
Laura menandakan ke arah Leo yang datang ke rumahnya malam hari. Bahkan pria itu dengan sangat berani bertamu di rumahnya. Aulia menarik napas panjang dan menata ke arah Leo dengan pandangan tajam. Apakah laki-laki itu ingin mencari mati? Benar-benar memiliki nyali yang sangat luar biasa.
Sementara di ruang tamu ibunya berwajah masam sementara ayahnya tampak sangat akrab dengan Leo. Laura membuang wajahnya dan tidak berani setelah pria itu pergi ia akan dimarahi oleh ibunya.
“Laura kemarilah! Ini Leo anak murid mu. Kebetulan Papa mengenal ayahnya dan ibunya.”
Laura menarik napas panjang dan tersenyum kecut. Ia pun menghampiri ruang keluarga dan memandang ke arah Leo meminta jawaban kenapa pria itu ada di sini. Sungguh tidak tahu malu sama sekali bertamu ke rumah orang yang tidak ingin menyambut dirinya. Leo tampaknya belum jera setelah ditatap dengan pandangan tidak suka oleh ibunya.
Laura duduk di samping ibunya. Bahkan baru meletakkan bokongnya di kursi tersebut ibunya langsung mencubit lengannya untuk mencetak peringatan kepadanya. Laura menghela napas dan kemudian menormalkan ekspresinya.
“Laura!” sapa Leo dan ibunya langsung memandang ke arah Leo yang sama sekali tidak memiliki etika saat memanggil Leo. Bukankah laki-laki tersebut adalah anak murid Laura kenapa dia sama sekali tidak menghormati Laura.
“Kamu benar-benar muridnya? Kenapa kamu memanggil namanya?”
Leo di skak mat oleh ibunya. Laura memandang ke arah Leo dengan wajah menang. Leo langsung terdiam dan tak berani berbicara setelah ditegur oleh ibunya Laura. Ayahnya yang bodoh itu malah mencairkan suasana seolah-oleh sangat menerima kedatangan Leo.
“Leo santai saja, Tante mu ini memang seperti itu. Nanti tidak akan canggung lagi jika kalian sudah dekat dan menjadi bagian dari kami!” Laura terkejut bukan main setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya. Yang benar saja ia akan memiliki hubungan dengan Leo.
Laura memandang ke arah ayahnya dengan tidak terima, pun begitupula dengan ibunya yang sama seperti dirinya. Sementara itu sang ayah yang merupakan pelaku tampak terlihat biasa-biasa saja dan menganggap Leo bercanda. Tampaknya mereka frekuensi sehingga ayahnya Laura sangat menyukai Leo.
Leo berusaha menanggapi Ayah Laura dengan baik agar bisa diterima di keluarga Laura. Mungkin jalan pertama yang akan Ia langkahi adalah ayahnya Laura lalu ke anggota keluarga yang lainnya.
Laura ya mendengar pembicaraan sang ayah dengan Leo mengepalkan tangannya. Bisa-bisanya dirinya dipermainkan di sini dan ibunya pun begitu muak dengan sang ayah.
“Leo, nanti setelah kamu tamat sekolah kamu bakal kuliah di mana?” Leo pun tersenyum dengan gamblang. Ia sebenarnya tidak memikirkan ini karena menurutnya pendidikan untuknya tidak terlalu penting.
“Rencananya di universitas Indonesia saja! Walaupun Papa mau kuliahin di luar negeri! Tapi kalau kuliah di luar negeri susah, soalnya nggak ketemu Laura.”
Laura menghela nafas panjang dan kemudian menatap ke arah ibunya meminta bantuan mengusir dedemit ini. Ibunya mengusap tangan Laura dan tahu apa yang dirasakan oleh anaknya tersebut.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak ke luar negeri saja? Bukannya pendidikannya lebih bagus? Ditambah lagi kamu bisa mengembangkan usaha ayahmu jika berkuliah di luar negeri.”
Leo menarik nafas dan harus lebih sabar lagi menghadapi ibunya Laura yang memang pertahanannya begitu kuat. Berbeda dengan ayahnya yang begitu mudah untuk ia ajak menjadi teman.
“Entahlah, ini mungkin tergantung dari kenyamanan diri sendiri. Saya rasa pendidikan di Indonesia juga tidak kalah hebatnya. Banyak orang-orang yang hebat di Indonesia yang kuliahnya tetap di dalam negeri. Saya rasa tidak perlu jauh-jauh. Apalagi di universitas Indonesia ada Laura, jadi lebih memudahkan saya untuk berinteraksi dengan dia.”
Sang Ibu pun mengepalkan tangannya, dia tidak akan menerima menantu seperti Leo yang tidak tahu diri ini. Mau sekaya apapun Leo, menurutnya laki-laki tersebut tidak akan pantas bersanding dengan Laura. Mengingat perangainya yang begitu buruk bahkan ia sangat tidak yakin bahwa laki-laki ini bisa mengelola kekayaan milik ayahnya.
“Kau memang sedikit keras kepala ya. Tapi saya tidak akan mungkin membiarkan anak saya bersamamu.”
Sang ayah memandang ke arah ibunya tidak terima. Sementara itu Laura berada di pihak ibunya walaupun hatinya memang sedikit condong ke ayahnya.
“Mama, kita sudah tahu betul bagaimana keluarga Leo. Dia juga pernah bertemu denganmu kan, jadi tidak usah diragukan lagi.”
“Kau tidak mengerti maksudku dan anakmu.”
Sang istri pergi begitu saja meninggalkan ruang tamu. Sementara ayahnya memandang ke arah Laura yang tersenyum penuh kemenangan. Ia menatap ke arah Laura seakan-akan ingin menyerahkan Leo kepadanya.
“Papa, tapi...”
“Sudahlah Laura,” ucap Leo menahan dirinya.
Laura memandang ke arah Leo yang sangat senang. Baiklah kali ini pria tersebut menang.
“Daripada membuat keluarga kacau, lebih baik kau pulang ke rumah mu.”
Leo menganggukkan kepalanya dan ia juga tidak terima jika melihat keluarga Laura harus bertengkar gara-gara dirinya. Melihat hal tersebut Laura sedikit senang dan mengantarkan Leo keluar.
“Kenapa kamu bisa datang ke rumahku?”
__ADS_1
“Buat meyakinkan calon mertua.”
Laura memandang ke arah Leo tidak habis pikir. Apakah semudah itu? Harusnya ia bisa bersikap lebih baik lagi.
“Jangan harap!!”
Leo menatap ke arah Laura dengan sangat serius. Laura terus memandang dirinya dengan rendah, padahal di suatu sisi yang sangat memuja wanita itu.
Untuk membuktikan kepada Laura bahwa ia telah dewasa dan bukan anak-anak yang bisa diremehkan lagi, Leo lantas menarik Laura atau tempat sepi dan kemudian mendorong tubuh wanita itu ke tembok dan mengunci dengan kedua tangannya.
“Leo apa yang kamu lakukan?” Leo memandang ke arah Laura dengan tatapan serius. Kemudian ia mendekatkan wajahnya kepada Laura.
Laura terkesiap dan sangat syok sehingga tidak bisa menghentikan Leo menempelkan bibir mereka. Leo memperdalam ciuman tersebut sementara itu Laura tetap diam dengan wajah cengo. Ia menarik napas panjang dan memandang ke arah Leo yang sangat bengis dan terburu-buru.
Pria itu bahkan makin memperdalam ciumannya dan sampai membuat sisi bibir Laura terluka.
“Laura! Ingat kamu hanya milik ku!” Leo menempelkan kening keduanya. Hidung mereka pun bersentuhan dan kedua tangannya memegang kepala Laura.
Napasnya tersengal-sengal. Bahkan hanya dengan berciuman saja tubuh Leo berkeringat. Sementara itu Laura tidak bisa berkutik dan masih tidak menyangka.
Leo tersenyum, “terima kasih Laura. Bibir guru ku memang sangat lembut.” Leo mengecupnya sekali lagi.
Tidak bisa ditampik bahwa tubuh Laura bergetar saat merasakan sesuatu berdiri tegak di bawah sana.
Ia memandang ke arah Leo yang kemudian menjadi dirinya dan pergi ke motor pria itu.
“Kamu sudah memang sangat besar. Pertumbuhan mu begitu cepat.”
••••••
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.