
"Kita hampir saja mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi mereka masih cukup kuat untuk kita hadapi. Bagaimana keadaan Teguh sekarang?" (Lidya)
"Maaf Nyonya, kami sudah berusaha menyadarkannya. Tapi sepertinya Teguh memiliki luka yang sangat parah. Dia bahkan tak bergerak sedikitpun. Bahkan detak jantungnya mulia melemah."
"Baiklah kalau begitu. Kita pakai cara biasa, biarkan dia mati terlebih dahulu. Setelah itu baru kita bangkitkan kembali." (Lidya)
"Maaf Nyonya. Kami sangat kesulitan untuk mencari tumbal lagi. Karena sekarang pergerakan kita semakin sempit, dan kita seperti burung dalam sangkar."
"Apa maksud kamu?! Kamu menghina kelompok mu sendiri dengan mengatakan kita adalah burung dalam sangkar! Kamu pengkhianat!" (Lidya)
"Kalian! Bunuh dia!" (Lidya)
Lidya memerintahkan dua orang kepercayaannya untuk menghabisi nyawa dokter itu. Hanya karena kesalahan yang tidak seberapa, dia bahkan disiksa dan dibunuh secara kejam. Lebih kejam lagi saat dua orang anak buah Lidya mengambil darahnya dan menaruhnya di sebuah wadah untuk dijadikan ramuan oleh Lidya. Dan dagingnya disebar di seluruh jalan untuk menjadi makanan anjing liar.
Tak ada yang disesali oleh Lidya. Bagi Lidya membunuh orang dan meminum darahnya sudah menjadi kebutuhan pokoknya. Darah manusia yang masih segar bisa membuatnya awet muda dan membuat dirinya menjadi lebih kuat. Hal ini memang nyata, karena tak ada yang tahu kapan Lidya dilahirkan dan sudah berapa lama dia menjadi pimpinan sekte.
__ADS_1
Tak ada yang hidup sangat lama seperti Lidya. Bahkan banyak sekutu Lidya yang sudah mendahului Lidya. Meninggal karena seiring bertambahnya usia. Namun tidak bagi Lidya. Dia justru semakin panjang umurnya, semakin kuat. Dan sebagai seorang wanita, dia bahkan bertambah cantik. Karena itu pula banyak yang tertipu dengan Lidya.
Teguh yang waktu itu sedang terbaring tak sadarkan diri pun tidak dia pedulikan. Dia tak pernah mau ambil pusing soal keadaan anggotanya. Yang lemah akan dibunuh, dan yang melakukan kesalahan akan disiksa dengan kejam. Tak boleh ada kesalahan sedikitpun. Semuanya harus sesuai dengan apa yang Lidya inginkan.
Pengabdian Teguh selama ini pun tak pernah dipandang oleh Lidya. Teguh tak selayaknya orang terhormat disini, tapi lebih tepatnya seperti seorang 'Budak'. Harus menuruti semua perintah Lidya dan menjauhi segala larangannya. Lidya seakan sudah menjadi tuhan bagi Teguh.
"Nyonya. Apakah kita harus terus menerus seperti ini?"
"Apa maksud kalian?" (Lidya)
"Kita tidak bisa hanya terus berdiam diri seperti ini Nyonya. Teguh tidak boleh mati, dia harapan kita satu-satunya. Dia sama seperti orang tuanya. Mampu mengembalikan kejayaan kelompok kita. Sehingga kita mampu bergerak diruang yang sempit seperti sekarang ini."
"Bagaimana kalau kita gunakan saja rencana Teguh Nyonya. Tapi kita kurung Teguh di suatu tempat agar dia menjadi lemah. Dengan begitu, Nyonya bisa tetap menjadi pemimpin di sekte ini."
Lidya merasa sangat senang mendengar ucapan anak buahnya itu. Selama ini memang mereka berdua yang menjadi penasehat Lidya yang terbaik. Walaupun kenyataannya mereka tidak begitu baik dalam menangani setiap masalah. Mereka berdua hanya pandai berbicara, tapi tak sanggup untuk membuktikan.
__ADS_1
"Kalian memang cerdas. Cari semua dokter yang ikut bersama kita untuk membuat Teguh sadar. Karena saya tidak ingin kita membuang tenaga kita hanya untuk membangunkan Teguh yang ***** itu. Hahaha......" (Lidya)
"Segera kami lakukan Nyonya. Kami permisi."
"Hmmmmm......" (Lidya)
Setelah itu, kedua orang itu pergi untuk mempersiapkan segalanya. Mereka tak ingin mengecewakan Nyonya mereka. Mereka ingin terus menjadi kebanggaan junjungannya itu.
"Hey! Bagaimana jika nanti dia sadar? Apa yang akan kita lakukan? Dia sangat kuat, melebihi kita."
Mereka berdua memindahkan tubuh Teguh yang sekarat itu ke tempat lain, agar ketika Teguh sadar dia tak bisa kemana-mana.
"Ingat! Kita punya banyak ruangan untuk orang-orang semacam ini. Kita pindahkan dia ke tempat itu, baru kita panggil para dokter."
"Ya sudah, ayo cepat."
__ADS_1
Mereka memindahkan Teguh kesebuah ruangan yang sangat luas dan ditempat itu tersedia meja yang sangat besar. Namun ruangan itu sama sekali tak memiliki jendela atau pun lubang untuk keluar masuk udara. Tapi suhu diruangan itu sangat dingin. Ruangan itu begitu bersih dan sangat terawat. Tangga menuju ruangan ini sangat panjang dan melingkar seperti ular.
Ruangan ini sangat jarang di masuki. Kecuali memang dalam keadaan yang mendesak. Karena fungsi ruangan ini sebagai tempat persembunyian mereka, kalau mereka dalam keadaan terancam.