
"Sudah sekian lama aku berada di tempat busuk ini. Kini saatnya aku keluar, tanpa harus menggunakan bantuan siapa pun. Aku Teguh, kuat dan tak tertandingi. Tiada tanding, tiada banding." (Teguh)
Sekian lama Teguh dikurung oleh Lidya di sebuah penjara bawah tanah. Penjara itu dijaga dengan sangat baik oleh dua anak buah Lidya yang masih setia. Tidak ada satu orang pun yang tahu dimana tempat ini berada. Bahkan Mozan saja tidak mengetahui keberadaan Teguh sekarang ini.
Walau pun kekuatan Teguh telah melemah, tapi dia masih cukup kuat untuk melangkah meraih pintu besi itu. Bahkan dia memukulnya berkali-kali dan membuat pintu itu rusak. Dua penjaga yang ada di depan pintu kaget karena mendengar suara Teguh dari dalam. Mereka berdua berusaha mengerahkan kekuatan untuk menahan pintu itu agar tetap kokoh.
Namun seperti yang pernah mereka katakan, kalau Teguh sangatlah kuat dan sulit untuk ditandingi. Selama dalam pengurungan, Teguh diam-diam telah mengasah kemampuannya. Dia kuat menahan lapar dan haus. Karena memang, Lidya sangat menginginkan kematian Teguh secara perlahan. Lidya tidak akan sanggup jika harus berhadapan dengan Teguh secara langsung.
Teguh memiliki ilmu yang dulu juga dimiliki oleh orang tuanya, yang telah menurun kepada dirinya secara alami saat Teguh lahir. Hanya saja Teguh baru menyadarinya sekarang, kalau dia mewarisi kemampuan orang tuanya. Wajah pucat dan kantung matanya yang sedikit menghitam membuat wajah Teguh nampak menyeramkan.
__ADS_1
Teguh hampir mirip dengan para vampir. Dia juga sudah tidak kuat lagi jika harus menahan hasrat akan darah. Dia ingin segera keluar dan menghisap darah siapa saja sepuas-puasnya. Teguh terus memukul pintu besi itu dengan sisa tenaganya. Dua orang penjaga itu mulai kehabisan tenaga. Mereka mulai melemah dan sampai menyerah.
"Sebaiknya kita pergi saja!"
"Jangan! Jika dia sampai keluar, maka tamatlah kita!"
"Aku sudah tidak tahan lagi! Tidak lama lagi kita akan kehabisan tenaga!"
"Sudahlah! Kita tidak usah lagi membela Lidya yang sekarang sudah tamat!"
__ADS_1
"Diam!"
Dua orang penjaga itu mulai adu argumen. Yang satu masih setia kepada Lidya sepenuhnya, sedangkan yang satunya lagi sudah bosan jika harus mematuhi perintah Lidya terus menerus. Lagi pula Lidya tidak akan bisa terbebas dari hukumannya. Dia sudah menjadi tahanan abadi para Tetua sekte. Tidak ada yang bisa lolos dari hukuman itu, sekali pun ada orang bodoh yang mau menggantikannya.
Debat kedua orang itu semakin memanas. Akibatnya, mereka jadi saling serang satu sama lain. Mereka melupakan Teguh yang sekarang sedang berusaha keras menjebol pintu besi itu. Mereka ingin membuktikan siapa yang pantas mengambil keputusan. Mereka tidak berfikir secara sehat, kalau sekarang mereka sudah membuang tenaga secara cuma-cuma.
"Bagus! Teruskan!" (Teguh)
Teguh tiba-tiba datang di tengah pertarungan dua orang itu. Mereka berdua kaget bukan main setelah melihat Teguh yang berdiri tegak tanpa sehelai benang pun. Tubuh Teguh kurus seperti jenglot, dan wajahnya seperti vampir. Dari mulutnya keluar taring tajam yang siap menyergap mereka berdua. Teguh menatap dua orang itu seakan sedang menelanjangi mereka.
__ADS_1
Karena sudah tidak sabar lagi, Teguh seketika itu juga melompat dan menyergap salah satu dari mereka. Langsung saja Teguh menggigit leher orang itu dan menghisap darahnya dengan sangat kuat. Satu orang yang masih selamat mencoba kabur dari Teguh. Dia lari sekencang-kencangnya menghindari Teguh yang sedang menggila.