
Kyai Husein menganggukkan kepalanya, pertanda kalau dia memerintahkan untuk memulai pertarungan.
"Serang!" (Mozan)
Pertarungan pun dimulai. Setiap orang yang ada dalam pertempurang itu mengeluarkan semua kemampuan mereka masing-masing. Pertarungan cukup seimbang, karena Mozan dan kelompoknya sangat berambisi untuk
menghabisi Kyai Husein dan para pengikutnya.
Ditambah dengan rasa marahnya terhadap Anmarah masih belum reda. Sedangkan Anmarah sendiri masih berdiam di posisinya. Salah satu pengikut Anmarah menyeletuknya karena dia tidak mendapatkan perintah apa-apa, padahal pertarungan sudah dimulai.
"Tetua Anmarah, apakah kita akan diam saja disini?"
"Ya! Kita akan diam saja menunggu hasil pertarungannya. Tidak ada gunanya membantu Mozan dan pengikutnya. Jika Mozan menang, maka kita tinggal menghabisinya saja. Kalau dia kalah, maka kita tidak perlu repot-repot untuk menghajarnya. Aku tidak mau tanganku kotor oleh darah Mozan." (Anmarah)
"Jadi kalian hanya akan menonton?" (Lidya)
__ADS_1
Tiba-tiba Lidya yang sudah bebas pun berada di belakang Anmarah dan para pengikutnya. Kondisi Lidya sangat mengerikan. Sebagian wajahnya mengalami luka bakar yang sangat parah. Terlihat dibeberapa bagian tubuhnya juga kulitnya mulai mengelupas. Dia sudah kehilangan keabadiannya, karena terlalu lama dihukum di tiang perak.
Sehingga sebagian kemampuannya juga telah melemah. Namun, Lidya masih sangat mampu untuk menghadapi Anmarah. Karena sebenarnya, Teguhlah yang telah membebaskan Lidya dari tiang perak saat semua orang sedang lengah. Dengan perjanjian, Lidya harus membantunya untuk mengalahkan Mozan dan seluruh pengikutnya yang masih tersisa.
Lidya juga mengajukan syarat kepada Teguh, jika pertempuran telah usai, maka Teguh harus membunuhnya dengan sebuah belati milik Lidya sendiri, agar Lidya benar-benar mati, dan ruhnya tidak terus bergentayangan.
"Oh. jadi kamu sudah bebas?" (Anmarah)
"Ya. Aku bebas. Setelah sekian lama aku melewati hari-hariku dengan penderitaan dan penyiksaan, sekarang aku telah dibebaskan." (Lidya)
"Tidak. Tapi aku harus menghabisi kalian semua, agar tidak ada lagi penganut ilmu hitam di dunia ini. Biarkan iblis merasakan kesepian tanpa seorang teman." (Lidya)
Lidya sudah berjanji untuk tidak lagi menganut ilmu hitam, dia menyesal karena telah berbuat kejahatan. Bahkan dia juga sudah menerima Tuhan Yang Maha Kuasa di dalam hatinya. Andaikan bisa, mungkin Lidya sudah memilih untuk memeluk agama terlebih dahulu sebelum ajalnya tiba.
Namun. Semua itu pun sudah cukup membuktikan kalau dia memang telah merubah jalan pikirannya sendiri, dengan tidak mau lagi melihat Mozan dan kelompoknya berdiri. Anmarah pun sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk membunuh. Dia dan kelompoknya menyerang Lidya yang hanya seorang diri.
__ADS_1
Dengan semua senjata yang ada, Lidya sedikit kewalahan, karena jumlah mereka
terlalu banyak untuk dilawan. Teguh yang melihat kalau Lidya mulai terdesak pun langsung membantunya dan bertarung bersamanya.
"Oh... Teguh.. Sudah lama sekali kami tidak melihatmu. Bagaimana jika kita bergabung seperti dulu. Kita bisa menjadi satu kekuatan utuh yang tidak akan tertandingi." (Anmarah)
"Jangan terpengaruh Teguh. Ingat dengan tujuan kita. Kita tidak boleh melupakannya." (Lidya)
"Teguh. Untuk apa terus menerus hidup dengan kemiskinan dan penderitaan. Kamu pun sudah tahu, kalau kamu adalah titisan paduka raja. Jangan membantahnya Teguh. Itu adalah takdirmu." (Anmarah)
"Lalu siapakah yang membuat takdir itu?" (Teguh)
Anmarah serasa disambar petir mendengar jawaban sekaligus pertanyaan itu. Anmarah pun dulu sama seperti Teguh. Hidup dalam kemiskinan dan penderitaan. Menjadi bahan cacian dan makian. Hingga dia bertemu
dengan Mozan dan menjadi pengikutnya. Bisa disimpulkan, kalau sebenarnya Anmarah pun mempercayai kalau ada kekuatan yang lebih besar dari segala-galanya, yaitu kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa.
__ADS_1