BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟸𝟢


__ADS_3

"Semua yang Tuan minta sudah kami sediakan. Kapan Tuan akan memulainya?"


"Secepat mungkin, tapi tetap seperti rencana awal. Kita harus lebih hati-hati, mereka bukan orang-orang sembarangan. Dan mereka sudah melakukan perlawanan kepada ajaran kita selama ratusan tahun. Untuk itu kita harus mencari cara agar mereka keluar dari desa itu." (Teguh)


"Serang saja mereka secara tiba-tiba." (Lidya)


"Nyonya." (Teguh)


Lidya memotong pembicaraan Teguh dengan anak buahnya. Dia tidak terlalu suka dengan pergerakan Teguh yang lamban. Dia bukan orang penyabar dalam hal seperti ini, karena itulah dia selalu mengalami kemunduran.


"Tapi Nyonya...." (Teguh)


"Teguh! Kita sudah mengalami kemunduran yang pesat! Hebat sekali! Semua ini karena pergerakan mu dengan kelompok mu yang lamban ini! Mau sampai kapan?!" (Lidya)


"Maaf Nyonya. Kita semua tahu bagaimana orang-orang itu. Mereka tak bisa kita anggap remeh. Kalau kita menyerang mereka di desa, bisa kacau semua rencana yang telah kami susun." (Teguh)


Lidya mencekik leher Teguh dengan sangat kencang. Karena rasa kesal kepada Teguh yang selama ini dia pendam, membuat emosinya meledak-ledak. Dia tidak suka dibantah oleh bawahan. Apalagi sekarang ini Teguh sudah mulai kuat dan memiliki banyak pengikut. Hal itu membuat Lidya itu kepada Teguh.

__ADS_1


Sedikit penyesalan itu pasti. Karena dia yang memaksa Teguh untuk ikut dalam kelompok ini. Sekarang dia juga yang harus menanggung akibatnya.


"Nyonya! Saya mohon! Jangan hanya karena saya lamban, Nyonya berniat membunuh saya." (Teguh)


"Hhahh!!!"


Lidya melempar Teguh ke arah pintu. Badan Teguh yang kecil itu pun langsung ambruk dan tak bisa bergerak. Bahkan kepala Teguh sampai mengeluarkan darah. Lidya benar-benar tak memiliki perasaan. Dia sudah bukan lagi manusia, tapi Iblis.


Wajahnya yang cantik dan anggun, kini berubah menjadi sangat menyeramkan. Bahkan bukan hanya itu, Lidya juga menggunakan kemampuan sihirnya untuk menghabisi seluruh anak buah Teguh yang ada diruangan itu.


Teguh tak sadarkan diri karena serangan Lidya sangat kuat. Walaupun itu belum seberapa besar dari kemampuan Lidya yang sesungguhnya, tapi mampu membuat Teguh sekarat. Karena emosi yang semakin meningkat, Lidya menjadi tak terkendali. Dan dia bahkan membunuh seluruh anak buah Teguh yang berjaga diluar ruangan itu. Dia melampiaskan seluruh emosinya kepada anak buah Teguh, yang bahkan tidak tahu apa-apa.


"Siapa itu?"


"Itu sepeti teriakan Nyonya. Kita harus cepat kesana! Sepertinya terjadi sesuatu yang genting."


"Ayo kita semua kesana!"

__ADS_1


Seluruh anggota sekte pun berkumpul dan langsung menuju ke tempat persembunyian Teguh, dimana Lidya berada. Semua anggota panik dan takut mendengar suara teriakan yang memecah telinga itu. Siapa lagi yang mampu berteriak sekencang itu kalau bukan Lidya.


Begitu juga dengan Farah yang waktu itu sedang berdzikir, dia mendengar suara itu seakan sangat dekat dengan telinganya.


"Assalamualaikum Fa." (Prapto)


"Walaikumsalam." (Farah)


"Kamu denger itukan Fa?" (Prapto)


"Iya mas, aku denger mas. Kok deket kayanya mas." (Farah)


"Iya Fa. Semua warga sekarang lagi kumpul di balai desa. Mereka mau ngrencanain serangan ke tempat itu Fa." (Prapto)


"Ya Allah. Kita harus cegat mas. Bisa jadi mereka ke jebak disana." (Farah)


"Ayo cepetan Fa." (Prapto)

__ADS_1


"Iya mas." (Farah)


Farah dan Prapto menuju ke Balai Desa untuk menghentikan warga yang sedang merencanakan penyerangan ke tempat itu. Karena Farah tahu, bahwa yang mampu berteriak sekeras itu hanyalah Lidya. Dan pastinya akan mengundang sekte yang lain untuk datang ke tempat itu.


__ADS_2