BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟼𝟹


__ADS_3

Sebagian kecil lebih memilih untuk membela Mozan, sedangkan sebagian besar dari mereka memilih untuk membela Anmarah, dikarenakan mereka telah bosan dengan perlakuan Mozan yang selalu semena-mena


memberikan perintah. Suara teriakan mulai terdengar dari para anggota sekte yang terluka.


Mereka semua sudah seperti seekor anjing yang memperebutkan tulang. Memperebutkan kekuasaan yang sebenarnya hanyalah membelenggu mereka. Disaat itulah, sesosok iblis muncul di tengah-tengah pertarungan antara Mozan dan Anmarah yang sama-sama seimbang.


"Bodoh!" (Adjazel)


Anmarah langsung menjatuhkan tombaknya dan berlutut dihadapan sosok iblis yang mereka sebut sebagai Adjazel. Sedangkan Mozan masih berdiri tegak dengan menggenggam tombak ditangan mereka. Sudah sangat lama Adjazel tidak menampakkan dirinya dihadapan para pengikutnya.


Namun sekarang Adjazel benar-benar muncul di tengah-tengah mereka dengan penuh amarah, karena melihat perselisihan diantara dua pengikut setianya itu. Bagi Adjazel manusia-manusia sesat seperti ini sangatlah berarti. Jika tidak ada mereka, maka jumlah orang yang berada dalam kesesatan akan


semakin berkurang.


Yang tentunya hal itu akan membuat Adjazel tidak senang.

__ADS_1


"Sembah hamba paduka raja, Adjazel. Raja segala kegelapan. Sang penyelamat bagi kami." (Anmarah)


"Kenapa kalian saling berselisih? Seharusnya kalian memikirkan bagaimana caranya memenangkan permainan ini bersama-sama. Lihatlah keluar! Musuh kalian sedang bersiap untuk menyerang kalian. Jangan sampai mereka merusak apa yang telah aku berikan kepada kalian! Terutama dengan patung perak yang menjadi tempat untuk diriku singgah." (Adjazel)


Adjazel menunjukkan sebuah pemandangan yang sangat mengejutkan, dengan sebuah bola api. Ternyata Farah, Teguh, Prapto, dan juga Kyai Husein sedang bersiap dengan orang-orang mereka untuk menyerang


Mozan dan seluruh anggota sekte yang masih tersisa.


"Mohon dengan sangat paduka raja. Namun Mozanlah yang memulainya. Hamba sudah bersikap baik dan setia kepadanya. Namun dia sudah melanggar sumpahnya sebagai pemimpin. Dia telah gagal, dan saya rasa


"Tidak paduka raja! Dia sudah berbohong! Hamba sudah berusaha keras untuk menjaga keberlangsungan kelompok ini. Namun Anmarah justru memutuskan untuk keluar dari kelompok ini paduka raja. Dia adalah


seorang pengkhianat!" (Mozan)


Anmarah menatap Mozan dengan kesal, dia tidak terima karena Mozan memutar balikkan fakta, padahal Mozanlah yang bersalah atas semua yang terjadi. Mozan terlalu arogan, sehingga sekarang mau atau pun tidak,

__ADS_1


mereka harus menghadapi peperangan yang jelas kekuatannya sangat tidak imbang dengan mereka.


"Diam! Aku tidak peduli apa pun alasan kalian. Sekarang, bersihkan semua sampah yang sudah kalian buat! Aku tidak mau mendengar apa pun sebelum kalian membersihkan semuanya!" (Adjazel)


"Baik paduka raja." Jawab mereka berdua.


Mozan dan Anmarah pun bergegas untuk mengumpulkan semua sisa-sisa pasukan mereka, dan mempersiapkan segala hal untuk pertarungan.


"Urusan kita belum selesai. Kita lanjutkan setelah semua ini selesai." (Mozan)


"Ya. Itu pun jika kamu masih hidup." (Anmarah)


"Kita lihat saja nanti. Aku akan membuktikan ucapanku, dan aku akan menjadi pemimpin satu-satunya, untuk selama-lamanya." (Mozan)


Anmarah hanya tersenyum sinis kepada Mozan. Dia tahu kalau Mozan sudah sangat lama tidak menggunakan kekuatannya, itu artinya dia sudah tidak lagi sekuat dulu.

__ADS_1


"Aku akan mengambil kesempatan untuk membunuh orang tua itu nanti. Lagi pula, dia sekarang sudah semakin melemah. Dan sebentar lagi dia pasti akan mati di tangan Farah yang jauh lebih hebat darinya sekarang." (Anmarah)


__ADS_2