
Mereka berdua menunggu Teguh di ruang tamu. Teguh masih terus menangis mengingat segala hal tentang dirinya. Setelah beberapa menit barulah Teguh keluar dan mendapati Farah serta Kyai Husein sedang
memegang bingkai dengan foto Teguh kecil bersama keluarganya.
"Farah? Bapak?" (Teguh)
Kyai Husein dan Farah menengok ke arah Teguh dengan tersenyum.
"Bapak? Bukankah tadi malam kamu memanggilku orang tua?" (Kyai Husein)
Teguh menundukkan kepalanya karena malu dan merasa bersalah atas perbuatannya kepada Kyai Husein.
"Maafkan saya pak. Saya tidak tahu dengan apa yang terjadi dengan diri saya sendiri akhir-akhir ini. Bahkan, saya heran dengan keadaan rumah yang sekarang sudah bersih dan tertata rapi. Padahal, pertama kali pulang
rumah ini terlihat sangat kotor dan berantakan." (Teguh)
"Itu menurutmu teguh. Karena pandangan matamu selalu berusaha ditutupi dari kebaikan. Dan itu adalah ulah iblis yang ada ditubuhmu. Dia masih ada disana, tapi sekarang dia tidak mampu lagi untuk
__ADS_1
mempengaruhi pikiran dan perasaanmu." (Kyai Husein)
"Mas Teguh, duduklah. Saya sudah siapkan makanan untuk mas teguh. Mas teguh harus makan. Nanti setelah mas teguh makan dan berganti pakaian, kami akan bawa mas teguh untuk bertemu dengan mas prapto."(Farah)
"lya Farah. Terimakasih ya." (Teguh)
Kyai Husein dan Farah terus memandangi Teguh yang sedang menikmati makanannya. Sekarang Teguh sudah bisa merasakan kembali makanan rumahan seperti dulu. Dia tak lagi harus memakan daging mentah dan juga meminum darah. Teguh memikirkan apa yang akan terjadi saat bertemu dengan kakaknya nanti.
Dia takut kakaknya kecewa, karena ulahnya.
"Tidak usah dipikirkan teguh. Prapto tidak akan marah kepadamu. Dia tahu kalau semua itu terjadi bukan atas dasar kemauanmu sendiri. Dia sangat menyayangi dan mencintaimu. Bahkan, sering sekali dia menanyakan kabarmu kepada farah, walaupun kamu masih bersama dengan anggota kelompokmu. Yang harus kamu pikirkan sekarang adalah bagaimana kamu
harus berubah menjadi lebih baik lagi. Dan kembali membangun semua hal dari awal, sebagai manusia sejati." (Kyai Husein)
Teguh diam sejenak, dia tidak menyangka kalau Kyai Husein mengetahui apa yang sedang ia fikirkan.
"Bagaimana bapak bisa tahu apa yang sedang saya fikirkan sekarang?" (Teguh)
__ADS_1
Farah memotong pertanyaan Teguh kepada gurunya, Kyai Husein.
"Bapak ini adalah guru saya mas teguh. Dia dari Yaman. Tapi dia berasal dari sini juga. Dia pulang ke kampung halamannya untuk membantu saya dan juga keluarga mas teguh. Guru saya mengetahui banyak hal. Dan guru saya adalah orang yang telah mengeluarkan semua pengaruh jahat dalam
diri mas teguh." (Farah)
"Semua itu bisa dilakukan karena Kuasa Allah Yang Maha Segala-galanya. Saya harap mas teguh bisa menerima kenyataan bahwa, kalau mas teguh tidak segera disembuhkan, maka perang besar akan terjadi. Dan pastinya akan ada banyak korban tidak bersalah terkena imbasnya. Perang itu adalah perang ghaib. Namun efeknya akan sampai ke dunia nyata." (Kyai Husein)
"Maaf Kyai, saya benar-benar tidak mengerti." (Teguh)
Kyai Husein menghela nafas panjang. Dia berusaha menjelaskan semuanya kepada Teguh yang memang belum mengerti apa-apa.
"Kamu masih ingat dengan Lidya?" (Kyai Husein)
"lya Kyai, saya masih ingat. Dia yang bertanggung jawab atas perekrutan
anggota baru." (Teguh)
__ADS_1