
"Alhamdulillah.... Akhirnya mas Prapto sadar juga mas." (Farah)
"Aku dimana Fa?" (Prapto)
"Tenang mas. Mas ada dirumah sakit sekarang." (Farah)
"Dion?" (Prapto)
"Dion baik-baik ajah kok mas, mas tenang ajah yah. Semuanya udah normal lagi kok." (Farah)
"Hmmmm..... Aku ngga tahu gimana harus ngadepin semua ini Fa. Aku bingung, apalagi Teguh sampai sekarang belum ada kabar kan." (Prapto)
"Iya mas. Yang penting kita jangan lelah berdoa ya mas. Mudah-mudahan mas Teguh ngga papa." (Farah)
Farah mencoba bersikap tenang dihadapan Prapto. Dia tak ingin membuat Prapto khawatir dengan apa yang terjadi. Sebenarnya Farah sudah tahu apa yang terjadi kepada Teguh. Namun melihat keadaan Prapto yang masih seperti ini, sangat tidak mungkin kalau dia menceritakan semuanya.
Prapto pasti akan bertindak nekad kalau tahu apa yang terjadi dengan keponakannya itu. Farah hanya bisa berharap kalau Teguh bisa menyadari apa yang sudah dia lakukan. Agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
"Maaf Bu permisi, saya mau memeriksan keadaan pasien ini. Bisa tolong ibu tunggu diluar."
Suster itu membuat Farah sadar dari lamunannya.
"Ekhmmm..... iya suster, saya silahkan." (Farah)
Farah lalu keluar meninggalkan ruangan itu. Karena keadaan Prapto yang semakin membaik, akhirnya Prapto tak lagi harus berada di ruang UGD.
Suster itu menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Prapto, agar Prapto lebih cepat melewati masa pemulihan. Tapi Prapto merasa ada yang aneh dengan suster ini. Seakan dia tidak asing dengan wajahnya.
"Wulan. Kamu Wulan kan?" (Prapto)
__ADS_1
Prapto mencoba mengenali wajah itu, dan dia mulai sadar kalau suster itu adalah Wulan, mantan kekasihnya. Yang dulu sempat dikabarkan menghilang.
"Maaf! Saya sudah selesai memeriksanya. Dan sepertinya Bapak salah orang."
"Tunggu!" (Prapto)
Prapto menggapai lengan suster itu dan menariknya. Dia sangat bahagia setelah tahu kalau itu adalah Wulan.
"Aku mau ngomong sebentar Wulan. Aku mau tahu, kenapa kamu ninggalin aku?" (Prapto).
"Maaf Pak! Saya bukan Wulan! Permisi!"
Suster itu lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu. Farah yang waktu itu berada diluar, terheran melihat perilaku suster itu. Karena khawatir dengan keadaan Prapto, Farah segera memasuki ruangan itu lagi, untuk memastikan kalau tidak terjadi apa-apa.
Farah mendapati kalau Prapto sedang menangis ditempat dia terbaring.
"Mas?! Ngga papa kan?!" (Farah)
Langkah Farah terhenti, ketika dia tahu kalau suster itu sedang menangis. Dia melihat suster dari kejauhan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi antara Prapto dengan Suster itu.
Kemudian datanglah dokter yang merawat Prapto. Dia duduk disamping suster itu sambil memegang tangannya. Lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Udahlah dek. Kakak kan udah bilang sama kamu, kalau kamu ngga usah kesana. Biar mas ajah yang ngecek keadaan Prapto. Sekarang jadi gini kan dek."
"Iya mas. Tadinya aku pikir mas Prapto ngga bakalan inget sama aku mas. Tapi ternyata mas Prapto masih inget sama aku. Dia pasti kecewa banget mas."
"Udahlah dek. Suatu saat nanti dia pasti tahu kok dek, apa alasan kamu ninggalin dia."
Farah mulai menangkap maksud dari pembicaraan mereka berdua. Dia mulai mengerti, kenapa Prapto menangis seperti ini. Kalau saja dokter itu bisa diajak bisa diajak bicara, pasti Farah bisa membantu Prapto.
__ADS_1
Farah langsung kembali kerungan Prapto. Mencoba mengajak Prapto bicara.
Tapi sayangnya, Prapto tak ada diruangan itu.
Farah panik dan kebingungan. Dia mencoba menggunakan mata batinnya untuk melacak keberadaan Prapto, tapi tidak berhasil. Dia tidak mungkin pergi sendiri, karena Farah tahu Prapto masih sangat lemah untuk menggerakkan tubuhnya.
Farah mencari dokter yang merawat Prapto. Beruntung mereka masih disana.
"Dokter! Tolong, teman saya hilang!" (Farah)
"Loh kok bisa Bu? Dia tidak mungkin menghilang Bu. Keadaannya masih sangat lemah."
"Sudahlah dok! Tidak ada waktu untuk mengobrol! Ayo sekarang cari kemana teman saya pergi!" (Farah)
"Ya sudah! Kamu keruangan Prapto sekarang, saya akan mencari Pasien yah!"
"Iya dok."
Farah dan dokter itu pergi mencari Prapto yang menghilang entah kemana. Tapi keanehan mulai terjadi di tempat ini, saat Farah dan dokter itu tidak sengaja memasuki sebuah lorong rumah sakit.
Mereka melihat ada bercak darah dilantai lorong tersebut. Dan ada juga sebuah pisau kecil tergeletak disana.
"Tunggu Bu! Ibu mau kemana?! Lorong ini sudah lama tidak tersentuh oleh siapa pun Bu. Tidak ada berani melewati lorong ini."
"Kalau dokter tidak berani! Biar saya sendiri yang akan kesana!" (Farah)
"Astaga Bu! Jangan Bu!"
Dokter itu berusaha mencegah langkah Farah. Namun Farah tak mempedulikannya. Dia tetap berlari melewati inci demi inci dari lorong itu. Tempat itu begitu gelap dan tak ada cahaya sedikit pun disana. Bahkan Farah tidak tahu dimana ujung dari lorong ini. Dia hanya mengandalkan kepekaannya.
__ADS_1
Selangkah demi selangkah dia menyelusuri lorong ini dengan sangat hati-hati.
Dan.......