
"Dimana Razel?" (Mozan)
"Maaf tetua, tapi dia sudah lama pergi tanpa memberikan kabar apa pun." (Anmarah)
"Oh ya? Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?" (Mozan)
"Maaf tetua, akhir-akhir ini saya tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Karena saya terus menerus disibukkan dengan Teguh yang mulai tidak terkendali. Banyak anak buah saya di jalanan yang tewas. Murid-murid kita, dan beberapa anggota penting juga dibunuh secara kejam. Saya lebih mengutamakan keselamatan dan persembunyian yang aman untuk anak anak kita yang masih tersisa." (Anmarah)
"Bodoh! Kenapa hanya itu yang kamu fikirkan?! Tanpa Razel, maka kekuatan kita sudah berkurang satu. Sedangkan bertiga saja kita belum tentu mampu melakukan perlawanan kepada Farah dan juga Teguh. Dan kita tidak bisa melakukan persembahan, karena Razel telah berkhianat!" (Mozan)
"Apa tetua?! Tidak mungkin! Dia pasti berada di suatu tempat!" (Anmarah)
"Ya benar! Dia berada di suatu tempat dengan Farah! Dan kamu tidak mengetahui tentang hal itu. Akulah yang membunuh Razel dan
__ADS_1
melenyapkannya untuk selama-lamanya!" (Mozan)
Anmarah merasa sakit hati mendengar hal itu, karena selama ini Razel sudah berjasa banyak untuk kelompok ini, tapi Mozan malah
membunuhnya. Mozan hanya bisa memberikan perintah tanpa mau mengotori tangannya sendiri. Sangat pantas jika orang seperti Razel bisa berkhianat.
Memang, Anmarah sangat setia kepada Mozan, tapi bukan berarti dia juga membenci Razel yang telah berkhianat. Razel memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para anggota di kelompok ini. Dia selalu peduli dan bijak kepada semua bawahannya. Tidak seperti Mozan yang suka bersikap seenaknya sendiri.
"Saya minta maaf untuk terakhir kali ini saja tetua." (Anmarah)
Mozan pernah diberi peringatan oleh pemimpin sebelumnya, kalau dia tidak akan pernah bisa membawa kelompok ini menuju kejayaan. Tapi Mozan tetap tidak peduli, dan bahkan dia mengkhianati pemimpinnya sendiri dengan melemparkan kata-kata kasar.
"Apa maksudmu?!" (Mozan)
__ADS_1
"Aku sudah muak dengamu! Aku sudah ribuan tahun mengikutimu. Dan yang aku dapatkan hanyalah masalah setiap harinya! Itu semua karena sifatmu yang arogan!" (Anmarah)
"Oh. sepertinya akan ada pengkhianat baru di tempat ini." (Mozan)
"Ya! Aku memutuskan untuk keluar dari kelompok ini dan mengkhianatimu! Mulai sekarang kamu adalah musuhku Mozan!" (Anmarah)
Mozan terlihat sangat warah, dilihat dari raut wajahnya dia menyimpan banyak sekali kebencian. Dia mengambil dua buah tombak, lalu memberikan salah satunya kepada Anmarah.
"Baiklah. Bagaimana kalau kita bertarung? Jika kamu bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, maka segalanya menjadi milikmu. Tapi jika kamu yang mati, maka segalanya akan menjadi milikku. Bagaimana?" (Anmarah)
"Begitu sekarang? Ribuan tahun aku menjadi pengikutmu. Dan sekarang dengan teganya dirimu ingin menghabisiku." (Anmarah)
"Jika kamu keluar dari kelompok ini, maka kemungkinan besar kamu akan menghabisi aku juga. Maka sekarang aku yang akan menghabisimu terlebih dahulu. Kita buktikan! Siapa yang pantas memberikan perintah Kamu?! Atau Aku!" (Mozan)
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita mulai!" (Anmarah)
Mereka mulai saling menyerang satu sama lain. Suara bising tombak mereka yang bergesekan sampai terdengar ke seluruh tempa itu. Bahkan banyak anggota sekte yang juga mulai saling serang satu sama lain.