
"Apapun yang terjadi sekarang ini, itu semua adalah tanggung jawab kita bersama. Yang harus kita selesaikan bersama. Dan kita harus mencari cara agar bisa melawan sekte itu, tanpa harus mengorbankan banyak nyawa." (Pak Lurah)
"Saya sudah hidup puluhan tahun. Awalnya saya sangat tidak percaya dengan semua omong kosong ini. Tapi, ketika saya melihat orang tua saya meregang nyawa, barulah saya faham tentang apa yang sebenarnya terjadi." (Pak Lurah)
"Iya pak. Saya sangat membutuhkan bantuan Pak Lurah, untuk melawan mereka." (Farah)
"Saya dengan warga desa pasti akan membantu kamu Farah. Tapi kita menyusun rencana dahulu sebelum kita melawan mereka." (Pak Lurah)
"Saya sudah mengatur semua rencananya pak. Tinggal kita jalankan." (Farah)
"Bagaimana?" (Pak Lurah)
"Dulu, ketika saya masih bergabung dengan mereka, saya memiliki anak buah yang sangat setia kepada saya Pak Lurah. Dan hanya mereka yang bisa membantu kita untuk memasuki tempat itu, tanpa harus khawatir kalau kekuatan kita akan berkurang." (Farah)
"Farah! Siapapun anak buah kamu itu, mereka adalah musuh alami kita. Kita tidak bisa bergabung dengan anak buah kamu. Karena, itu sama saja melempar kotoran ke wajah sendiri. Lagi pula, kamu tidak tahu apakah mereka masih setia atau tidak. Waktu sudah berlalu cukup lama Farah." (Pak Lurah)
__ADS_1
"Saya sangat yakin pak. Mereka masih setia kepada saya. Bahkan mereka yang menolong dan merawat Mas Prapto sekarang ini." (Farah)
"Farah, setan akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan kepercayaan dari manusia. Mereka bisa berpura-pura menjadi baik. Saya rasa, kamu juga faham tentang semua itu." (Pak Lurah)
"Iya Pak Lurah, saya faham. Tapi tolong pak, percayalah. Ini semua demi keselamatan desa ini dan seluruh warganya pak." (Farah)
Farah mencoba merayu Pak Lurah yang masih ragu dengan rencananya. Karena pengikut Satanisme adalah musuh alami warga desa ini.
Memang rencana Farah adalah satu satunya jalan agar permusuhan ini cepat berakhir. Tapi Pak Lurah tak ingin mengorbankan warganya begitu saja. Sudah lama tak ada pertumpahan darah di tempat ini.
Farah terus memandang Pak Lurah yang ketika itu sedang duduk dihadapannya. Menunggu jawaban keputusan darinya.
Farah sudah tidak sabar ingin menyelesaikan semuanya. Tapi, Pak Lurah justru berlalu pergi dari rumah Farah. Mungkin Pak Lurah masih membutuhkan waktu untuk berfikir. Tak mungkin jika tak ada korban jatuh diperlawanan nanti.
Pak Lurah ada benarnya juga. Memang Farah harus menguji kesetiaan anak buahnya yang sudah lama tak ditemuinya itu. Apalagi Farah sudah tidak bersama mereka selama bertahun-tahun. Bisa saja kesetiaan mereka sudah berubah menjadi sebuah pengkhianatan.
__ADS_1
"Aku harus lebih hati-hati lagi sekarang. Mereka belum tentu masih setia sama aku. Aku harus uji mereka dulu. Baru aku bisa gabung lagi sama mereka." (Farah)
"Nak?" (Ibu Farah)
"Bu? Ibu kenapa keluar? Disini dingin loh Bu." (Farah)
"Ibu tahu nak, masalah ini pasti tidak mudah untuk kamu. Bahkan untuk semua orang. Kamu harus lebih hati-hati mengambil sikap dan segala keputusan. Karena bukan hanya nyawa kamu yang dipertaruhkan, tapi semua warga desa ini juga akan menanggung akibatnya." (Ibu Farah)
"Iya Bu." (Farah)
"Sekarang kamu wudhu, dan lakukan sholat. Insya Allah, kamu akan mendapatkan petunjuk." (Ibu Farah)
Ibu Farah kembali masuk ke dalam.
Farah pun ingat, kalau dia sama sekali belum melakukan ibadah hari ini. Karena masalah yang membuatnya lupa dengan kewajibannya.
__ADS_1