
"Hahahaha....."
Terdengar suara tawa yang sangat keras dari dalam hutan. Dan saat itu juga, bola api itu berubah menjadi seorang manusia. Badannya tegap dan gagah. Terlihat dia bukanlah makhluk sembarangan. Apalagi, jin dan setan tak mampu berwujud manusia secara fisik seperti itu.
Makhluk itu mendekati Farah.
"Saya sudah menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan."
Farah heran dengan ucapan makhluk ini. Padahal dia tidak pernah memberikan perintah apa pun. Dan baru kali ini Farah bertemu dengan makhluk ini. Bahkan, Farah juga tak pernah sekalipun melihatnya.
"Saya tidak memberikan perintah apa pun. Apa yang membuat kamu mengejar sahabat saya?" (Farah)
"Saya diberi tanggung jawab untuk melatihnya. Karena dia baru saja melalui proses penyembuhan. Jadi dia harus melemaskan seluruh sendi-sendinya, agar bisa pulih seperti semula."
"Siapa yang memberikan kamu perintah?" (Farah)
__ADS_1
"Kami".
Salah satu mantan anak buah Farah menjawab pertanyaan itu.
"Untuk apa?" (Farah)
"Kami semua tidak ingin sahabatmu ini menjadi penakut. Yang dia hadapi sekarang adalah Ifrit. Bagaimana nanti jika sahabat kamu ini menghadapi semua anak buah Lidya?"
"Dengan membuatnya ketakutan dan gila?" (Farah)
"Gila?"
"Lihatlah, dia sekarang sudah sembuh. Bahkan kakinya mampu berlari secepat harimau. Dia sudah melalui masa kehampaan karena rasa sakit yang menggerogotinya selama berbulan-bulan."
"Baiklah. Itu lumayan. Tapi lain kali jangan samakan latihan kita dulu dengan orang biasa seperti Mas Prapto. Dia orang biasa, bukan orang-orang semacam kalian." (Farah)
__ADS_1
Mereka semua diam. Mulai memikirkan apa yang baru saja mereka lakukan. Memang mereka terlalu keras melatih Prapto yang kemampuannya masih biasa-biasa saja. Dan Prapto hanyalah orang biasa yang masih bisa terluka. Tidak seperti mantan anak buah Farah yang memiliki bermacam-macam kemampuan.
Setelah itu Farah masuk kembali ke dalam dengan di ikuti oleh Prapto dan anak buahnya. Sedangkan Ifrit itu berjaga diluar. Karena dia bangsa jin kelas budak. Tak berani memasuki rumah tuannya sebelum disuruh.
Mereka semua duduk bersama dan menyantap makanan yang Farah bawa dari rumah.
"Ahhh... sudah lama kami tidak makan makanan seperti ini. Biasanya kami hanya makan hewan buruan."
"Farah, makasih yah. Kamu sudah mengantar makanan kesini. Selama beberapa bulan ini, aku sama anak buah kamu cuman makan hewan buruan." (Farah)
"Iya mas. Sama-sama." (Farah)
Anak buah Farah melihat mereka berdua sembari tersenyum. Karena mereka mulai melihat ada sesuatu yang aneh dalam diri mereka. Mungkin Prapto mulai merasakan nyaman berada di dekat Farah. Karena sudah lama dia tak mendapat perhatian dari wanita. Apalagi setelah Prapto melihat apa yang terjadi pada istrinya.
Prapto mulai merindukan masa-masa dimana dia makan bersama dengan keluarga kecilnya itu. Anaknya Dion, dan istrinya Vera selalu menemaninya. Tak pernah dia membayangkan bahwa peristiwa semacam ini akan menimpa dirinya dan keluarganya.
__ADS_1
Padahal Prapto dan Vera selalu bahagia dalam keadaan apa pun. Sebelumnya, senyuman Vera selalu menemani hari-harinya. Dan canda tawa Dion yang selalu membuatnya selalu semangat dalam menjalani setiap kegiatannya.
Sekarang keadaan itu telah berubah. Berubah menjadi sangat mengerikan. Kebahagiaan itu direnggut oleh orang yang tak pernah dia temui. Orang yang tak pernah Prapto kenali. Dan bahkan Prapto pun tak berharap bisa mengenalnya.