
"Farah... Sebenarnya aku udah ngga kuat lagi menjalani ini. Aku pengin Dion itu dapat kehidupan yang normal." (Prapto)
"Sabar mas. Dion masih bisa sekolah disini. Dia juga masih bisa dapat teman baru mas." (Farah)
Suasana malam itu begitu sunyi, seperti biasanya. Jam demi jam mereka lalui hanya dengan saling berbagi cerita. Dion yang sudah tertidur pulas masih harus dijaga dengan baik oleh mereka. Karena sudah kedua kalinya sejak Prapto pulang, Dion kerasukan.
Tubuh Dion yang masih kecil itu tidak mampu melawan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya. Ternyata makhluk itu bukan hanya menyerang mental Dion, tapi juga menyerang fisiknya. Bahkan tubuh Dion semakin hari semakin memprihatinkan.
Tak banyak yang bisa Farah dan Prapto lakukan. Mereka hanya bisa berusaha sebisa mereka agar membuat Dion tetap aman. Pada malam hari mereka akan menjaga Dion sampai pagi. Lalu pada siang harinya, Prapto dan Farah baru bisa tidur dengan tenang.
__ADS_1
"Usaha ku juga ngga berjalan Farah. Aku harus mulai usaha baru lagi. Supaya masa depan Dion bisa terjamin." (Prapto)
"Tenang mas, aku akan bantu kamu mas. Kamu harus tetap sabar, ikhlas. Terus ibadahnya jangan sampai putus ya mas." (Farah)
"Iya Farah." (Prapto)
Diam-diam Prapto mencuri pandang kepada Farah. Farah mengetahui hal itu, tapi dia berpura-pura tidak mengetahuinya. Untuk saat ini Farah tidak ingin memiliki hubungan dengan siapa pun. Kecuali sebatas teman biasa.
Hal itu membuat Farah tertekan. Namun, Farah tidak pernah menunjukkan penderitaannya kepada orang lain. Walaupun dia orang yang kuat, tapi sekuat apa pun seorang manusia dia pasti akan merasakan kesedihan.
__ADS_1
Farah selalu meratapi nasibnya yang begitu buruk. Semua hal yang terjadi di tempat ini sekarang adalah akibat dari otaknya yang terlalu cerdas, namun tidak terkontrol. Siapa yang memulai, maka dia yang harus menyelesaikan semuanya.
Setiap hari dia memikirkan bagaimana masa depannya nanti. Kehormatannya sebagai seorang wanita kini sudah hancur. Dia hanya bisa pasrah dan menjalani hari-hari buruknya dengan segenap tenaga yang ia miliki.
Di sisi lain, Lidya sedang meronta-ronta karena panasnya tiang yang menggantungnya saat ini. Panasnya benar-benar membuat kepalanya mendidih. Benar-benar mendidih. Setiap kali tiang itu ditambahkan energi panasnya, maka satu lubang di kepalanya akan terbentuk. Lalu sembuh kembali.
Hal ini terjadi berulang-ulang. Hukuman ini adalah hukuman paling akhir bagi siapa pun yang berani membelot, atau pun melakukan sebuah kesalahan yang fatal. Tidak ada batas waktu hukuman. Yang ada adalah sampai kapan dia mau memutuskan dirinya siap untuk mati.
Jika Lidya memutuskan hukuman mati atas dirinya, maka dia akan dilepaskan dari tiang perak ini. Dan dia akan menerima hukuman penggal kepala. Tubuh dan kepalanya akan di pisah agar tidak tersambung kembali. Rohnya akan bergentayangan meratapi nasib dirinya. Hal itu akan lebih menderita dari pada digantung di tiang perak.
__ADS_1
Karena saat hal itu terjadi, Lidya sudah ditolak oleh langit dan bumi. Orang normal yang mati, rohnya akan naik ke langit. Dan jasadnya akan dipeluk bumi. Tapi tidak bagi orang seperti Lidya, dia akan terus bergentayangan. Hingga dunia ini berakhir.