
Bukannya menjadi kenyang, Teguh justru sekarang merasa perutnya seperti sedang ditusuk karena memakan ikan yang busuk. Teguh hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Kesialan apa lagi yang menimpaku sekarang. Kenapa aku menjadi sangat payah seperti ini. Bagaimana aku bisa hidup kalau caranya seperti ini. Sepertinya aku memang harus mencari korban yang lain. Mungkin, darah gadis perawan bisa mengembalikan semua kekuatanku yang hilang." (Teguh)
Meski pun ada niat untuk berubah, tapi pemikiran Teguh belum kembali sepenuhnya seperti dulu. Ia masih menginginkan kekuatan magis yang selama ini melindungi dirinya dari apa pun. Teguh bisa mengosongkan perutnya selama berhari-hari kalau dia meminum darah manusia.
Jika yang diminum adalah darah gadis yang masih perawan, Teguh mampu melakukan banyak hal yang tak bisa dilakukan oleh orang lain yang ada di kelompoknya. Memang tidak mudah untuk menjadi orang baik. Teguh masih belum mampu menahan hasratnya untuk tidak melakukan kebiasaan buruknya tersebut.
Teguh berjalan perlahan keluar dari dapur rumahnya. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi. Dia seperti tak sanggup lagi menahannya. Semakin Teguh banyak bergerak, maka rasa sakitnya pun akan semakin bertambah kuat.
"Aku tidak mungkin keluar dalam keadaan seperti ini. Aku harus mencari seseorang yang bisa membantuku. Tapi bagaimana caranya? berjalan saja aku sudah tidak sanggup. Aku sudah kehilangan banyak sekali tenaga. Dan sekarang, tenagaku hampir habis. Bagaimana pun caranya, aku tidak mau mati di tempat ini." (Teguh)
__ADS_1
"Kalau kamu tidak mau mati, sebaiknya berdoalah kepada Tuhanmu. Siapa tahu dia masih mau menolongmu."
"Hah?!" (Teguh)
Teguh terkejut saat melihat ada orang yang menjawab keluhannya itu. Orang itu adalah orang yang sebelumnya menemui Teguh.
"Kamu orang tua yang sudah membuatku seperti ini." (Teguh)
"Aku? Aku datang ke tempat ini untuk bertamu dan berusaha menolongmu. Tapi sepertinya kamu lebih memilih berusaha sendiri. Itu memang bagus Teguh. Namun kamu harus ingat satu hal, tidak ada satu pun makhluk yang mampu berjalan sendiri di muka bumi ini."
"Apa maksudmu orang tua? Masalahku datang sejak kamu datang menemui aku. Kamu yang telah membuat seluruh kekuatanku menghilang. Dan sekarang, aku sedang sekarat. Itu pasti ulahmu juga, iyakan? Kamu pasti sudah menaruh sesuatu yang membuat ikan-ikan itu menjadi busuk." (Teguh)
__ADS_1
"Kamu punya buktinya?"
Teguh hanya diam. Orang itu tersenyum, dan duduk di samping Teguh yang sedang terkulai lemas.
"Manusia mana yang tidak kesakitan karena sakit perut. Aku sendiri pun pasti sudah meringis kesakitan karena memakan ikan yang sudah busuk. Bukankah kamu orang yang kuat Teguh? Kamu sangat ditakuti dan dihormati di lingkungan barumu. Kenapa sekarang kamu menjadi lemah dan payah seperti ini?"
"Diamlah. Dari pada kamu banyak bicara, sebaiknya sekarang kamu membantuku bagaimana caranya agar aku bisa sembuh." (Teguh)
"Kenapa aku harus membantumu Teguh?"
"Bukankah sesama manusia kita harus saling membantu?" (Teguh)
__ADS_1
Teguh berusaha merayu orang itu agar mau membantunya. Setidaknya hanya untuk berdiri dan berjalan ke kamarnya. Namun sepertinya orang itu enggan untuk menolong Teguh yang tengah sekarat itu. Dia justru menertawakan Teguh karena Teguh yang terkenal kuat dan ditakuti itu ternyata sangat lemah dan payah.