BUDAK : Son Of The Devil

BUDAK : Son Of The Devil
Budak : Episode 𝟻𝟾


__ADS_3

Orang tua itu semakin tertawa karena melihat Teguh yang sedang berusaha keras untuk menggerakkan tubuhnya. Bukan hanya merasakan ngilu parah di perutnya, tapi Teguh juga merasakan seluruh badannya tertusuk oleh jarum. Namun disitulah otak Teguh mulai berfungsi kembali dengan normal.


Dia baru ingat satu hal, kalau Teguh dilarang keras untuk memakan segala sesuatu yang berasal dari tempat kelahirannya. Teguh benar-benar tidak sadar, karena dia merasakan perutnya lapar sekali. Juga dia ingin kembali mengingat masa-masa sulitnya sewaktu masih di pasar dulu.


Lapaknya yang jelek dan kumuh itu juga terkadang tidak luput dari pemalakan dari preman pasar. Kalau Teguh tidak memberikan setoran, maka dia harus siap dipukuli. Belum lagi kalau dia sampai rumah tanpa membawa uang sepeser pun. Dia akan kena marah istrinya yang lebih galak dari pada preman yang ada di pasar.


Teguh mulai memikirkan kakaknya, Prapto. Dia dan keluarganya adalah satu-satunya yang benar-benar peduli kepada Teguh. Sedangkan orang lain akan datang hanya ketika sedang membutuhkannya saja. Teguh mulai merenungi dirinya. Setan itu sudah merusak seluruh kehidupannya.


"Orang tua. Tahukah kau tentang iblis? Apakah mereka semua bisa bertaubat? Sama seperti manusia?" (Teguh)


"Bukankah kamu lebih mengenal mereka dari pada aku Teguh? Seharusnya kamu yang menanyakannya sendiri." kata orang itu sembari tertawa mengejek Teguh.

__ADS_1


Teguh hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Ingin sekali rasanya dia memukul orang tua itu sampai babak belur. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Teguh terkulai lemah tak berdaya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah berbaring dengan pikiran yang berjalan-jalan.


"Sebenarnya, kamu itu penolong atau pembohong?" (Teguh)


Orang tua itu berubah raut wajahnya. Yang semula terlihat biasa saja, kini mulai menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya.


"Hey! Anak Iblis! Kamu benar-benar makhluk lemah dan bodoh! Mulutmu kotor seperti sampah. Bahkan seekor anjing pun bisa membedakan mana orang yang patut disentak dan mana yang tidak!" bentak orang itu dihadapan Teguh.


Teguh lalu batuk-batuk hingga mengeluarkan dari mulutnya. Teguh semakin tertekan dengan semua yang ia alami. Dia merasa kalau kematiannya sudah dekat.


"Orang tua, aku mohon. Tolonglah aku. Aku sudah tidak mampu lagi menahan semua rasa sakit ini. Aku mohon orang tua. Aku mohon." (Teguh)

__ADS_1


Orang tua itu masih menatap Teguh dengan penuh amarah.


"Sebutlah Tuhanmu!" perintah orang tua itu.


"All... Aakhh!" (Teguh)


"Sebut!" bentak orang tua itu dengan sangat keras.


Tapi semuanya terasa sangat sulit. Setiap Teguh ingin menyebutkan nama "ALLAH", selalu saja tidak sampai melewati tenggorokannya. Teguh kesulitan untuk mengucapkan kalimat sesingkat itu. Walau pun orang tua itu terus memaksa dan mendesak Teguh untuk mengucapkannya. Teguh tetap tidak mampu melakukannya.


Orang tua itu bahkan sudah memaksanya sampai ratusan kali. Tapi tetap saja tidak bisa. Sampai pada akhirnya Teguh mendengar suara ayam berkokok. Dia sudah tidak mampu lagi melakukan apa-apa. Tenaganya sudah benar-benar habis. Kepalanya pusing. Pandangannya kabur. Dan saat itulah Teguh pun tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2