
"Dulu, aku sama denganmu. Berdoa setiap malam. Kemudian berjualan ikan busuk dipagi hari. Banyak orang yang datang untuk membeli ikanku. Tapi tak sedikit juga yang datang hanya untuk meludahi aku. Hidup memang kejam. Sampai pada akhirnya aku mendapatkan semua yang aku inginkan tanpa harus bersusah payah berdoa sepanjang malam. Tapi sayangnya, sekarang aku harus hidup dengan nyawa orang lain. Aku yakin kamu akan mengerti suatu hari nanti. Kamu hanya membuang waktu dengan terus menerus berdoa. Tidak ada gunanya." (Teguh)
Teguh menyentuh kedua tangan wanita tua itu. Dia mencoba mempengaruhinya dengan segala ucapannya, agar mau ikut bersama dengan Teguh.
"Bagaimana? Kamu tertarik? Hidup muda. Lebih lama. Kuat, dan tertandingi." (Teguh)
Teguh masih terus memegang kedua tangan wanita tua itu. Tapi wanita itu sama sekali tidak menghiraukan ucapannya. Semakin lama, tangan Teguh terasa panas dan terbakar. Wanita tua itu bukanlah orang sembarangan. Teguh melihat banyak sekali cahaya yang berusaha menyerang dirinya. Entah itu cahaya apa. Yang jelas membuat Teguh gemetar dan menghentikan ucapannya.
__ADS_1
Teguh langsung pergi dari tempat itu dengan langkah cepat. Ia tidak mau lagi berurusan dengan wanita tua itu lebih lama. Apalagi saat Teguh mengetahui secara pasti, kalau wanita tua itu dilindungi oleh para malaikat karena dia adalah orang yang bersih. Tidak mudah terpengaruh dengan pemikiran orang lain. Dengan kata lain, orang yang memiliki pendirian akan sulit untuk Teguh pengaruhi.
"Terimakasih Tuhan. Engkau telah menyelamatkan orang tua yang lemah dan tak berdaya ini. Semoga anak itu diberikan kesadaran dan disembuhkan dari luka lamanya." ucap wanita tua itu dalam hatinya.
Teguh terus berjalan menuju ke tempat persembunyian sekte yang dulu bergerak dibawah kekuasaannya. Teguh akan mengumpulkan seluruh pasukannya untuk menyerang Mozan dan seluruh pengikutnya yang masih tersisa. Teguh membangun pasukan itu untuk ia gunakan saat dalam keadaan mendesak seperti sekarang ini.
Namun semuanya tidak sesuai dengan perkiraan Teguh. Sesampainya disana, Teguh dibuat terkejut karena para pendukungnya sudah tidak ada. Yang ia temukan hanyalah orang-orang yang sedang berdoa dan membaca kitab. Satu orang memegang satu kitab. Mereka semua ternyata telah mengetahui kalau Teguh akan datang. Hal ini dilakukan atas perintah dari Farah.
__ADS_1
Teguh hanya bisa menggerutu tanpa bisa melakukan apa pun. Ia tidak mungkin menyerang sekelompok orang yang sedang membaca kitab. Jumlah mereka juga puluhan. Dilihat dari cara mereka berpakaian dan juga membaca kitab yang ada dihadapan mereka pun sudah menandakan kalau mereka orang yang sangat berpengalaman.
"Pantas saja udara di tempat ini terasa sangat panas. Lalu dimana para pasukanku?" (Teguh)
Dengan menahan hawa panas ditubuhnya, Teguh terus memperhatikan mereka dengan seksama. Melihat setiap wajah mereka. Tiba-tiba, ada salah seorang dari mereka yang melihat Teguh mengintip dari salah satu jendela. Orang itu menatap Teguh dengan tersenyum. Dia juga menganggukkan kepalanya.
Teguh keheranan. Dia belum pernah mendapati orang sebaik itu. Padahal dia adalah musibah besar yang akan mengancam keadaan seluruh umat manusia. Teguh seakan dipaku oleh tatapan orang itu. Hatinya tersentuh, bukan hanya karena senyum orang itu, tapi karena suara-suara bacaan kitab yang mereka baca.
__ADS_1