BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟻𝟻


__ADS_3

Di tempat lain, Farah dan Prapto sedang mengadakan acara doa bersama dengan para warga. Sebagai wujud rasa syukur atas keberhasilan mereka semua dalam mempersempit pergerakan Mozan dan kelompoknya. Sekarang tempat ini menjadi lebih aman dan tentram. Tidak seperti sebelumnya yang selalu saja ada keributan di kampung ini.


"Alhamdulillah. Kita semua telah berhasil mempersempit pergerakan mereka. Kita juga telah membuat kelompok-kelompok kecil untuk menghambat pergerakan mereka, agar mereka semakin terdesak. Namun kita juga harus ingat, bahwa semua ini kita lakukan bukan untuk diri kita sendiri. Tapi untuk semua orang." (Farah)


"Benar Farah. Terus bagaimana dengan pemimpinnya? Pasti mereka juga udah merencanakan sesuatu mba Farah." ucap salah seorang warga.


"Ngga usah takut mas. Kalau kita benar, pasti kita akan menemukan cara untuk menang. Kita harus bersabar. Kita tidak boleh terburu-buru menangani mereka semua." (Farah)


Mereka melanjutkan obrolan itu hingga tengah malam. Mereka mengeluarkan pendapat yang berbeda-beda. Banyak yang lebih setuju dengan pendapat Farah. Tetapi ada juga yang ingin secepatnya masalah ini selesai. Karena mereka takut jika sampai Mozan dan kelompoknya kembali merebut daerah yang sudah Farah dan kelompoknya kuasai.


Farah dan Prapto harus memutar otaknya untuk menyusun rencana baru. Sampai sekarang Farah belum mendapatkan kabar tentang Mozan. Farah mengatakan kepada Prapto, kalau Jery dan kelompoknya terbunuh karena berusaha menyerang markas Mozan. Kabar itu sampai di telinga Farah lewat seekor anjing liar.


Anjing itu membawa kalung milik Tony dan menyerahkannya kepada Farah. Sudah dipastikan kalau mereka tidak akan diberi kesempatan hidup oleh Mozan. Padahal, disaat-saat seperti ini Farah sangat membutuhkan bala bantuan dari mereka. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

__ADS_1


Farah masih penasaran, siapa yang memiliki ide untuk menyerang markas Mozan? Padahal sebelumnya sudah ada perjanjian, kalau mereka akan menyerang markas Mozan secara bersama-sama.


"Pasti ada pengkhianat Farah. Kita harus teliti sama semua orang yang ada disini." (Prapto)


"Iya mas. Aku juga mikir kaya gitu mas. Tapi, aku ngga bisa curiga sama orang kalau ngga ada bukti. Tapi aku sudah siapin semuanya kok mas. Aku udah antisipasi kalau sampai ada kejadian kaya gini." (Farah)


"Iya Farah." (Prapto)


......................


"Siapa yang menyiapkan semua ini?" (Teguh)


"Guh. Bangun Guh. Makan dulu nak."

__ADS_1


Teguh mendengar suara wanita dari arah dapur. Suara itu sangat halus. Teguh mengenal suara itu. Seperti suara ibunya. Teguh bergegas pergi ke dapur.


"Hah?!" (Teguh)


Teguh serasa disambar petir. Dia melihat ibunya sedang memasak makanan kesukaannya. Bukan hanya itu saja, Teguh juga melihat ayahnya sedang mengobrol dengan seseorang di ruang tamu. Orang itu adalah orang tua yang semalam menemui Teguh.


"Apa-apaan ini?!" (Teguh)


Teguh keheranan, karena semua ini terasa amat nyata bagi dirinya. Padahal dia pun tahu dan masih ingat, kalau kedua orang tuanya itu telah tiada.


"Ayah?! Ibu?! Apa kalian nyata?! Dan kamu orang tua! Kenapa kamu ada dirumahku?!" (Teguh)


"Teguh. Kenapa kamu nak? Ini bapak sama sahabat bapak! Pak Ahmad. Masa kamu lupa nak?"

__ADS_1


"Tidak! tidak! tidak! Ini semua tidak nyata bagiku! Hentikan semua ini! Hentikan! Aaggghh!!!" (Teguh)


Teguh berteriak kesakitan memegangi kepalanya. Dia tidak percaya dengan semua yang dilihatnya hari ini. Teguh tidak bisa menerima semua kebohongan. Baginya, semua ini tidaklah nyata.


__ADS_2