
"Fiuuhh... Untung saja aku selamat dari orang gila itu."
Orang itu merasa sangat lega karena telah berhasil lari dari Teguh yang sedang menggila. Jantungnya berdegup sangat kencang, nafasnya terengah-engah. Dia mulai merasa aneh dengan dirinya sendiri. Belum pernah dia merasakan takut sehebat ini. Dia selalu berani berhadapan dengan siapa pun. Dan tidak pernah meninggalkan temannya sendiri, apalagi dalam keadaan tidak berdaya. Karena hal itu sangat dilarang oleh Lidya.
Dia selalu memerintahkan anggotanya untuk tetap bersama-sama dalam kondisi apa pun. Tapi mau bagaimana lagi, dari pada harus menjadi korban Teguh yang sedang tidak terkendali, lebih baik dia lari sebisanya dan pergi ke suatu tempat. Muncul dalam benaknya untuk mendatangi Farah dan memberitahunya kalau Teguh telah muncul kembali. Tapi dia khawatir kalau Farah juga akan bersikap lebih mengerikan dari pada Teguh.
__ADS_1
"Yang terpenting sekarang aku bisa selamat dari orang gila itu. Untuk selanjutnya biar aku pikirkan nanti saja."
Orang itu pun terus berlari sekuat tenaga agar bisa tetap menjauh dari Teguh. Dia khawatir kalau Teguh mencari keberadaannya. Dan disitulah dia mulai sadar akan sesuatu. Dia lari dengan kecepatan normal. Padahal, sebelumnya dia bisa berlari dengan sangat cepat. Tubuhnya juga berkeringat. Nafasnya terasa seakan mau habis. Dia juga merasa kalau kepalanya sedikit pusing.
"Sungguh ini sangat aneh. Kenapa sekarang merasa kalau diriku sendiri yang gila? Aku tidak pernah berkeringat. Bagaimana mungkin orang sepertiku bisa berkeringat? Astaga! Jangan jangan kekuatanku telah hilang!"
__ADS_1
Dia sekarang merasa kalau dirinya jauh lebih 'Manusia' dari pada sebelumnya. Dia kembali merasakan apa itu haus dan lapar seperti orang-orang pada umumnya. Dia merasakan lelah dan tetesan keringat segar yang mengucur deras dari tubuhnya. Udara dingin malam hari bisa ia rasakan dengan sangat baik. Dia bisa mencium segala macam aroma yang ada di tempat ini tanpa terhambat sedikit pun.
Dia merasa jauh lebih normal sekarang. Orang itu langsung teringat dengan anak dan istri yang telah ia tinggalkan selama puluhan tahun. Dia seketika itu juga melepas jubahnya. Dia hanya mengenakan celana panjang warna hitam dan juga sepatu yang biasa ia gunakan kemana pun ia pergi. Rasa lelah dan udara dingin yang menerpa dada telanjangnya sama sekali tidak membuat dirinya berhenti di tengah-tengah perjalanannya.
Dia semakin kencang berlari dari tempat itu. Menyusuri jalan-jalan hutan dengan medan yang cukup sulit. Dia hanya mengandalkan instingnya agar bisa keluar dari hutan ini hidup-hidup.
__ADS_1
"Sebaiknya aku menyusuri sungai. Sekali pun Teguh sakti mandraguna, dia tidak akan mungkin mau menceburkan dirinya ke dalam aliran sungai. Apalagi kalau sungainya deras."
Entah itu sebuah keajaiban atau apa, yang jelas saat itu juga hujan perlahan mulai turun. Orang itu masih ingat betul kemana jalan menuju sungai, walau pun jalan sekarang tertutup kabut yang cukup tebal. Untungnya dia bisa mengenali setiap hal yang ada di depannya. Baik itu jalan buntu, atau pun jalan yang sempit dan sangat sulit. Dia juga menggunakan sebuah kayu untuk dijadikan tongkat, agar mempermudahnya menemukan jalan yang tepat.