfi. Kemudian membacakan doa untuk almarhum ibunya.
"Assalamu'alaikum Bu! Maafkan Lisa karena baru datang mengunjungi ibu sekarang. Lisa mohon ibu jangan marah ya, Aku kangen sama Ibu," ucap Lisa lirih. Mengusap nama ibunya yang dipahat diatas batu marmer. Buliran air mata mulai tak terbendung, sedikit demi sedikit meluncur dengan sendirinya membasahi pipinya.
"Bu.. ibu tahu tidak siapa yang datang bersamaku? Dia suami Lisa, Bu. Namanya Dalfi Winata, dia yang telah menyebabkan semua ini terjadi. Lisa harus bagaimana Bu? Aku menikah dengannya, karena aku ingin membalas rasa sakit hati karena dia yang telah merenggut nyawa ibu. Dan dia juga yang menyebabkan Lisa menjadi anak sebatang kara tanpa orang tua lagi. Aku jahat kan, Bu? Kalau ibu masih hidup, pasti ibu akan memarahiku. Ibu pasti berkata kalau balas dendam itu tidak baik. Semua yang terjadi pasti sudah menjadi kehendak-Nya. Tapi Bu, sekarang Lisa berada dalam dilema yang besar. Seperti senjata makan tuan. Semakin dekat dengannya, malah semakin membuat perasaan cinta tumbuh dihati Lisa. Disisi lain aku membencinya tapi disisi lainnya aku malah jatuh cinta kepadanya. Lisa semakin terlena dengan semua kebaikan dan perhatian Mas Dalfi." Batin Lisa mencoba mencurahkan seluruh isi hatinya.
Isakan tangisnya semakin pecah, Dalfi yang berada disampingnya memegang erat bahu Lisa yang bergetar.
"Apa yang harus aku perbuat, Bu? Apakah boleh jika aku mencintainya?"
__ADS_1