BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟷𝟼


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Prapto dan Anaknya mengungsi di tempat Farah. Kebetulan Farah memiliki kontrakan, dan salah satu kamarnya masih kosong. Jadi Prapto bisa tinggal di kontrakan Farah untuk sementara waktu, sampai situasi benar-benar aman. Mereka terpaksa kabur dari rumah, karena Dina berubah menjadi sosok yang mengerikan.


Prapto pun masih tidak percaya dengan apa yang telah dia lihat pagi ini di rumahnya.


Bagaimana nanti jika tiba-tiba mertuanya menanyakan kabar Dina? Apa yang harus dia katakan?


Wanita yang telah menemaninya selama bertahun-tahun ternyata dengan tega ingin menghabisi suami dan anaknya. Sungguh Prapto tidak menyangka kalau istrinya adalah penyebab dari semua permasalahan yang telah dia alami. Kebaikan Dina benar-benar telah menutup penglihatan Prapto selama ini. Mana mungkin Prapto mengira kalau istrinya adalah seorang pemuja setan.


"Pa? Aku pengin ngomong sesuatu yang penting sama Papa." (Dion)


"Iya sayang. Kamu ajah ya, ada apa?" (Prapto)


"Sebenarnya, Mama emang udah pengin bunuh Papa. Tapi Mama katanya udah terlanjur cinta sama Papa. Dan itu yang udah Kakek kecewa sama Mama. Terus Mama diancem, kalau misalnya Mama ngga nurutin perintah Kakek, Dion bakal dibunuh sama Kakek." (Dion)


"Ya Allah Dion sayang. Jadi kamu udah tahu semuanya?" (Prapto)


"Udah Pa. Tapi Mama bilang, Dion harus jaga rahasia. Soalnya, Kakek itu bukan orang sembarangan Pa." (Dion)


"Nah, terus gimana kalau Nenek?" (Prapto)


"Nenek kan lagi sakit Pa, karena Nenek selaku nglindungin Dion. Makanya Nenek badannya jadi lemah Pa." (Dion)

__ADS_1


"Tapi kenapa ngga jujur ajah sama Papa?" (Prapto)


"Aku takut Pa sama Kakek. Aku tahu kok, Mama ngga jahat. Mama cuman terpaksa karena Mama pengin lindungi aku Pa." (Dion)


"Ya udah yah Dion, sekarang kamu ngga usah mikirin soal itu yah. Pokoknya kamu harus jadi anak baik, supaya Mama sama Kakek juga bisa jadi orang baik. Yah?" (Prapto)


"Iya Pa." (Dion)


Anak sekecil Dion sudah melihat hal-hal yang tak seharusnya dia lihat. Betapa kagetnya Prapto ketika mendengar cerita Dion. Padahal, selama ini tak ada yang mencurigakan dari keluarga Dina. Semuanya seperti baik-baik saja. Prapto pun semakin pusing dengan bertambahnya masalah ini.


Kalau dia berusaha melawan, tentunya yang pertama akan dia hadapi adalah istrinya sendiri. Karena mertuanya pasti tidak akan segan-segan untuk memanfaatkan anaknya sendiri. Atau bisa saja Ayah Dina sudah mempersiapkan rencana yang jauh lebih jahat lagi untuk membunuh Prapto dan Dion.


"Sayang, ini udah malem. Kamu istirahat yah. Papa mau keluar sebentar." (Prapto)


"Iya Pa." (Dion)


"Assalamualaikum Fa." (Prapto)


"Walaikumsalam.... Ada apa ya mas?" (Farah)


"Ehhkkmmm..... Bisa bicara sebentar? Ada hal penting soalnya Fa." (Prapto)

__ADS_1


"Oh ya udah mas. Tapi diluar ajah ya mas? Ngga papa kan?" (Farah)


"Oh ya ngga papa kok." (Prapto)


Prapto menceritakan semua yang telah ia dengar dari anaknya. Namun Farah merasa ada sesuatu yang janggal diantara keluarga Dina. Apa yang diceritakan oleh Dion kepada Prapto sangatlah tidak sama dengan pendapat Farah.


Karena menurut Farah, bicara harus menggunakan bukti meski dengan anak kecil sekali pun. Beberapa saat mereka adu argumen. Dan Prapto merasa bahwa Farah sama sekali tidak menolong. Justru semakin membuat Prapto pusing.


"Mas, semua masalah ini bisa kita pecahkan kalau mas mau bersabar. Terus mas harus tetap disini. Kita selesaikan semuanya sama-sama mas. Apa mas mau Dina kaya gitu terus? Pikirin itu mas." (Prapto)


"Oke Fa, aku minta maaf. Tapi jujur Fa, aku pusing banget mikirin masalah ini Fa. Aku stress! Aku ngga tahu harus gimana Fa." (Prapto)


"Mas muslim kan?" (Farah)


"Tolong Fa....." (Prapto)


"Kalau mas emang muslim, buat apa mas kaya gitu mas. Mas ngga usah pikirin masalah yang bikin pusing ini. Tapi ayo mas, kita cari jalan keluarnya. Dina itu sahabat aku mas, satu-satunya. Dan mas itu suaminya. Mas jangan cuman usaha mas, tapi juga doa." (Farah)


"Iya Fa, aku tahu. Aku juga sadar kalau selama ini aku selalu anggap remeh yang namanya doa. Aku pikir semuanya hanya cukup dengan usaha keras ajah Fa." (Prapto)


Prapto menangis tersedu-sedu. Dia menyadari semua yang dia hadapi ini adalah ujian dari Tuhan untuk mengingatkannya, juga Tuhan pasti menginginkan Prapto menjadi orang yang lebih kuat. Karena itulah dia dihadapkan pada ujian yang cukup berat.

__ADS_1


Selama ini Prapto selalu meremehkan yang namanya doa. Menurutnya, semua hanya perlu usaha keras saja. Tapi nyatanya semua itu tidaklah cukup. Hal ini membuat Prapto sadar dengan apa yang dia lakukan selama ini.


__ADS_2