BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟿


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Prapto langsung menyiapkan makanan dan minuman yang tadi dia beli di jalan. Dina yang sedari tadi sudah pulang, kebetulan sedang tidur dengan Dion. Jadi mereka berdua bebas berbicara apa pun tanpa ada yang menyangkal.


"Dibikin santai ajah dulu Guh. Kita ngobrol sambil makan dan minum nih. Jadi ada masalah apa lagi Guh?" (Prapto)


"Jadi gini mas, tadi itu waktu aku pergi ke rumah aku mergokin Vera sama laki-laki lain. Dan yang bikin kesel, mereka berduan di kamar ku mas. Dan mereka berdua dibawa ke Balai Desa." (Teguh)


"Terus?" (Prapto)


"Terus Vera diusir sama warga. Sedangkan selingkuhannya mungkin sampai sekarang masih ditahan di kelurahan, karena dia ngga mau hubungin keluarganya." (Teguh)


"Nah terus gimana lagi?" (Prapto)


"Terus aku pulang ajah ke rumah, bantu kemasin barang-barang Vera. Karena dia harus pergi dari desa ini. Dan aku kunci pintu rumahku, lalu aku beres-beres rumah ku mas. Aku penasaran sama cerita mas yang tadi pagi itu loh." (Teguh)


"Jadi kamu penasaran, terus kamu niatnya mau cari ukiran wanita itu di rumah mu Guh?" (Prapto)


"Iya mas. Tapi gagal, karena ada tamu. Dan tamu itu wanita borong semua ikanku." (Teguh)


"Loh, kok dia bisa tahu rumah kamu?" (Prapto)


"Nah makanya itu mas, aku juga bingung. Terus habis itu aku diajak ke rumahnya." (Teguh)


"Terus kamu mau?" (Prapto)


"Iya mas. Sampai di rumahnya aku kaget mas, dia memang bener-bener orang kaya mas. Malahan nih ya mas, pilar di rumahnya itu pakai emas. Aku juga kagum lihat rumahnya mas. Bener-bener luar biasa." (Teguh)


"Ahhhh..... masa sih? Disini ngga ada Guh orang sekaya itu. Kamu kan juga tahu sendiri." (Prapto)


"Ehh... bukan di desa ini mas. Tapi jauh tempatnya. Jalannya ajah masuk ke dalam hutan mas, jauh pokoknya mas." (Teguh)

__ADS_1


"Nah terus gimana?" (Prapto)


"Terus.... Habis itu dia nawarin pesugihan mas sama aku. Tapi dia ngasih syarat buat aku." (Teguh)


"Oalaah... Kamu kok jadi cerita ngawur gini sih Guh? Kamu itu kaya orang habis mabok, aneh." (Prapto)


"Lah jangankan mas yang cuma denger dari aku. Aku yang lihat langsung ajah ngerasa aneh mas, bahkan aku kira aku lagi mimpi mas. Tapi ya memang nyatanya begitu mas." (Teguh)


"Ya yang bikin aneh gini Guh. Ada wanita kaya yang borong semua ikan mu itu, terus dia dateng ke rumah mu bertamu. Dan setelah itu dia ngajak kamu ke rumahnya, cuman mau nawarin pesugihan. Aduh....." (Prapto)


"Ya Allah mas. Sumpah mati aku mas, demi Allah. Mati mendadak aku mas kalau aku bohong." (Teguh)


"Kamu tahu kan nama wanita itu." (Prapto)


"Oalah... aku ya udah lupa duluan lah mas. Wanita itu ngga ngasih aku kesempatan buat tanya namanya. Dia itu cuman ngasih satu beberapa hal sama aku sebelum dia nawarin pesugihan sama aku mas." (Teguh)


"Beberapa hal? Maksudnya?" (Prapto)


"Ya mas. Dia itu bilang, soal Ibu sama Ayah. Kalau dulu katanya, Ibu sama Ayah itu kerja sama dia. Tapi kontraknya belum habis, Ibu sama Ayah udah mutusin buat pulang. Dia juga bilang, kalau sebenarnya aku udah diawasin sama dia udah lama mas." (Teguh)


"Oh gitu. Tapi kok aneh ya, lagian kontrak kerjanya Ayah Ibumu sama kamu apa yah? Terus maksudnya dia nawarin pesugihan ke kamu, maksudnya apa? Ya Kan?" (Prapto)


"Iya sih mas, tapi kok aku jadi berfikiran negatif yah mas sama orang tua ku sendiri." (Teguh)


"Maksud kamu orang tua mu itu ngelakuin pesugihan gitu?" (Prapto)


"Lah ya itu mas yang ada dipikiran aku sejak tadi." (Teguh)


"Huusssttt! Jangan gitulah, orang tuamu orangnya juga agamis kok. Ya ngga mungkinlah Guh." (Prapto)

__ADS_1


"Iya sih mas. Tapi ya sudahlah mas. Mudah-mudahan apa yang aku pikirin ini semuanya salah." (Teguh)


"Amin... Oh ya, wanita itu ngasih syarat apa Guh ke kamu kalau kamu mau ikut pesugihan itu?" (Prapto)


"Jadi dia itu ngasih syarat, tujuh ayam cemani mas. Lah kan susah. Ya kan mas?" (Teguh)


"Terus kalau ngga susah kamu mau ikut pesugihan? Gitu maksudnya?!" (Prapto)


"Ya ngga juga mas. Lagian pesugihan ngga ada untungnya kok. Aku lebih baik makan apa adanya, aku hidup apa adanya hasil kerja keras ku sendiri mas. Dari pada harus ikut cara sesat kaya gitu. Jangan sampailah mas." (Teguh)


"Ya syukurlah, kamu beneran nolak kan?" (Prapto)


"Iya mas sumpah. Demi Allah mas, tawaran itu aku tolak mas." (Teguh)


"Bagus Guh kalau begitu." (Prapto)


"Iya mas. Aku ke kamar dulu ya mas, capek banget aku hari ini mas." (Teguh)


"Ya udah sana. Aku belum ngantuk." (Prapto)


"Ya mas." (Teguh)


Prapto masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Teguh. Seakan ada yang Teguh sembunyikan dari dirinya. Kalau saja tadi siang Prapto tidak menceritakan tentang orang tuanya, mungkin Teguh tidak akan sampai mengoreh kisah rumah itu sedalam ini.


Ingin sekali Prapto mengatakan semuanya kepada Teguh apa yang sebenarnya terjadi. Tapi Prapto memilih diam, karena dia tidak tega pada Teguh. Dia juga tidak ingin menghancurkan persaudaraan yang selam ini telah mereka jaga bersama.


Ada satu rahasia yang sangat rahasia yang Prapto ketahui tentang siapa dan bagaimana orang tua Teguh. Prapto masih ingat betul apa yang sudah terjadi pada malam itu. Walaupun Teguh juga ada disana, tapi Teguh tak akan bisa mengingat kejadian itu.


Bayang-bayang mengerikan sampai sekarang masih terlukis di otak Prapto. Dan bekas luka di lehernya pun masih membekas hingga sekarang. Seakan bekas luka itu menjadi kenang-kenangan yang harus selalu diingat oleh Prapto.

__ADS_1


Itulah alasan kenapa Prapto tak bisa melupakan semua kenangan mengerikan waktu itu. Walaupun peristiwa itu terjadi sudah sangat lama. Dan tak ada warga atau siapa pun yang membicarakan masalah ini lagi.


Benar-benar sudah menjadi rahasia yang harus dijaga dengan kuat. Agar Teguh tak ingat bagaimana peristiwa itu terjadi. Karena ini akan sangat membahayakan keselamatan Teguh sendiri. Terlebih sekarang ini ada yang mencoba merayunya untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.


__ADS_2