BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟻𝟺


__ADS_3

Teguh melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Dia mencari tempat lain yang mungkin saja masih dikuasai oleh kelompoknya. Tidak lupa, Teguh juga mampir ke beberapa tempat dimasa lalunya. Dia kembali mengingat saat dia masih berjualan di pasar. Dan ternyata, lapak yang dulu digunakan oleh Teguh sudah ditempati oleh orang lain, yang juga sama-sama seorang penjual ikan.


Teguh mengambil beberapa batu di tanah, ia rubah batu itu menjadi emas. Teguh lalu mendatangi orang itu untuk membeli beberapa ikannya. Entah angin apa yang kemudian membuat Teguh seperti kembali lagi ke jati dirinya sebagai manusia biasa. Padahal, beberapa bulan sebelumnya Teguh lebih sering mengkonsumsi darah dan daging sapi mentah.


"Boleh aku beli beberapa ikanmu?" (Teguh)


"Silahkan Pak. Ikannya masih baru. Saya baru mendapatkannya dari para nelayan. Bapak mau berapa kilo?"


"Bagaimana jika aku menukarnya dengan beberapa butir emas ini?" (Teguh)

__ADS_1


Orang itu tercengang melihat Teguh yang memegang segenggam emas ditangannya. Orang itu langsung mengambil plastik besar untuk membungkus ikan-ikannya. Tapi Teguh menahannya, dan meminta plastik yang lebih kecil. Teguh hanya membutuhkan beberapa ikan saja untuk dia santap. Selepas itu, Teguh langsung pergi dari pasar menuju ke rumahnya.


Rumahnya sudah tak lagi terawat. Banyak barang-barang di masa lalunya yang telah dicuri. Karena saat Teguh pergi, dia tidak pernah lagi kembali ke rumah ini. Bayang-bayang masa lalunya menggentayangi Teguh. Dia merindukan masa-masa indah bersama kedua orang tuanya.


Teguh juga memikirkan bagaimana nasib istrinya. Dalam hati kecilnya, dia ingin kembali lagi seperti dulu. Menjalani kehidupan yang normal. Tidak ada batasan dalam kesehariannya. Masalahnya hanyalah mulut istrinya yang selalu mengomel karena Teguh sering pulang tanpa membawa uang.


Teguh juga masih ingat kalau dia sering tidur di jalanan. Bahkan pernah tidur di dekat makam orang tuanya. Teguh tertawa terbahak-bahak sembari menangis. Kini Teguh mulai menyesali perbuatannya. Seharusnya dari dulu dia tetap pada pendiriannya, dan menolak ajakan Lidya yang menjerumuskannya.


Teguh memukul-mukul kepalanya sendiri. Dan tiba-tiba, ada seseorang yang muncul dibelakangnya dengan mengucapkan salam. Teguh tidak membalas ucapan salam itu. Dia hanya menatap tajam ke mata orang tua itu.

__ADS_1


"Siapa kamu berani menginjakkan kaki di rumah ini?" (Teguh)


"Aku bukan siapa-siapa. Hanya seseorang yang ingin mengunjungimu. Sekaligus untuk membuka semua kebenaran yang selama ini ditutupi oleh gurumu yang sekarang sedang sekarat itu."


"Apa maksudmu orang tua? Kamu sudah bosan hidup sepertinya ya?" (Teguh)


"Yah, kalau dipikir-pikir hidup memang sulit Teguh. Tapi aku tidak mau berputus asa sepertimu. Aku juga tidak mau menjadi budak iblis yang lemah dan payah. Aku yakin kalau kamu sudah menyadarinya Teguh. Hanya saja belum sepenuhnya. Maka sekarang tugasku untuk membimbingmu. Tapi, itu pun kalau kamu mau. Kalau tidak, ya tidak apa-apa. Lagi pula aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan."


Orang itu langsung pergi meninggalkan Teguh. Teguh berusaha mengejarnya, tapi dia tidak sanggup. Lututnya terasa sangat lemas. Nafasnya terengah-tengah. Keringat bercucuran dari tubuhnya. Kepalanya terasa pusing.

__ADS_1


"Ada apa denganku? Kenapa aku menjadi lemah seperti ini. Seharusnya aku bisa menggunakan kekuatanku seperti sebelumnya. Apa yang sudah orang itu lakukan padaku?"


Teguh bertanya-tanya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang itu memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dari pada dirinya. Bahkan, Teguh belum pernah merasakan kekuatan sedahsyat itu. Hanya dengan bertatapan langsung, Teguh sudah lemas letih. Dia tak mampu berdiri. Tubuhnya terbaring di tanah. Sampai pada akhirnya, dia tidak sadarkan diri.


__ADS_2