
"Bagaimana dengan rencana kita selanjutnya?" (Mozan)
Mozan adalah pimpinan tertinggi dari seluruh sekte. Dia adalah ketua para sesepuh, yang sudah hidup ratusan tahun. Dan setelah memberikan hukuman kepada anak kesayangannya, Lidya. Dia kembali merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan seluruh orang yang membelot kepada aturan sekte.
Sudah lama dia ingin sekali menyingkirkan Lidya. Namun, sebelumnya Lidya selalu bisa menepati janjinya. Sekarang ini, Lidya tak pernah lagi mematuhi perintah. Karena Lidya juga berkeinginan untuk menyaingi para sesepuh. Kalau Lidya bisa mendapatkan seluruh anggota, maka para sesepuh tak berarti apa-apa.
"Sebaiknya, kita singkirkan dulu musuh utama kita Tetua. Dengan segala hormat, walaupun dia adalah salah satu anak kita, tapi tetap dia adalah musuh kita juga. Dan jika tidak disingkirkan, maka semuanya akan menjadi kacau. Bahkan, dia bisa saja melakukan perlawanan kepada kita Tetua." (Anmarah)
"Benar Tetua Mozan. Ada baiknya kalau Tetua melakukan sebuah tindakan. Atau paling tidak, membujuknya kembali kepada kita." (Razel)
"Saya akan membujuk Farah untuk kembali kepada kita. Karena jika kita melakukan perlawanan, kita bisa mati sia-sia." (Mozan)
"Tapi Tetua, saya yakin sekali, kalau Farah tidak ada apa-apanya kalau kita serang bersama-sama." (Anmarah)
__ADS_1
"Diam! Keputusan saya sudah bulat. Saya tidak ingin jatuh korban lagi. Kalian harus tahu, dulu memang dia lemah dan bisa dibodohi! Tapi tidak sekarang ini! Dia seribu kali lipat lebih hebat dari kita. Apalagi kalau Farah meminta bantuan kepada gurunya itu." (Mozan)
"Bukankah guru Farah sudah dibunuh Tetua?" (Razel)
"Saya memang pernah melawannya. Dan saya berhasil mengalahkannya. Tapi saya tidak yakin, kalau gurunya sudah benar-benar mati. Karena waktu itu saya menguburnya di dalam tanah, yang sebenarnya itu adalah sebuah pantangan." (Mozan)
"Maksud Tetua?" (Anmarah)
"Guru Farah, memiliki kekuatan yang luar biasa. Dia bisa kalah, tapi dia sulit untuk mati. Saya masih ragu kalau dia sudah mati, selama dia masih memiliki kekuatan itu." (Mozan)
"Kita harus berdiam dulu untuk sementara. Dan kita perlu melakukan persembahan kepada dewa kita. Agar kita mendapatkan petunjuk dan juga kekuatan untuk melawan mereka." (Mozan)
"Baik Tetua, kami akan segera mempersiapkannya."
__ADS_1
"Hmmmm...." (Mozan)
Mozan tetap berada di ruangan itu sembari memikirkan rencana agar bisa membujuk Farah untuk kembali bersamanya. Sedangkan Anmarah dan Razel pergi mempersiapkan segala sesuatunya untuk melakukan pemujaan kepada dewa mereka, Adjazel.
Dewa yang selama ini memberikan mereka kekuatan dan kekuasaan untuk melakukan apa pun yang mereka mau. Dewa yang mereka sembah sebenarnya adalah Iblis yang sudah berumur ribuan tahun. Adjazel sudah malang melintang di dunia ini untuk menjerumuskan manusia.
Walaupun Adjazel jarang mendatangi para budaknya, tetapi semua pengaruhnya sungguh sangat terasa. Sudah ribuan gadis yang dikorbankan kehormatannya hanya untuk memuaskan nafsu Adjazel. Dia akan meminum darah gadis yang masih suci untuk menambah kekuatannya.
Tidak jarang setiap gadis yang telah dikorbankan kehormatannya kemudian turut menjadi budaknya.
Adjazel memiliki tubuh yang sangat besar, dengan dua tanduk api di kepalanya. Lalu memiliki sebuah ukiran mantra pada tubuhnya. Setiap jarinya memiliki cakar yang begitu tajam, bahkan cukup untuk merobohkan sebuah bangunan yang kokoh.
Namun itu bukanlah ciri khas Iblis. Mereka lebih suka memperbudak dan menghancurkan keyakinan yang dimiliki setiap manusia. Karena Iblis tak akan pernah mampu jika menghadapi manusia secara fisik. Begitu juga Adjazel, pada dasarnya dia bukanlah siapa-siapa. Tapi, mana ada yang peduli dengan itu semua.
__ADS_1
Apalagi, para sesepuh seperti Mozan, Razel, dan Anmarah adalah orang-orang yang sudah sangat berpengalaman dalam mempengaruhi keyakinan setiap apa pun yang ditemuinya.