BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟸𝟷


__ADS_3

"Farah, bagaimana rencana kamu?" (Pak Lurah)


"Pak, menyerang tempat itu sangat berbahaya pak. Karena mereka tahu, kita juga tahu, kalau ini kelemahan kita." (Farah)


"Farah benar Pak Lurah. Kalau kita menyerang mereka di tempat mereka, kita akan mati sia-sia Pak."


Semua warga yang malam itu berkumpul di balai desa sebenarnya sudah tidak sabar. Tapi kalau Farah sudah bicara, mereka bisa apa. Karena Farah yang tahu betul bagaimana kekuatan mereka. Walaupun Farah jauh lebih muda dari para warga di desa ini, tapi tak ada yang membangkang ataupun menyela ketika Farah sudah mulai membuka mulutnya.


"Begini saja. Kita jaga tempat ini dengan ketat malam ini, dan untuk malam-malam selanjutnya. Dan saya mohon, para warga tidak mudah terpancing emosi. Karena itu akan membahayakan semua orang yang ada disini. Dan kita tahu, bahwa pihak hukum tidak mau ikut campur dalam masalah ini. Karena ini bukanlah masalah biasa." (Pak Lurah)


"Ya sudah pak kalau begitu. Kami seluruh warga disini mengikuti saran Pak Lurah dan Nak Farah saja. Karena dia jauh lebih paham tentang mereka."


"Ya sudah, kita mulai ronda malam ini. Secara bergiliran." (Pak Lurah)


Sebagian warga berjaga malam untuk memastikan kondisinya benar-benar aman. Dan sebagiannya lagi tetap berada di rumah. Meskipun Lidya tak bisa masuk ke desa ini, tapi itu tidak menjamin situasi benar-benar aman. Sampai akhirnya Prapto dan Farah memutuskan untuk ikut berjaga di pintu masuk desa ini.


Farah juga merasa sangat khawatir dengan situasi yang seperti ini. Karena ini sudah kedua kalinya dia mendengar teriakan Lidya. Waktu itu Farah masih bergabung dengan kelompok Lidya. Dan akhirnya Farah memutuskan untuk keluar dari kelompok Lidya, dan berlindung di desa ini.

__ADS_1


Awalnya Farah ditolak mentah-mentah oleh warga desa ini. Namun karena Farah berjanji untuk membongkar semua rahasia kelompok Lidya, akhirnya Farah diperbolehkan tinggal di desa ini. Diusianya yang masih Dua Puluh Dua tahu, Farah sudah menolong banyak orang yang juga menjadi korban tipu daya Lidya. Untuk itu, Farah sangat dibutuhkan di desa ini.


Prapto yang merasa khawatir dengan Dion, akhirnya dia kembali ke rumahnya. Untuk memastikan bahwa Dion baik-baik saja di rumah.


"Pa! Aku takut!" (Dion)


"Kenapa sayang? Dion ngga usah takut yah. Papa tadi cuman keluar sebentar kok." (Prapto)


"Tapi Pa, ada yang aneh di tempat ini Pa." (Dion)


"Paaaa...... Hihi..." (Dion)


"Ya Alloh Dion! Kamu kenapa?!" (Prapto)


Prapto kaget bukan main saat melihat anaknya merangkak di atap rumah. Dion berubah menjadi sangat mengerikan seperti ibunya. Bahkan Dion jauh lebih mengerikan lagi, karena giginya bertaring seperti binatang buas.


Prapto mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Dion sembari membaca doa. Mungkin inilah rahasia yang dimaksud Farah. Anaknya sendiri juga dijadikan alat untuk membunuhnya. Belum cukup sampai disitu, Prapto merasa bahwa ada yang mencekik lehernya. Hingga Prapto tak bisa lagi membaca doa.

__ADS_1


Dia ditarik kedalam toilet dan kepala dibenturkan ke tembok. Hingga membuat Prapto mengeluarkan banyak sekali darah dari kepalanya. Prapto merasakan sakit yang luar biasa. Baru kali ini dia diserang secara fisik oleh makhluk halus. Dia bisa merasakan betapa besar kekuatan dan tangan makhluk yang telah menariknya itu. Dia benar-benar merasakan sakitnya sayatan kuku dari makhluk ini yang sangat tajam.


Ditambah lagi kepalanya yang semakin pusing karena dibenturkan ke tembok, membuat Prapto tak bisa berbuat banyak selain tetap berdoa didalam hati. Dia mencoba meraih pintu toilet, tapi tak berhasil. Pandangannya mulai kabur, dan rasa sakit tiada tara itu sudah tak bisa dia tahan lagi. Serasa kepalanya mau pecah. Dia tak tahu lagi keadaan diluar. Prapto mencoba berteriak sekeras mungkin, tapi tak bisa.


Suara dari tenggorokannya tak bisa keluar. Prapto hanya mampu pasrah pada keadaan ini, berharap Farah tahu kejadian ini dan secepat mungkin bisa membantunya.


"Sebentar! Bapak-bapak tetap jaga disini, saya merasa ada yang tidak beres di rumah mas Prapto." (Farah)


"Ada apa Nak Farah?! Nak Farah!"


Salah satu warga mencoba mengejar Farah yang lari, tapi dicegat oleh warga yang lain.


"Tunggu pak, kita harus tetap berjaga disini. Kalau disini ada apa-apa, kita juga yang kerepotan."


"Ya sudahlah. Mudah-mudahan ngga terjadi apa-apa ya pa."


"Amin Ya Allah."

__ADS_1


__ADS_2