
"Sial! Semua itu ternyata hanya mimpi!" (Teguh)
Teguh ternyata masih terbaring di tanah. Kepalanya terasa sangat pusing. Seluruh bagian tubuhnya terasa amat sakit seperti habis dipukuli. Perlahan Teguh berdiri dan berjalan kembali menuju rumahnya. Jalanan begitu sepi tak seperti dulu. Sekarang orang mulai sibuk dengan urusan mereka masing. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat di tempat itu.
"Kenapa lagi aku ini? Kenapa semuanya bisa begini. Tubuhku rasanya sakit sekali. Pasti ada orang tua itu sudah melakukan sesuatu saat aku sedang pingsan tadi." (Teguh)
Kantong plastik berisi ikan yang Teguh beli masih ia genggam ditangannya. Perutnya terasa sangat lapar. Teguh menjadi semakin heran saja dibuatnya. Kedua tangan Teguh gemetar karena kelaparan. Padahal dia sudah mendapatkan makanan seperti biasanya, yaitu darah manusia. Yang mampu membuat tubuhnya tetap bugar.
"Benar-benar gila. Aku menjadi lemah sekarang. Aku seharusnya masih segar seperti biasanya." (Teguh)
Teguh masuk ke dapur rumahnya. Masih tersisa beberapa batang kayu yang biasa ia gunakan untuk memasak saat masih tinggal di rumah ini. Seperti biasanya, Teguh selalu menyalakan api hanya dengan kedua tangannya. Namun hal aneh kembali terjadi. Saat Teguh mencoba mengeluarkan kekuatannya, tidak ada reaksi apa pun.
__ADS_1
Teguh semakin tidak tenang. Dia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Sekali pun kekuatannya melemah karena tak mendapatkan mangsa, Teguh tidak pernah melemah sampai sejauh ini.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi?! Seharusnya aku bisa mengeluarkan api dari tanganku." (Teguh)
Teguh kembali komat-kamit membaca mantra. Tetap saja tidak berhasil. Justru rasa sakit ditubuhnya terasa makin hebat.
"Agghh! Sepertinya aku memang harus menggunakan cara lama. Pasti disini ada korek api yang masih menyala." (Teguh)
Teguh mengambil beberapa korek api dan mencobanya satu persatu. Beruntunglah karena korek-korek itu masih bisa menyala.
Teguh menata kayunya satu persatu sembari menahan sakit ditubuhnya. Sejenak ia kembali mengingat masa lalunya yang setiap pagi memasak dengan kayu-kayu bakar yang ia kumpulkan setiap kali pulang dari pasar. Rasanya sangat menyenangkan dengan kehidupan yang tak banyak membebaninya.
__ADS_1
Dia juga kembali teringat dengan Vera, mantan istrinya. Entah dimana dia sekarang, dan bagaimana nasibnya. Teguh tidak pernah bertemu dengannya lagi setelah dia mengusirnya dari rumah.
"Vera. Aku harap wanita busuk itu sudah mati di jalanan." (Teguh)
Teguh masih ingat bagaimana kenangan buruknya bersama dengan Vera. Setiap hari Teguh selalu mendapatkan cacian dan makian dari orang yang ia cintai. Hanya karena saat itu Teguh miskin, Vera bersikap seolah-olah dia adalah dewa yang berhak menindas Teguh.
"Tapi, kalah difikir-fikir, ada baiknya kalau aku tinggal saja di rumah ini. Lagi pula rumah ini masih kuat untuk aku tinggali puluhan tahun ke depan. Buat apa aku harus menuruti Lidya yang sebentar lagi juga pasti akan menjemput ajalnya." (Teguh)
Teguh sudah mulai memikirkan tentang membuat perubahan dalam hidupnya. Dia mulai merasa bosan dan sekaligus tertekan dengan kehidupannya yang sekarang. Kemana-mana harus memiliki tujuan. Teguh dilarang untuk dekat dengan orang biasa. Karena jati dirinya bisa terbongkar jika bergaul dengan orang lain.
Sudah pasti hal itu terasa sangat membosankan untuk Teguh yang memiliki perilaku familiar dengan siapa pun yang ia temui. Sembari memasak ikan yang ia beli, Teguh mulai merasa ada yang aneh dengan itu. Baunya terasa tidak enak, tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Keparat! Kenapa ikannya membusuk!" (Teguh)
Ternyata ikan itu mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tapi mau bagaimana lagi, dari pada Teguh tidak makan, ikan busuk pun ia masih doyan.