
Farah melihat ada seseorang berjubah hitam dengan membawa sebuah lilin. Orang itu mendekati Farah dari kejauhan, lalu berhenti sejenak. Dia bersiul dan bernyanyi. Tapi Farah sama sekali tak paham dengan lirik yang dinyanyikan orang tersebut. Itu seperti bahasa asing. Farah hanya menatap orang itu, tak melakukan apapun. Dia ingin tahu apa yang orang itu inginkan. Dan apa maksudnya membawa sebuah lilin.
"Akhirnya.... Kamu hadir juga saudariku. Kami sudah lama menunggu. Kami berharap kalau kamu bisa bergabung kembali bersama kami."
"Maaf, saya tidak berminat. Terimakasih untuk semua yang sudah kalian berikan kepada saya dulu. Kekuatan yang luar biasa seperti ini sangatlah sulit untuk didapatkan." (Farah)
"Kalau begitu, mari bergabunglah kembali bersama kami. Dan kamu akan menjadi pemimpin saudari ku. Karena kami sangat membutuhkan pemimpin yang baru. Pemimpin yang bertanggung jawab seperti kamu."
"Maaf, saya ingin hidup dengan tenang. Dan saya juga tidak mau melukai kalian, karena kalian juga keluarga saya dulunya. Jadi sekarang serahkan Prapto, sahabat saya." (Farah)
Orang itu dulunya adalah mantan anak buah Farah yang sangat setia. Dan dia adalah orang yang sangat jujur. Walaupun dia anggota sekte, tapi dia tak suka menindas orang tak bersalah. Dia hanya mau membunuh atau melukai orang yang mencari masalah dengannya.
"Saudari ku, kamu adalah yang terbaik diantara kami. Lidya sudah dihukum di Tiang Perak, dan dia tak akan menjadi pemimpin kami lagi. Lagi pula kamu pun paham saudari ku, kalau aku tak pernah suka dengan cara Lidya yang terlalu ganas. Dan kami akan menjadi pengikut mu seperti dulu. Hanya kami yang kabur meninggalkan tempat persembunyian, hanya untuk menemui kamu saudariku."
"Saya tidak peduli apa pun alasan kalian. Sekarang kembalikan sahabat saya yang sudah kalian culik." (Farah)
"Tolong dengarkan kami dulu, sebentar saja."
"Cepatlah! Sebelum naluri hewan saya muncul!" (Farah)
Farah sudah pasang kuda-kuda untuk menyerang mereka, kalau sampai mereka tidak memberitahukan dimana keberadaan Prapto. Untuk urusan yang satu ini, dia tidak akan memberi belas kasih.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kamu ikuti kami. Dan kami mohon, tenangkan dirimu dulu saudari ku."
"Ayo! Kesabaran saya sudah hampir habis!" (Farah)
"Baiklah, silahkan."
Farah dibawa oleh orang itu memasuki sebuah portal yang menuju ke suatu tempat yang tidak asing bagi Farah. Ternyata yang membawa Farah berjumlah sembilan orang, agar mereka bisa menyatukan kekuatan mereka untuk membuat portal ini.
"Kamu masih mengenalinya kan?"
"Pantas saja saya merasakan kekuatan yang begitu besar, ternyata kalian tidak pernah terpisah walau sebentar saja." (Farah)
"Itu karena kamu yang mendidik kami."
Anak buah Farah tertangkap, tapi Farah berhasil lolos. Hingga dia bisa hidup sampai sekarang. Sedangkan anak buahnya yang tertangkap disiksa dengan kejam, dan setelah itu mereka ditelantarkan.
"Bagaimana kalian bisa selamat dari pembantaian itu?" (Farah)
"Lidya menghukum kami dengan mencambuk kami menggunakan rantai emas. Sampai kami tak berdaya apa-apa."
"Lalu Lidya sengaja membebaskan kami yang masih sangat lemah. Membuang kami ke tempat terpencil. Bahkan di tempat itu kami sangat sulit untuk mencari makanan dan minuman."
__ADS_1
"Iya benar, bahkan binatang buas pun tak ada yang berani kesana."
"Apakah hutan itu hutan Pinus?" (Farah)
"Iya, benar."
"Pasti itu adalah hutan terlarang. Tempat berkumpulnya Iblis dan Setan yang dulu kita sembah." (Farah)
"Kami sama sekali tidak tahu menahu soal itu. Karena itu pertama kalinya kami kesana."
"Ya sudahlah. Tak perlu kita ingat lagi masa-masa itu. Sekarang beritahu saya dimana Prapto berada?" (Farah)
"Kami terpaksa menculiknya saudariku. Dan dia ada disini, di tempat tidurmu. Tapi kami tak membiarkannya begitu saja. Kami mengobatinya agar lukanya cepat sembuh. Karena obat dari dokter itu hanya mampu mengobati bagian luar saja."
"Ya sudahlah kalau begitu. Tetap jaga dia dengan baik. Karena saya harus mengurus beberapa hal." (Farah)
Farah berlalu meninggalkan mereka, namun salah satu mantan anak buahnya mencegat Farah.
"Saudariku! Kami memang masih menggunakan ilmu hitam. Dan kami sudah terlanjur menjadi hamba yang dikutuk. Tapi, kamu pernah menjadi bagian dari kami. Dan kamu juga pernah berkorban untuk kami semua. Jika suatu hari kamu membutuhkan bantuan kami, kami akan selalu siap saudariku."
"Terimakasih." (Farah)
__ADS_1
Farah menatap wajah-wajah mantan anak buahnya itu. Farah merasa prihatin dengan nasib mereka. Mereka ingin sekali berubah, dan menapaki jalan yang benar. Tapi sepertinya mereka sudah terhalang, tak ada jalan bagi mereka untuk kembali. Lalu Farah pergi meninggalkan mereka, untuk mengurus masalah yang lainnya. Dihatinya dia terus berdoa untuk mereka yang selama ini masih setia kepadanya.