
Lima kamera pengawas terpasang di ruangan itu. Mereka masih berdebat satu sama lain. Mereka bingung harus bagaimana. Waktu terus berputar. Malam mulai tiba. Mereka mulai lelah dan lapar. Karena jumlah makanan dan minuman yang sedikit, maka mereka harus berbagi satu sama lain.
Kevin yang sedari tadi hanya diam, dia mulai merencanakan sesuatu. Hal itu dipancing oleh kehidupannya yang berantakan. Kevin memang orang yang pendiam. Tapi, saat dia marah, Kevin bisa sangat berbahaya. Semua itu tidak diketahui oleh siapa pun.
Karena memang Kevin adalah orang yang sulit untuk bergaul dengan siapa pun. Sekali bergaul, Kevin hanya menjadi budak bagi teman-temannya. Banyak orang yang berpura-pura baik kepada Kevin, hanya untuk memanfaatkan kepandaiannya.
Kevin adalah orang yang ahli dalam semua pelajaran di sekolah. Bahkan diam-diam dia juga ahli dalam bidang teknologi. Untuk itulah Kevin ikut bergabung dengan sekte ini, saat ia tahu kalau sekte yang melegenda ini memang benar ada keberadaannya.
Sayangnya, Kevin tidak mengetahui secara lengkap apa tujuan dari sekte tersebut. Dia hanya membacanya dari sebuah brosur yang dia dapatkan dari orang yang tidak dia kenal, sewaktu dia sedang mengerjakan tugasnya di sebuah cafe.
__ADS_1
Orang yang memberikan brosur itu benar-benar bisa membuat Kevin terpengaruh. Karena dia bukan hanya sekedar memberikan, tapi juga menjelaskan semua yang ada dalam brosur tersebut.
Kevin baru menyadari semuanya sekarang, bahwa masuk ke sekte ini tidaklah semudah yang dia bayangkan. Dia tak fikir, semua kecerdasannya bisa menentukan nasibnya saat ini. Namun sepertinya, dia belum bisa sepenuhnya menggunakan kemampuan yang ia dapat dari sekolah untuk membuat dirinya lolos pada ujian ini.
Beberapa waktu kemudian, Mozan kembali memberitahu mereka, bahwa waktu untuk penentuan hampir habis. Mozan memberi mereka waktu tiga hari lagi, untuk menentukan nasib mereka masing-masing.
Semua orang mulai panik. Mereka tak lagi mempedulikan orang-orang disekitarnya. Bahkan dari mereka membuat kelompok sendiri-sendiri, untuk menentukan siapa yang terkuat dan berhak untuk bebas dari ruangan itu.
Tetapi mereka salah, hal itu membuat Mozan naik pitam. Mozan meningkatkan suhu panas di ruangan itu. Dengan begitu, mereka jadi semakin tersiksa.
__ADS_1
"Kalian sudah melanggar peraturan tingkat berat. Kalian tidak boleh bekerja sama. Jika kalian bekerja sama, maka satu persatu dari kalian harus mati sia-sia." (Mozan)
"Sial! Itu semua karena rencanamu yang busuk itu!"
Salah satu anak perempuan di antara mereka mulai menuduh temannya. Padahal, mereka adalah sahabat baik. Mereka benar-benar sudah tidak bisa berfikir dengan jernih. Lea lalu mengambil sebuah pisau dan menusuk salah satu dari mereka. Menusuknya dengan sebuah pisau kecil yang dia ambil di ruangan itu.
Semua orang berlarian kesana kemari. Banyak juga yang berusaha mendobrak pintu itu. Namun semuanya sia-sia belaka. Sedangkan Lea, dia tertawa terbahak-bahak karena melihat tingkah mereka.
Menurutnya, itu adalah hal terbodoh yang pernah ada. Lea melepas jaket yang dia pakai. Karena suhu panas di ruangan itu masih belum mereda. Begitu juga dengan Kevin, dan semua orang yang ada disana. Kini, beberapa dari mereka hanya menggunakan ****** *****, karena rasa panas yang sungguh luar biasa mereka rasakan.
__ADS_1
Mereka berteriak dan terus memohon kepada Mozan, agar segera mengakhiri semua ini. Tapi Mozan tidak mempedulikan hal itu. Karena itu adalah ujian paling ringan yang harus mereka lalui untuk masuk ke dalam sekte ini.