Buk Guru, Ayo menikah!

Buk Guru, Ayo menikah!
Part 53


__ADS_3

Akhirnya Setelah sekian lama ya menyelesaikan kuliahnya dan bisa terbang ke Amerika Serikat untuk menjenguk keadaan Leo. Meskipun orang tua Leo tidak ingin menceritakan keadaan laki-laki tersebut kepada Laura secara detail tapi Laura tahu pasti sesuatu yang buruk telah terjadi kepada Leo.


Rasanya Laura sangat tidak tenang dan ingin segera pergi ke Amerika Serikat hingga pada akhirnya ia bisa mencapai impiannya di sini. Ale-alih mendapatkan pekerjaan Laura justru menemui Leo terlebih dahulu.


Ia merasa dadanya sangat deg-degan karena ini kali pertamanya ia berjumpa dengan Leon dalam keadaan laki-laki tersebut yang masih belum terlalu pulih. Ia belum mengetahui apakah Leo sudah sadarkan diri atau tidak tapi yang ia harap Leo tetap baik-baik saja.


“Leo dia tidak kenapa-napa, kan?” tanya Laura selama hatinya menyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada sesuatu yang buruk terjadi kepada kekasih hatinya.


Meskipun ia dinyatakan kehilangan ingatannya maka Laura akan kembali mengingatkan Leo tentang masa lalunya. Apa yang terjadi tetap akan seperti itu dan Laura terus menjadi orang yang harus ada di samping Leo selamanya.


Wanita itu menatap ke arah ruang sakit yang saat ini menjadi tempat di mana Ke dirawat. Ia tersenyum lebar dan mengusap dadanya terlebih dahulu sebelum melangkah masuk.


Leo kita akan berjumpa lagi. Ingin sekali Laura mengatakannya dengan kencang dan memeluk tubuh pria itu tanpa ingin melepaskannya. Tapi apa boleh buat apa yang ia inginkan itu tidak akan mungkin terjadi sebab kondisi Leo yang sangat buruk.


Saat ini ia sangat mengharapkan Leo segera sadar dan orang yang pertama kali dilihat olehnya adalah dirinya. Sebut saja ia sangat melonjak dan menginginkan semuanya. Tapi apa yang akan terjadi nantinya Laura tidak akan tahu.


“Kenapa kau terus berdiri di depan pintu? Kau tahu mana bahwa kau telah menghalangi jalan orang lain?” seketika itu juga Laura langsung sadar dan mengetahui bahwa dirinya berdiri di tengah-tengah pintu dan sedang melamun.


Laura segera masuk ke dalam rumah sakit itu dan bertanya kepada suster untuk mengarahkan dirinya ke kamar nomor 402. Suster tersebut dengan baik mau membimbing Laura dan akhirnya wanita tersebut tetap berada di depan pintu yang bertuliskan angka 402.

__ADS_1


Jantung Laura berdetak bukan main. Ia sangat sakit hati tapi apa boleh buat dirinya selalu saja gugup saat bersama dengan Leo. Leo oh Leo kenapa kau begitu mampu membuat Laura yang dulunya sama sekali tidak mempedulikan mu ini sampai sebucin ini?


Laura sendiri pun tidak menyangka bahwa ia bisa bersikap seperti itu. Mengingat kembali tentang masa lalunya yang begitu membenci laki-laki tersebut dan terus berharap Leo bisa berhenti mengejarnya membuatnya kadang tertawa. Itulah yang akan ia ingat setiap kali ia merindukan laki-laki tersebut.


Laura memberanikan diri mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu itu.


Tok


Tok


Tok


Pintu ruangan tersebut dibuka dan Laura bisa melihat dengan jelas penghuninya di dalam sana. Wanita itu memandang ke arah Nisa yang sedang menjaga Leo. Rupanya lewat tidak menyadari kehadirannya dan Nisa yang melihat kehadiran Laura lantas langsung menjauh dari Leo dan menentukan kepalanya seakan-akan tertangkap basah telah melakukan hal yang tidak tidak dengan Leo.


Padahal wanita itu melihat dengan jelas bahwa sebenarnya Nisa menjaga Leo seperti biasanya dan tidak ada yang aneh. Kebiasaan wanita itu selalu menganggap rendah dirinya.


“Nisa dia sudah sadarkan diri?” tanya Laura dengan pandangan berwinar melihat Leo yang sudah semakin baik dan bahkan wajahnya yang dulu penuh dengan bengkak-bengkak memar tersebut sudah tidak ada lagi.


“Dia sudah sadarkan diri beberapa minggu lalu dan kesehatannya mulai semakin membaik.”

__ADS_1


Leo lantas tertarik dengan pembicaraan tersebut dan menolehkan kepalanya ke arah Laura. Laura tersenyum menyapa laki-laki tersebut namun Leo tampak melarutkan keningnya.


“Nisa dia siapa? Apakah salah satu kerabatku?”


Awalnya Leo juga tidak mengetahui Nissa siapa namun telah dikenalkan oleh ibunya maka membuat ia dan Nisa semakin akrab. Nisa menundukkan kepalanya dan mengintip ke arah Laura yang tampak sangat sedih ketika Leo tidak mengenalnya.


“Dia adalah salah satu orang yang penting bagi hidupmu. Dia adalah kekasihmu.”


Tentu saja Leo sangat terkejut dan memandang ke arah Laura dengan seksama seperti tengah menyelidiki. Tapi ya sama sekali tidak merasakan getaran cinta kepada Laura mungkin karena ingatannya yang sudah hilang.


“Pada akhirnya kau tidak akan pernah mengingatku siapa. Tatapan mu juga sudah berbeda. Tapi tidak apa aku akan berusaha untuk mengingatkanmu tentang masa lalu.”


Nisa lantas langsung memandang ke arah Laura. Ia terkadang juga ingin egois dan merebut Leo untuk dirinya. Apalagi Leo sudah hilang ingatan dan tidak mengingat Laura dan bisa saja hati pria itu berubah.


••••••


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2