Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 11 Pengakuan


__ADS_3

Matahari sudah selesai melaksanakan kewajibannya, sekarang bulan yang menggantikan tugasnya. Siang yang cerah sudah berganti malam. Acara pernikahan yang membuat sibuk sebagian orang juga sudah selesai sedari tadi. Kini waktunya untuk mengistirahatkan badan yang sudah bekerja keras seharian ini. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi mereka.


Halaman rumah tampak sepi. Dekorasi sudah


dibersihkan,peralatan yang lainnya pun sudah dibawa pulang oleh para vendor. Ayah dan Ibu sudah sejak tadi masuk kekamar untuk istirahat, begitu pula dengan para pelayan. Hanya nampak Pak Bas dan Pak Supri yang bertugas jaga dipos keamanan.


Tetapi situasi yang berbeda sedang terjadi dikamar pengantin. Suara adu mulut masih terdengar dari luar. Mereka berdua sedang berdebat masalah ranjang. Sebenarnya rasa canggung antara mereka sudah lama menghilang entah sejak kapan.


"Mulai sekarang aku yang tidur di ranjang. Mas yang akan tidur disofa!" cetus Lisa.


"Kita kan sudah sah menjadi suami istri, terus kenapa harus pisah ranjang?" protes Dalfi.


"Ingat, Mas! Kita menikah karena perjanjian. Bukan karena saling suka. Dan ini tanda tangani surat perjanjiannya!" Lisa menyerahkan selembar kertas kehadapan Dalfi.


"Apa ini?" tanya Dalfi setelah membaca isi surat perjanjian.


"Aku mengajukan beberapa persyaratan, dan mas harus menyetujuinya!" setengah memaksakan kehendak. "Dalam surat itu sudah jelas tertulis, selama tiga tahun kita bersama,aku tidak mau adanya kontak fisik. Setelah masa kontrak habis, Mas akan segera mengurus surat perceraian. Dan juga aku tidak mau menggunakan fasilitas disini secara gratis. Aku juga ingin melanjutkan kuliah dan bekerja. Aku akan membayar semua uang yang telah anda keluarkan!" Lisa melanjutkan ucapannya dengan tegas.


Memangnya aku sanggup melunasi semuanya. Cih! Sombong sekali kau, Lisa. Bodo amat! Aku nggak mau punya hutang budi dengan orang menyebalkan ini!!


Sedikit mengerutkan kening, nampak berpikir sejenak.


" Aku setuju! Tapi aku juga mengajukan persyaratan!" ucap Dalfi.


Lisa diam saja menunggu Dalfi melanjutkan kata-katanya.


"Sebagai pihak pertama, aku berhak memperpanjang atau menghentikan masa kontrak tanpa persetujuan pihak kedua. Dan juga aku ingin kita bertindak layaknya pasangan suami istri yang harmonis jika dihadapan Ayah dan Ibu!" tegas Dalfi.


"Ok,deal!" mengulurkan tangannya kehadapan Dalfi.


"Tunggu dulu! Aku belum selesai!" sahut Dalfi lagi.

__ADS_1


"Hei, Tuan Dalfi yang terhormat! Kenapa selalunya malah anda yang punya banyak persyaratan!" sungut Lisa


" Kita kan sedang berbisnis, tentu saja aku tidak mau dirugikan!" gamblang Dalfi dengan senyuman tipis hampir tak terlihat.


"Huh.. sepertinya memang aku yang salah mencari lawan!".


Dalfi hanya menyunggingkan senyuman mendengar gumaman Lisa.


" Kamu mau nggak! Kalau nggak,kita tidak usah melanjutkan perjanjian ini!" ucap Dalfi.


"Iya,.baiklah! "


"Aku ingin kau bekerja di perusahaan ku. Dan juga aku yang akan mencarikanmu universitas!" terang Dalfi.


"Tidak mau! Aku akan mencarinya sendiri, Mas tidak perlu repot karenaku!" tukas Lisa yang tidak setuju dengan ide Dalfi.


"Ini perintah!".


"Tenang saja! Sekretaris Kim akan menemukan posisi yang tepat untukmu, dan tentu saja tanpa orang tahu kalau kamu itu adalah istriku". Dalfi mencoba meyakinkan Lisa akan keputusannya.


Dalfi menghirup nafas pelan, sebelum melanjutkan kata-katanya.


" Setelah kamu menjadi istriku, tentu tanggung jawab atas dirimu sepenuhnya berada dipundakku! Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu!". Menatap tajam Lisa yang sudah siap dengan argumennya.


"Mas, memangnya apa yang akan terjadi padaku? Aku ini bukan anak kecil lagi! Lagipula Mas tidak perlu pura-pura baik dan kasihan terhadapku. Dan Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku!" protes Lisa dengan mata berkaca-kaca.


Suasana mendadak hening, Dalfi mencoba menarik nafas panjang. Lalu dia berdiri, berjalan mendekat kearah Lisa. Dia duduk berlutut didepan Lisa, dipegangnya kedua tangan Lisa. Tetapi yang dipegang tangannya cepat- cepat mengelak.


"Mas, mau apa! Ingat tidak ada kontak fisik!" terang Lisa sekali lagi.


Dengan cepat disambar nya lagi tangan Lisa, digenggamnya erat.

__ADS_1


"Lis, tolong dengarkan Mas! Aku tahu kita menikah tanpa rasa cinta. Kita pun belum mengenal satu sama lain lebih dalam lagi. Tapi yang perlu kamu tahu, setelah aku menerima ide pernikahan ini, aku sudah berjanji dalam hati. Aku akan menjagamu selamanya. Mas mengaku kalau tujuanku menikahi mu waktu itu karena kasihan dengan kondisimu yang seperti sekarang ini!" ucap Dalfi panjang lebar.


"Ini semua juga karena ulahmu, Mas! Kamu yang menyebabkan semua ini terjadi. Kau pula yang membuat ibuku meninggal!" akhirnya tumpah juga air mata yang sedari tadi menggantung.


"Kalau bukan karena kecelakaan malam itu, tentu saja ini semua tidak akan terjadi. Kau pembunuh!". Lisa melanjutkan ucapannya. Bayangan kecelakaan waktu itu terus menghantuinya. Menarik paksa tangan yang sejak tadi digenggam Dalfi. Menggeser tubuhnya agak menjauh.


" Iya, aku tahu! Aku yang membunuh ibumu!" lirih suara Dalfi terdengar. " Karena itu aku akan menebus kesalahanku dengan hidup bersamamu selama sisa hidupku. Awalnya aku menikahimu karena terpaksa, tapi entah sejak kapan perasaan ini muncul. Aku mencintaimu Khalisa Almira!".


Lisa tak bergeming mendengar ucapan Dalfi. Dimatanya itu semua hanya pura-pura,penuh dengan kepalsuan.


"Maaf! Aku belum bisa mempercayai kata-katamu! Tapi sejujurnya jika boleh aku katakan, aku mau menikah denganmu juga karena ingin balas dendam" balas Lisa.


"Maksudmu? Kau ingin membunuh ibuku juga!" tukas Dalfi.


"Aku tidak sekejam itu, Tuan!" sanggah Lisa dengan senyuman mengejek. "Sebenarnya aku ingin membuat dirimu jatuh cinta kepadaku sampai sejatuh-jatuhnya. Setelah aku berhasil membuat mu jatuh cinta, aku akan pergi meninggalkan mu. Menghilang tanpa jejak, agar kau tahu bagaimana rasanya ditinggal orang yang kamu cintai. Tapi ternyata aku salah".Sambil menyeka air matanya.


"Apa maksudmu?" tanya Dalfi.


"Aku sudah tahu kisah percintaanmu, Tuan Dalfi! Sungguh malang sekali nasib anda dikhianati sang mantan!" Lisa tertawa,mengejek nasib tragis sang suami.


"Apakah tidak pernah terlintas di benakmu, jika aku hanya menganggap mu sebagai pelampiasan?" tanya Dalfi.


"Dari pertama melihatmu, aku tahu kamu orang yang baik, Mas! Aku tahu kamu orang yang jujur!" ucap Lisa.


Dalam hati merasa lega karena sudah mengakui semuanya.Lisa tidak ingin menambah dosa karena niatnya yang ingin balas dendam. Dia tidak ingin ada penyesalan kedepannya.


"Sudahlah, aku terima semua syaratmu! Lagi pula, disini aku merasa tidak dirugikan sama sekali. Terima Kasih juga atas pengakuan cintamu,Maaf aku tidak bisa membalasnya!" dengan PDnya Lisa tersenyum menyeringai.


"Hah, Dasar! Lihat saja aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku!. Dan nantinya kamu sendiri yang akan menyerahkan dirimu!" ucap Dalfi optimis.


"Iya, ya, ya aku sangat menantikannya!"

__ADS_1


Mereka berjabat tangan, tanda kesepakatan telah tercapai. Lalu masing-masing membubuhkan tanda tangan.


__ADS_2