BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟷𝟹


__ADS_3

Semua orang memperhatikan Teguh, menunggu jawaban pasti darinya. Lidya yang sedari tadi memandangi Teguh, tersenyum melihat Teguh yang terlihat kehilangan akal. Dia tentunya merasa sangat senang kalau Teguh masuk ke dalam sektenya, karena dia akan memiliki pengaruh yang sangat besar.


"Bagaimana Teguh? Tepatkan seperti yang ada di fikiran mu?" (Lidya)


"Bagaimana saudara Teguh? Kami sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban baik dari kamu."


"Hmmmm..... Baiklah, saya akan bergabung dengan kelompok ini. Dan saya akan meneruskan semua yang telah orang tua sayang bangun dikelompok ini. Dan saya menginginkan semuanya." (Teguh)


"Teguh! Sekarang dia adalah saudara kita, untuk yang kedua kalinya kita mendapatkan anggota dari kaum Pria. Mari kita rayakan bersama." (Lidya)


"Mari! Untuk keluarga kita yang baru."

__ADS_1


Setelah itu, Teguh dan Lidya beserta para wanita itu berpesta malam itu. Mereka makan dan minum-minum. Malam itu terasa begitu sangat meriah dan juga sangat melelahkan bagi Teguh. Hingga tak terasa lagi badan Teguh jatuh ke lantai. Dia tak sadarkan diri, dan tak mengingat apa pun lagi.


Sementara itu, Prapto sangat mengkhawatirkan Teguh yang tak kunjung pulang dari semalam. Jam sudah menunjukkan pukul 03:45, tapi Teguh belum juga terlihat. Bahkan Prapto yang biasanya tidur paling awal, kini dia benar-benar tak bisa tidur sama sekali.


Dia terus mengira-ngira kemana perginya Teguh hingga sepagi ini dia belum pulang juga kerumahnya. Karena Prapto tidak tahu sama sekali bahwa sebenarnya Teguh sedang dalam keadaan bahaya. Prapto berusah tetap berfikir positif agar bisa membuatnya tenang.


Dina, istri Prapto pun tak dapat berbuat apa-apa selain melihat suaminya mondar mandir dan keluar masuk rumah. Dina juga tak ingin menggangu Prapto, karena menurut Dina lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk bicara dengan suaminya itu. Walaupun dia sangat khawatir, karena takut kalau sampai suaminya jatuh sakit karena memikirkan Teguh yang sekarang entah ada dimana.


"Sayang... Coba kamu hubungi teman kamu yang Ustadzah itu. Aku yakin sayang, kalau sekarang Teguh itu lagi dalam bahaya. Aku harus cari dia." (Prapto)


Farah adalah teman Dina ustadzah yang siang kemarin mereka kunjungi.

__ADS_1


"Tapi ini mendesak mah." (Prapto)


"Ya udah mas. Gini ajah mas, kamu istirahat dulu. Nah, nanti siang kita kesana lagi. Supaya lebih jelas mas. Kalau jam segini belum tentu juga Farah mau angkat telepon kita mas." (Dina)


Prapto terlihat sangat lelah dan sangat pucat karena kurang istirahat. Ditambah lagi beban pikirannya yang kian rumit. Prapto hanya terduduk lemas di kursinya, dan menatap keluar jendela. Memegang dan mencium tangan istrinya. Menandakan masalah yang dia hadapi sangatlah berat.


"Aku itu udah dikasih tanggung jawab sama orang tuaku mah. Kalau aku harus bisa jagain Teguh. Jangan sampai Teguh ngikutin jejak orang tuanya mah. Tapi sekarang, aku udah gagal mah. Aku malu sama diriku sendiri, aku udah janji mah! janji sama orang tuaku!" (Prapto)


"Sayang... Kamu belum gagal kok. Kamu cuman belum tahu caranya ajah. Yang penting kamu jangan lelah berdoa sama usaha mas. Jangan sampai orang tua kamu lebih kecewa lagi, karena kamu nyerah kaya gini mas. Aku akan selalu dukung kamu mas." (Dina)


"Iya kamu bener sayang. Makasih yah sayang, kamu selalu ada buat aku." (Prapto)

__ADS_1


"Iya mas, aku kan istri kamu. Ya udah mas, ayo istirahat dulu. Nanti siang baru kita datengin Farah. Ya?" (Dina)


"Iya sayang." (Prapto)


__ADS_2