Bucinku Kesayanganku

Bucinku Kesayanganku
Bab 56 ke mall


__ADS_3

Ratna mengucapkan terima kasih kepada Ardan, karena telah mengantarkannya sampai kerumah tuan besar dengan selamat. Karena Ardan pula lah moodnya yang berantakan sewaktu pergi dari rumah, kini sudah kembali ceria seperti biasanya.


"Ini pakai payungnya!" ucap Pak Supri saat melihat Ratna datang.


"Nggak perlu, Pak! Terima kasih." Tolak Ratna tanpa menoleh.


Dengan sedikit berlari, Ratna bergegas masuk kedalam rumah melalui pintu samping. Dia menggunakan tas nya sebagai pelindung kepala dari terpaan hujan gerimis. Saat melewati pintu dapur, tanpa sengaja dia mendengarkan suara seseorang yang sedang berbicara.


"Bagaimana keadaan Raya? Apakah sudah sehat?" suara Bu Rini terdengar sedang bertanya kepada seseorang.


Karena penasaran, jiwa kepo Ratna kembali muncul. Melangkahkan kakinya kearah pintu serta menajamkan sedikit indra pendengarannya. Dia sedikit mengintip dibalik pintu, terlihat Bu Rini sedang berbicara dengan Bu Darmi, ibunya.


"Alhamdulillah sudah mendingan, saya sangat berterima kasih, berkat bantuan Nyonya, anak saya bisa seperti anak-anak lainnya," ucap Bu Darmi sambil meletakkan camilan yang dibawanya keatas meja.


"Jika perlu bantuan lagi, jangan sungkan untuk mengatakannya," lanjut Bu Rini.


"Terima kasih, Nyonya. Saya sudah banyak merepotkan anda!" jawab Bu Darmi menundukkan kepalanya.


Ratna menghela nafas panjang, dengan semua pertolongan yang diberikan oleh sang majikan, setidaknya sudah sangat membantu kehidupannya yang terbilang cukup berat.


Adiknya yang masih berumur 12 tahun, memerlukan biaya yang banyak untuk operasi. Karena pukulan yang keras dan dilakukan berulang kali, berhasil membuat tulang rusuk sang adik patah dan jauh menusuk kedalam paru-paru nya. Dia dan adiknya adalah korban kekerasan fisik yang sering dilakukan ayahnya, seorang penjudi dan pemabuk berat. Ayahnya yang sering kalah main, tak segan melampiaskan kemarahannya kepada dirinya dan adiknya dalam keadaan mabuk. Hingga malam itu, kejadian naas pun menimpa sang adik, yang harus segera dilarikan kerumah sakit. Karena kejadian itu pula lah, Ratna dengan tegas menyuruh ibunya untuk menceraikan ayahnya. Dan membuat ayahnya mendekam dipenjara untuk mempertanggung jawabkan semua kesalahannya.


Biaya pengobatan dan operasi yang terbilang fantastis, ditambah dengan hutang renternir yang semakin menumpuk, membuat Ratna harus ikut bekerja keras membantu ibunya. Beruntung disaat sedang terpuruk, ada Pak Supri yang juga tetangganya membantu mencarikan pekerjaan. Dengan cara seperti itulah dia dan ibunya bisa bekerja dirumah Keluarga Winata.


"Hei!"


"Astaghfirullah."


Suara disertai tepukan ringan dipundak berhasil membuyarkan Ratna dari lamunannya. Dengan nafas terengah-engah, dia berulang kali mengusap dadanya, mencoba mengatur kembali pernafasan nya.


"Ngapain kamu disini bengong sendirian?" tanya Lisa dengan santainya.

__ADS_1


"Nona anda mengagetkan saya! Maaf, saya tidak sengaja lewat terus penasaran dengan suara orang yang sedang mengobrol," jawab Ratna dengan rasa bersalahnya. Tidak sepantasnya dia menguping pembicaraan orang.


"Kamu sibuk tidak hari ini? Aku bosan!" terang Lisa sambil menggandeng tangan Ratna menuju meja dapur lalu duduk.


"Saya ada sedikit pekerjaan hari ini. Bukankah biasanya anda ikut Tuan Dalfi kekantor?" tanya Ratna.


"Hah, kau tidak tahu bagaimana capeknya meladeni si Tuan mesum yang satu itu," gerutu Lisa dalam hatinya.


"Aku rindu dengan ibu, jadi aku mampir kesini, sekalian mengambil barang yang tertinggal," jawab Lisa sekenanya.


Ratna hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti, kemudian menyodorkan segelas jus jeruk yang diambilnya dari dalam kulkas.


"Ayo, temani aku jalan-jalan!" ajak Lisa tiba-tiba.


"Hari masih hujan, memangnya Nona mau jalan-jalan kemana?" tanya Ratna yang ingin menolak secara halus.


"Ke Mall yuk, sepertinya aku sudah lama sekali tidak pergi kesana. Aku akan tunggu sampai pekerjaan mu selesai, sekarang aku akan mengobrol dengan ibu dulu!" ucap Lisa sambil melangkahkan kakinya ke ruang keluarga sambil membawa jus nya.


Lisa dan Ratna singgah dari satu toko ke toko yang lainnya, dari satu butik ke butik yang disebelahnya lagi. Dari yang semula hanya satu barang belanjaan kini beranak pinak menjadi beberapa tentengan.


"Ini sepertinya cocok untukmu," ucap Lisa sembari menempelkan baju yang diambilnya dari rak gantung ke badan Ratna.


"Terima kasih, Nona! Tapi maaf ini sudah terlalu banyak," kata Ratna sungkan dengan pemberian dari Lisa.


Barang belanja yang ditenteng nya ini, sebagian besar adalah milik Ratna dan adiknya. Setiap kali Lisa membeli sesuatu, tak lupa juga ia akan membelikannya untuk Ratna dan juga Raya.


"Ini perintah! Kau kan temanku, aku senang jika bisa berbagi kebahagiaan denganmu."


Senyuman Lisa yang tulus terukir diwajahnya, membuat rasa penyesalan kian menyesakkan dada Ratna. Rasa iri yang sejak dulu bersemayam, sedikit demi sedikit mulai terkikis. "Salahkah yang selama ini aku lakukan," batin Ratna.


"Ayo kita makan dulu! Kakiku sakit," ajak Lisa yang melihat Ratna yang sedang berdiri mematung. Melamun.

__ADS_1


"Ah, iya!" ucap Ratna sembari bergegas menyusul Lisa yang sudah berjalan didepan.


Mereka masuk kedalam restoran siap saji yang terletak dilantai yang sama, memilih meja yang berdekatan dengan jendela agar pandangan bisa langsung mengarah ke jalan raya.


"Nona, anda tidak perlu repot-repot membelikan kami banyak barang seperti ini!" Ratna mengawali obrolan dengan melihat paper bag yang tersusun rapi dibawah meja.


"Sudah kubilang, Kita kan sedang berada diluar, kau tidak perlu memanggil ku dengan sebutan Nona."


"Maaf, tapi lebih baik seperti ini saja, saya harus sadar dengan posisi saya!" potong Ratna memberikan alasan.


"Sudahlah terserah kau saja, Lagipula itu bukan hanya untukmu, tapi untuk adikmu juga. Tenang saja, harta Mas Dalfi tidak akan habis kalau hanya sekedar untuk membeli ini," kata Lisa terkekeh.


"Tapi Nona, saya mohon jangan terlalu baik kepada saya, karena saya tidak sebaik yang Anda kira."


"Ck, sudahlah!" sahut Lisa.


"Tapi... "


Ucapan Ratna terpotong saat seorang pelayan datang membawa nampan berisi pesanan mereka. Aroma yang keluar dari makanan yang baru saja datang itu, langsung berhasil menggugah selera. Mereka langsung sibuk dengan hidangan yang berada didepannya, memakannya setelah terlebih dahulu mengucapkan terimakasih kepada pelayan restoran.


"Kita pulang yuk, aku capek!" ucap Lisa mengambil selembar tisu untuk mengelap bibirnya yang belepotan terkena saus.


"Baik, Nona!"


Setelah menghabiskan makanan, Lisa dan Ratna berjalan beriringan keluar dari mall berjalan menuju pintu depan. Mereka menunggu kedatangan Pak Bas yang sedang mengambil mobil diparkiran basement gedung itu.


Saat sedang menunggu, senyuman Lisa langsung merekah tatkala melihat mobil sang suami berhenti di area parkir seberang jalan.


"Mas!" pekik Lisa senang seraya melambaikan tangan kearah Dalfi, berjalan menghampiri kearah mobil suaminya.


"Nona, Awas!" teriak Ratna dengan suara nyaring.

__ADS_1


Lisa yang kaget, tiba-tiba merasakan kepalanya terasa berputar dan pandangan matanya yang berubah menjadi gelap. Hiruk pikuk suara orang dan mobil yang hilir mudik, mendadak menjadi hening sunyi seketika.


__ADS_2