BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟹𝟷


__ADS_3

"Hai manusia! Apa yang kamu sembah?!"


Tiba-tiba sesosok makhluk halus berwujud perempuan mengagetkan Farah yang kala itu sedang berdoa setelah menyelesaikan ibadahnya.


"Siapa kamu?!" (Farah)


"Saya adalah ratu dari bangsa jin."


"Apa maksud dan tujuan kamu datang kemari? Dan bagaimana makhluk halus seperti kamu bisa memasuki tempat ini?" (Farah)


"Saya hanya bertanya kepada mu! Siapa yang kamu sembah?!"


"Tuhan lah yang saya sembah." (Farah).


"Tuhan yang mana?!"


"Tuhan yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya." (Farah)


"Siapa dia?!"


"Laa Illaha Ilallah." (Farah)

__ADS_1


"Kenapa kamu begitu yakin?!"


"Karena sekarang aku hidup dan bernafas." (Farah)


"Lalu dimana Tuhan yang kamu sembah itu?!"


"Dia ada didalam hati setiap manusia." (Farah)


"Hahaha.... kamu tidak bisa melihatnya kan?"


"Tanpa melihatnya pun, saya sudah merasakan betapa besar kasih sayangnya." (Farah)


Kemudian makhluk itu memandang Farah dengan tersenyum, lalu pergi meninggalkannya. Makhluk itu bagaikan angin. Datang begitu saja, menghilang pun begitu saja.


Kali ini, makhluk halus bisa menembus kedalam kamarnya. Bahkan berbincang dengan Farah.


Entah apa yang membuat makhluk itu datang ke tempatnya. Mengajukan beberapa pertanyaan yang sudah pasti diketahui oleh seluruh ciptaan di dunia ini.


Yang bertambah aneh adalah, sikap Ayah Farah yang berubah menjadi dingin kepada Farah setelah kejadian malam itu. Bahkan tak ada lagi canda dan tawa seperti biasanya.


Biasanya, Ayah Farah selalu menghibur Farah ketika Farah sedang menghadapi masalah. Terutama saat-saat seperti ini. Namun kali ini berbeda, Ayah Farah lebih condong untuk mengurung dirinya dikamar. Sampai-sampai tak berbicara sepatah katapun kepada anaknya itu.

__ADS_1


Sifat ini tak seharusnya ada dalam diri Ayah Farah. Dia dikenal sebagai orang yang selalu bahagia dalam keadaan apa pun. Tak pernah mengeluh dalam hidupnya. Tapi sekarang, sikapnya berubah layaknya mayat hidup.


Ketika Farah dan Ibunya mencoba membuka pembicaraan pun, Ayahnya selalu acuh tak mau menanggapi. Terkadang hanya mengangguk ataupun menggelengkan kepalanya. Benar-benar diluar pemikiran seorang Farah.


Farah mencoba membaca pikiran Ayahnya, tapi hal itu pun tak berhasil. Padahal ini satu-satunya cara agar Farah tahu apa yang dialami oleh Ayahnya, sehingga berubah menjadi seperti ini.


Selang beberapa Minggu, Farah dan Ibunya mulai terbiasa dengan sikap Ayahnya. Walaupun sebenarnya Farah masih menaruh berbagai pertanyaan dalam otaknya. Farah pendam semua hal itu, karena dia ingin Ayahnya yang menceritakan semuanya nanti.


"Bu? Ayah sebenarnya kenapa yah Bu?" (Farah)


"Sudahlah Farah, jangan bahas itu lagi ya nak. Nanti akan menambah beban fikiran kamu. Lebih baik sekarang kamu siap-siap, dan tengok sahabat kamu, Prapto. Lihat bagaimana keadaannya. Mudah-mudahan dia sudah sembuh." (Ibu Farah)


"Iya Bu. Amin." (Farah)


"Farah.... Ibu hanya mau kasih nasehat sama kamu. Kalau kamu harus lebih berhati-hati lagi dengan keadaan sekarang ini. Nyawa kamu sekarang sedang dipertaruhkan Farah." (Ibu Farah)


"Iya Bu. Farah tahu kok Bu. Ibu doakan Farah terus yah Bu. Supaya Farah bisa kuat menghadapi semua ini." (Farah)


"Amin." (Ibu Farah)


Setelah mempersiapkan segala sesuatunya,

__ADS_1


Farah kemudian berpamitan kepada ibunya untuk melihat keadaan Prapto. Sudah satu bulan ini Farah tidak menjenguknya, karena situasi yang tidak bersahabat.


__ADS_2