BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟹𝟻


__ADS_3

Setelah malam itu mereka lewati, Prapto dan Farah memutuskan untuk pulang. Karena keadaan Prapto sudah membaik. Dan Prapto juga sangat merindukan anaknya, Dion.


..."Saya harus pulang dengan Mas Prapto. Karena sudah cukup lama dia tidak bertemu dengan anaknya." (Farah)...


"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kalian memutar jalan. Karena ketika malam seperti ini, hanya jalan itu yang paling aman untuk dilewati. Kami sudah mengenalkan seluruh wilayah ini kepada Prapto. Jadi kamu tidak akan tersesat Farah."


"Iya. Terimakasih." (Farah)


"Terimakasih untuk kalian semua karena sudah merawat saya dengan sangat baik. Dan mengajari saya banyak hal." (Prapto)


"Iya sama-sama. Hati-hati di jalan."


Farah dan Prapto meninggalkan tempat itu. Sedangkan anak buah Farah melanjutkan obrolan mereka seperti biasa. Orang-orang seperti mereka memang jarang sekali tidur. Jadi, mereka mengisi waktu dengan saling berbagi cerita satu sama lain untuk mengurangi rasa bosan mereka. Dan hal itu membuat mereka senang. Karena banyak kisah yang tak ada ujungnya untuk diceritakan. Hal ini mereka lakukan sepanjang malam jika tidak ada hal lain yang bisa mereka lakukan.


Kemudian salah satu anak buah Farah menyela obrolan diantara mereka. Untuk membahas hal penting yang sudah disampaikan oleh Farah sebelumnya.

__ADS_1


"Sebaiknya kita mulai memikirkan rencana yang bagus untuk memberikan rasa percaya kepada warga desa." (Jery)


Jery adalah anak buah Farah yang dituakan diantara teman-temannya. Meskipun terlihat masih muda, tetapi sebenarnya Jery sudah sangat tua. Hanya saja, semua hal itu tertutupi oleh fisiknya. Dia adalah orang yang sangat setia kepada Farah. Sewaktu Farah masih bergabung dengan Lidya, Jerylah yang memberikan doktrin kepada semua anak buah Farah agar mereka bisa menjadi orang yang setia seperti dirinya.


Selama ini, Jery yang telah berhasil membuat teman-temannya bisa merasa aman dari kejaran anak buah Lidya. Walaupun Jery dengan terpaksa harus membawa mereka ke tempat terpencil seperti ini.


"Jery, selama ini kita hanya melakukan hal yang sia-sia." (Yura)


"Maksudmu?! Apa kamu fikir selama ini kita bisa selamat bukan karena hal yang menurutmu sia-sia?!" (Jery)


"Apa yang kamu ragukan? Hah?! Apakah masih soal surga dan neraka?!" (Jery)


Yura menatap Jery dengan penuh rasa kesal. Selama ini Jery terlalu keras mendidik Yura yang bisa dikatakan masih sangatlah muda untuk memikirkan hal-hal semacam itu. Belum lagi kalau mengingat masa lalunya yang begitu menyakitkan.


"Sudahlah! Kita semua bersaudara. Jangan hanya karena perbedaan pendapat, kita jadi terpecah belah." (Alser)

__ADS_1


Alser mencoba menengahi mereka, lalu memalingkan wajahnya dan merapikan tempat duduknya. Alser kemudian mengambil sebatang rokok dan menghisapnya. Mencoba menenangkan dirinya sejenak. Karena dia bukan ciri orang yang banyak bicara. Alser condong diam ketika ada masalah diantara sahabat-sahabatnya.


"Dalam darah kita mengalir darah orang-orang suci yang sudah kita kotori. Dan kemampuan yang kita dapatkan bukanlah anugrah Sang Pencipta. Tapi anugrah dari Iblis." (Alser)


"Maka dari itu, sekaranglah waktunya kita membuat Iblis ikut serta merasakan kekuatannya sendiri!" (Irfan)


"Iya. Irfan benar. Kita harus membuat Iblis yang pernah memperbudak kita merasakan rasa sakit yang selama ini orang-orang tak bersalah itu rasakan." (Tony)


"Tapi bagaimana caranya? Iblis tentunya sudah faham dan tahu kelemahan kita. Karena kita mendapatkan kekuatan dari mereka." (Martin)


"Ada caranya. Apa kalian masih ingat tentang Kitab Garang? Dalam kitab itu disebutkan bahwa, ketika dua kekuatan disatukan maka akan muncul sebuah cahaya. Dan itu artinya, kita harus menggunakan ilmu hitam kita dengan ilmu putih yang dimiliki oleh Farah." (Jery)


"Yah... itu bagus. Yura? Itu tugas kamu untuk mengatur pertemuan kita dengan Farah. Lebih cepat akan lebih Baik." (Martin)


"Ya!" (Yura)

__ADS_1


__ADS_2