
Kevin dibuat panas dingin saat Lea berbisik ditelinganya. Bibirnya yang manis, suaranya yang halus, membuat tubuh Kevin gemetar. Suara halus itu mulai membuat otaknya terpengaruh. Apalagi saat Lea mengatakan kalau hanya dia seorang yang menganggap Kevin sebagai teman.
"Lihatlah mereka semua, tidak ada satu pun dari mereka yang peduli padamu. Hanya aku, akulah yang masih menganggapmu sebagai manusia yang pantas untuk hidup. Jika kamu tidak membunuh mereka, maka merekalah yang akan membunuhmu. Jika kamu merasa kesulitan, maka kita bisa bekerja sama. Aku tidak akan merasa keberatan." (Lea)
"A.. Aakuu..." (Kevin)
Kevin terbata-bata menjawab semua ucapan Lea. Dia tak tahu harus menjawab apa. Pilihan itu baginya masih terlalu berat. Melihat wajah-wajah mereka yang ketakutan membuatnya tidak tega melakukan hal tersebut. Tapi Lea sepertinya tidak mau menyerah. Dia semakin lihai saja untuk mempengaruhi Kevin.
Lea sudah tahu kalau Kevin adalah anak yang suka dibully dan dicampakkan oleh setiap orang yang ada didekatnya. Bahkan keluarganya sendiri pun seakan sudah tidak peduli lagi padanya.
"Kalau kamu bisa bertahan hidup dan menjadi salah satu orang yang terpilih, maka kamu akan memiliki segalanya. Kamu bisa memiliki banyak uang, banyak teman, dan tidak ada lagi orang yang berani meremehkanmu. Bagaimana?" (Lea)
__ADS_1
Lea menggenggam tangan Kevin dan mengambil besi yang ia pegang, lalu menggantinya dengan golok yang sebelumnya digunakan oleh Lea.
"Ayo! Lakukanlah! Mumpung tenaga mereka belum pulih." (Lea)
Kevin lalu memberanikan dirinya dengan didorong kata-kata kasar dari Lea.
"Ayo! Jangan takut! Jangan jadi pengecut! Buktikan kalau orang sepertimu pantas untuk dihormati dan dihargai! Lakukanlah Kevin!" (Lea)
Dia bahkan cengengesan saat golok melukai tubuhnya yang kekar. Dan entah kenapa, Kevin merasa kalau dia senang melakukan hal semacam itu. Kevin melakukan sayatan demi sayatan ditubuhnya. Perlahan anak laki-laki itu terlihat mulai sekarat karena darah sudah mengalir deras dari tubuhnya.
"Bagus Kevin! Lakukan! Nikmatilah semuanya. Kau berhak mendapatkannya Kevin." (Lea)
__ADS_1
"Hahaha! Bagus! Kita sudah menemukan dua kelinci yang kita butuhkan!" (Mozan)
Mozan yang memantau semua adegan itu pun merasa sangat puas, karena ia sendiri tidak pernah menyangka kalau para calon anggora baru yang belum dilatih itu bisa melakukan semuanya dengan sangat baik. Mozan sudah sangat yakin kalau Kevin dan Lea adalah dua orang yang sangat cocok untuk dijadikan pasangan pembunuh.
"Kita bisa merekrut mereka tanpa harus melatih mereka terlebih dahulu. Jika Kevin bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat, maka kita tidak harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk mendapatkan anggota baru yang tangguh dan bernyali." (Mozan)
"Benar Tetua. Orang seperti merekalah yang kita cari. Mereka benar-benar mirip dengan anak didik kita yang dulu." (Razel)
"Diam! Jangan sampai kau sebut namanya!" (Mozan)
Mozan tahu kalau masih banyak orang yang mengagumi Farah, karena dia adalah orang yang paling disegani diantara yang lainnya semasa ia masih menjadi anggota sekte. Razel hanya tertunduk dengan raut wajah kesal, karena Mozan selalu saja memarahinya walau pun kesalahannya sangat kecil.
__ADS_1